Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travel. Tampilkan semua postingan

Wajah Toleransi di Karangturi

Written By Maulana Robby on Senin, 26 September 2016 | 07.03.00

Aktifitas warga Desa Karangturi, Lasem, Rembang, Jawa Tengah

Pos Kamling di Desa Karangturi

Musala di Pesantren Kauman

Gereja di Desa Karangturi

Klenteng di Desa Karangturi

Wihara di Desa Karangturi

Memelihara toleransi antarumat beragama, etnis, dan budaya di Indonesia tidaklah sulit. Kita hanya perlu lakukan apa yang sudah dicontohkan oleh nenek moyang kita. Setidaknya itulah yang dikatakan Gus Zaim, pengasuh Pondok Pesantren Kauman, Desa Karangturi, Lasem, Jawa Tengah.

Desa Karangturi merupakan refleksi dari toleransi. Bangunan khas China dan budaya masyarakat jawa membaur menjadi satu. Pondok Pesantren Kauman salah satunya, pesantren ini berdiri dan hidup berdampingan di tengah kampung pecinan Desa Karangturi, Lasem.

Gerbang pintu pesantren tersebut contohnya, pintu besar berwarna hijau dengan dua ukiran kalimat China menjadi hal yang menarik perhatian. Gus Zaim mengatakan, arti dari kedua kalimat itu masalah "panjang umur setinggi gunung" dan "luas rezeki sedalam lautan."

Selain itu, Desa yang terletak di Kota Rembang ini juga memiliki tempat beribadah bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia. Masjid, Gereja, Klenteng, dan Wihara yang berdiri di desa ini seolah menegaskan bahwa perbedaan tak menjadi kendala untuk hidup rukun.

Melalui arsitektur di desa ini, kita bisa melihat perpaduan beragam budaya, agama, dan ras menjadi indah. Kuncinya yaitu hidup saling membantu dan satu tujuan menuju kebaikan.

Desa Karangturi mengajarkan bahwa perbedaan tidak menjadi pembatas di dalam kehidupan sosial masyarakat. Bisa dibilang desa ini adalah ikon toleransi di Indonesia. Beragam agama, etnis dan budaya bisa hidup saling menebar senyum tanpa memandang minoritas atau mayoritas, pun pribumi dan non pribumi.


(Denny Aprianto)


Little Venice, Rasa Indonesia Nuansa Italia

Written By Maulana Robby on Senin, 13 April 2015 | 12.55.00



Keindahan Kota Venesia di Italia telah menjadi primadona bagi pelancong mancanegara. Kota  berjuluk The City Of Adriatic itu menyajikan panorama khas abad pertengahan. Dibangun  di atas 120 pulau, Venesia dilalui oleh kanal-kanal kecil dengan perahu gondola yang berlalulalang. Dengan keindahan yang ada tak sedikit orang menyebut Venesia sebagai kota paling romantis di negara pizza itu.

Namun, untuk menikmati keindahan Kota Venesia tak perlu lagi jauh-jauh ke Italia. Kini romantisme khas Kota Venesia tersaji di tengah-tengah hawa dingin Puncak, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

Bertepat di kawasan rekreasi Kota Bunga, Little Venice hadir memberikan nuansa Kota Venesia Italia. Pengunjung bisa menikmati  kekhasan Kota Venesia seraya merasakan hawa tropis Indonesia. Di tepi sungai berderet bangunan restoran, toko pernak-pernik, dan rumah multifungsi bergaya Eropa. 

Untuk mengelilingi Littlle Venice pengunjung dapat menggunakan perahu gondola, kapal Mississippi, dan perahu bebek hanya dengan Rp 20 ribu hingga Rp 80 ribu per orang. Ditambah iringan lagu klasik Eropa, suasana pun terasa semakin syahdu. “Ketika berada di sini, serasa berada di Italia. Apalagi dengan adanya lagu-lagu seriousa, suasana jadi semakin indah,” tutur Fazriah, salah seorang pengunjung.

Fazriah mengatakan, denyut romantisme semakin terasa ketika perjalan mengarungi sungai sampai pada air terjun buatan. “Di sana kita diperbolehkan turun dari perahu dan berfoto ria,” ujarnya.

Selain menyuguhkan wahana air, pengunjung juga bisa menikmati wahana lainnya seperti Rio Grande atau kereta mini, bumper car, antique car, jet fighter, bumper boat, tic-tac wheel, dan venture river. Harga tiket masuk dan tiket untuk setiap wahana beragam, mulai dari  Rp 15 ribu hingga Rp 40 ribu per orang.

Bagi anda yang ingin menikmati hari libur, Little Venice Kota Bunga layak menjadi tempat untuk menghilangkan penat.

(Fakhrizalhaq)



Menikmati Keindahan Panorama Pulau Pramuka

Written By Maulana Robby on Kamis, 30 Oktober 2014 | 11.29.00



Kepulauan seribu sebagai salah satu destinasi wisata andalan di Ibukota Jakarta memiliki panorama alam menajubkan. Salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu yang cukup menarik perhatian wisatawan adalah Pulau Pramuka.

Pulau Pramuka merupakan pusat pemerintahan administrasi kabupaten kepulauan seribu. Pulau dengan luas sekitar 16 hektar ini menawarkan panorama pantai yang menarik minat wisatawan untuk datang ke Pulau Pramuka.

Di pulau ini terdapat taman konservasi tanaman mangrove, yaitu berupa hutan yang berada tepat di depan Kantor Taman Nasional Kepulauan Seribu. Saat air pasang wisatawan bisa mengelilingi taman mangrove tersebut dengan menggunakan kano. Namun ketika air sedang suruttaman mangrove dapat  dikelilingi dengan berjalan kaki.

Selain itu, yang tidak kalah menarik dari Pulau Pramuka dan patut untuk wisatawan kunjungi adalah tempat penakaran penyu sisik. Tempat  tersebut dibuat untuk menjaga penyu sisik dari kepunahan populasinya. Di sana penyu-penyu sisik dirawat, dikembang biakan, dan dilindungi .

Selain tempat konservasi, pengunjung juga dimanjakan dengan pemandangan bawah laut yang sayang jika dilewatkan. Dengan snorkeling pengunjung dapat melihat panorama bawah laut seperti terumbu karang, rumput laut, dan berbagai macam ikan hias yang menawan. Air laut Pulau Pramuka yang cukup tenang akan membuat snorkeling menjadi lebih aman dan nyaman.

Pulau Pramuka memiliki fasilitas yang cukup lengkap, yaitu penginapan, rumah sakit, bank, kantor pos, masjid, lapangan olah raga, serta diving dan snorkeling center dapat dengan mudah pengunjung temukan di pulau tersebut.

 Untuk sampai di sana wisatawan bisa naik perahu Dolpin daripelabuhan Muara Angke dengan tarif 35.000 rupiah atau kapal cepat dari Marina Ancol, namun dengan tarif yang lebih tinggi tentunya.

Liburan akan terasa semakin sempurna dengan duduk santai menikmati senja menanti terbenamnya matahari di dermaga Pulau Pramuka. (Bisri)


Rileksasi ala sungai Citatih

Written By Maulana Robby on Sabtu, 25 Oktober 2014 | 06.44.00



Wush, wush, suara deras aliran Sungai Citatih memecah keheningan pagi di Desa Bojong Kerta, kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Desa yang memiliki pemandangan alam sangat menawan dikelilingi rimbun pepohonan hijau dan bukit-bukit ini, mempunyai daya hipnotis tersendiri bagi para pengunjung yang ingin berlibur. Lebih lagi, lokasinya yang jauh  dari hiruk pikuk  dan keramainan kota.

Di Sungai Citatih ini, saya mencoba salah satu wahana yang disediakan oleh pengelola sungai yaitu Niagara Arum Jeram. Melalui boat, saya menulusuri derasnya sungai Citatih sepanjang 12 kilometer. Benar saja, suara deras aliran sungai Citatih kian pecah seiring riuhnya teriakan para pengunjung.

Gelak tawa pengunjung pun tak terelakan ketika boat yang saya tumpangi menabrak batu hingga terbalik akibat tak sanggup menahan derasnya aliran sungai. Tak jarang pula pengunjung yang menaiki boat harus terlempar ke sungai karena tak bisa menahan beban tubuhnya sendiri. Tapi tenang, jika bicara keamanan, Niagara Arum Jeram memberikan pelayanan kelas nomor wahid. “Di sini, kami (pengelola) akan memberikan fasilitas dan kemanan secara total bagi para pengunjung” ujar  salah satu pengelola wahana, Boby Alamsyah.

Di sela-sela berarum jeram, para pengunjung akan singgah di beberapa titik untuk sekadar beristirahat dan menikmati suguhan makanan-makanan tradisional khas bumi padjadjaran seperti bandrek, goreng peyeum (tape), bajigur, dan kopi hitam khas Sukabumi.

Tak hanya sajian makanan tradisional khas Sukabumi, suguhan pemandangan  sungai Citatih hingga Cimandiri pun tak kalah menarik perhatian. Batu-batu dan bukit-bukit di pinggiran sungai bak menyapa saya lewat visualisasi alam. Ramah sangat, kota ini!

Setibanya di hulu sungai, rasa penat perkotaan seolah tersulap dengan kenikmatan rileksasi alam Bumi Padjadjaran. Senyum kecil para pengunjung laiknya menggambarkan kepuasan dan ketakjuban luar biasa terhadap kebesaran Tuhan. Sungguh akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi siapapun yang berkunjung ke sini.

Di akhir perjalan, kita akan diajak pihak pengelola kembali ke hilir. Saat perjalanan pulang, pengunjung juga bisa  menikmati pemandangan khas alam Sukabumi yaitu sunset yang sangat mempesona. Terlebih, bila melihat pemandangan matahari senja yang perlahan tenggelam di hamparan sawah berlatar laut pelabuhan ratu Sukabumi. I’ts amazing! (Fakhrizalhaq)
 
Copyright © 2011. Catatan Jurnalistik - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Tum hi ho lyrics | How to get rid of hiccups

Proudly powered by Blogger