Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
13.21.00
Sutradara : Steven Spielberg
Produser : Kristie Macosko Krieger, Marc Platt, Steven Spielberg
Produksi : Amblin Entertainment, DreamWorks Pictures, Fox 2000 Pictures, Reliance Entertainment
Pemain Film : Tom Hanks, Mark Rylance, Amy Ryan, Alan Alda
Rilis : 16 Oktober 2015 (USA)
Harga Sebuah Kebenaran
Kisah Budak Belian Merebut Kemerdekaan
Narasi Pembebasan Mata-mata Perang dingin
Written By Maulana Robby on Minggu, 07 Februari 2016 | 13.21.00
Tugas seorang advokat atau pengacara adalah memberi pendampingan hukum kepada kliennya. Namun bagaimana jika klien itu adalah seorang mata-mata? Hal tersebut dialami James Britt Donovan yang diperankan Tom Hanks dalam film Bridge of Spies. James merupakan seorang pengacara asal Amerika serikat. Ia menjadi pengacara Rudolf Abel, mata-mata Uni Soviet yang ditangkap agen Federal Bureau of Investigation (FBI).
Kegiatan spionase antara Amerika Serikat dan Uni Soviet gencar terjadi saat puncak perang dingin. Meski tidak terlibat perang terbuka di antara kedua militer, Amerika Serikat dan Uni Soviet takut akan potensi ancaman nuklir masing-masing. Untuk itu, keduanya saling memata-matai dan saling tangkap agen rahasia.
James awalnya ragu menerima tugas mendampingi proses hukum orang yang paling dibenci warga Amerika saat itu. Keluarga James pun menolak. Namun, dengan segala pertimbangan James akhirnya mau menjadi pengacara Rudolf Abel. Atas keputusannya, James harus menanggung sanksi sosial yang cukup berat, yakni dibenci warga Amerika. Keluarganya juga menanggung hal itu dengan mendapat teror penembakan oleh orang tak dikenal.
Kisah James tidak berhenti sebagai pengacara kontroversial. Central Intelligence Agency (CIA) meminta James menjadi negosiator untuk menukar Rudolf Abel dengan Francis Gary Powers, pilot mata-mata Amerika yang pesawatnya ditembak jatuh Uni Soviet. Pertukaran tersebut mengharuskan James pergi ke Berlin, Jerman. Selain piawai menjadi pengacara, James juga berhasil menjadi negosiator andal. Alhasil, tak hanya mampu menukar Powers, James juga berhasil membebaskan Frederic Pryor, mahasiswa Amerika yang ditahan Jerman Timur.
Dalam film ini, Tom Hanks mampu memerankan sosok pengacara yang bijak, tegas, dan berani. Hal itu dapat dilihat saat James menolak membuka rahasia pembicaraan dengan kliennya kepada seorang agen CIA. James benar-benar menerapkan asas profesionalitas dengan menjaga hak istimewa klien dan pengacara. Tentu saja, semua itu berkat arahan sang sutradara kenamaan, yakni Steven Spielberg.
Perlu diketahui film berdurasi lebih dari dua jam ini diambil dari kisah nyata. Latar film ini memberi kita gambaran kecil mengenai kondisi maupun kejadian-kejadian pada saat perang dingin. Steven Spielberg juga merangkai alur cerita begitu menguras emosi penonton. Misalnya saja saat adegan pesawat Amerika yang ditembak jatuh atau saat pembangunan tembok berlin yang memisahkan warga Jerman Barat dan Timur.
Kemudian, secara tidak langsung film ini memberi citra bahwa Amerika sebagai negara adidaya yang menghargai hukum dan kemanusiaan. Meski Rudolf Abel seorang mata-mata, ia tetap diperlakukan baik selama proses peradilan. Sementara berbeda dengan penggambaran Francis Gary Powers yang ditahan Soviet. Powers diperlakukan kurang begitu menyenangkan oleh pihak komunis Soviet. Walau demikian, setidaknya film ini memberi kita pelajaran tentang profesionalitas kerja dan kecintaan terhadap negara. (KR)
Sutradara : Steven Spielberg
Produser : Kristie Macosko Krieger, Marc Platt, Steven Spielberg
Produksi : Amblin Entertainment, DreamWorks Pictures, Fox 2000 Pictures, Reliance Entertainment
Pemain Film : Tom Hanks, Mark Rylance, Amy Ryan, Alan Alda
Rilis : 16 Oktober 2015 (USA)
Baca juga:
Long March 50 mil Untuk Mendapatkan Hak MemilihHarga Sebuah Kebenaran
Kisah Budak Belian Merebut Kemerdekaan
08.00.00
David Oyelowo berhasil memerankan sosok Martin Luther King sebagai pribadi yang cerdas, pandai strategi, dan memiliki sisi humanis yang tinggi. Film berdurasi 128 menit ini juga masuk dalam nominasi Oscar 2015 kategori film terbaik dan soundtrack terbaik.
(Denny Aprianto)
Long March 50 mil Untuk Mendapatkan Hak Memilih
Written By Maulana Robby on Sabtu, 20 Juni 2015 | 08.00.00
Setiap warga negara memiliki hak untuk terlibat dalam pemilihan umum, tak terkecuali ras negro yang tinggal di selatan Amerika Serikat. Namun kenyataan berbanding terbalik. Pada tahun 1965, terjadi diskriminasi rasial terhadap warga keturunan Afrika-Amerika yang tinggal di kota Selma, Alabama. Ras negro dilarang untuk berpatisipasi dalam pemilihan umum.
Ketidakadilan tersebut menyentuh hati Martin Luther King, seorang aktivis hak asasi manusia keturunan negro. Sebagai penerima penghargaan nobel perdamaian, King mempunyai akses untuk meminta langsung kepada presiden Amerika Serikat pada saat itu, Lyndon B. Johnson guna menyelesaikan permasalahan rasisme tersebut. Namun, jawaban Presiden Johnson tidak memuaskan King, akhirnya ia memutuskan untuk datang langsung ke kota Selma.
King tiba di Selma bersama tim yang tergabung di Southern Christian Leadership Conference (SCLC) dan seorang propagandis bernama Diane Nash. Namun, sesampainya di hotel, King disambut dengan perlakuan tidak sopan seorang kulit putih yang melayangkan pukulan tepat ke wajahnya.
King dan SCLC berupaya menjadikan kekerasan ras di kota Selma sebagai headline di koran nasional agar diketahui masyarakat luas. Mereka memanfaatkan Jim Clark, Sheriff di kota tersebut agar memberikan kekerasan kepada para negro.
Setelah menjadi headline koran nasional, King dimasukan ke penjara oleh George Wallace, Gubernur Alabama dengan tuduhan membuat keributan negara. King dikeluarkan dari penjara dan kembali ke Washington untuk meminta bantuan Presiden Johnson untuk kedua kalinya.
Di Selma, 525 warga negro meninggalkan gereja Capel Brown dan berjalan enam blok menyebrangi Jembatan Edmund Pettus dan Sungai Alabama untuk melakukan unjuk rasa di Montgomery, Ibukota Alabama. Namun, aksi mereka gagal karena di pukul mundur oleh aparat keamanan di Jembatan Edmund Pettus.
Mereka mendapat kekerasan fisik , didorong hingga terjatuh, bahkan dipukuli menggunakan tongkat oleh aparat. Akibatnya, banyak dari mereka yang menderita patah tulang rusuk, kepala, lengan, dan kaki. Kerusuhan tersebut disiarkan langsung melalui televisi secara langsung.
King mengadakan jumpa pers dan disiarkan secara nasional. Ia mengajak semua orang baik yang percaya akan kesetaraan untuk bergabung dengannya melakukan unjuk rasa kembali. Ratusan orang kulit putih dan ulama memutuskan untuk datang ke Selma mendukung aksi King.
Pada unjuk rasa kedua, aparat keamanan di Jembatan Edmund Pettus memberi jalan kepada King dan pengunjuk rasa lainnya untuk lewat. Namun, King memilih mundur karena berpikir ini adalah jebakan yang berujung pertumpahan darah dan kematian.
Kemudian, Pengadilan Federal memenangkan gugatan banding SCLC kepada pemerintah Alabama terkait izin berdemonstrasi, King dan warga negro mendapatkan izin lima hari untuk melakukan long march sejauh 50 mil dari kota Selma menuju Ibu Kota Montgomery.
Akhirnya, King berpidato di depan gedung pemerintahan Alabama. Di hadapan ratusan negro, ia menyerukan kesetaraan hak tiap warga negara tanpa terkecuali. Berkat kegigihan King, lima bulan kemudian Presiden Johnson menandatangani Undang-Undang Hak Memilih.
Perjuangan Martin Luther King dikisahkan dalam film berjudul Selma. Ava DuVernay sebagai sutradara sukses mengemasnya dengan alur yang tidak membosankan. Film ini dapat mengingatkan kembali tentang sejarah kelam ras kulit hitam di Amerika Serikat.
David Oyelowo berhasil memerankan sosok Martin Luther King sebagai pribadi yang cerdas, pandai strategi, dan memiliki sisi humanis yang tinggi. Film berdurasi 128 menit ini juga masuk dalam nominasi Oscar 2015 kategori film terbaik dan soundtrack terbaik.
(Denny Aprianto)
12.58.00
Tugas seorang reporter di sebuah perusahaan penyiaran adalah mencari informasi yang bertujuan untuk menyampaikan kebenaran. Seperti halnya Choi In Ha, seorang perempuan muda yang bekerja sebagai reporter di stasiun televisi MSC mengidap Sindrom Pinocchio, yakni sebuah sindrom yang membuat Choi In Ha cegukan jika berbohong. Sedangkan Choi Dal Po adalah seorang lelaki muda yang bekerja sebagai reporter di stasiun televisi YGN. Tetapi, anehnya Ia membenci dunia penyiaran karena membuat hancur keluarganya.
Ketika Choi Dal Po kecil, terjadi ledakan pabrik yang menyebabkan beberapa petugas pemadam kebakaran meninggal dunia. Lalu kepala pemadam kebakaran tersebut, yang merupakan Ayah Choi Dal Po dituduh tidak bertanggungjawab dan melarikan diri. Di sini Peran media justru menyudutkan pihak keluarga Choi Dal Po sehingga ibunya bunuh diri.
Beberapa tahun kemudian, Choi Dal Po dan Choi In Ha tumbuh remaja dan tertarik dengan dunia penyiaran. Choi Dal Po memiliki tekad, dia ingin membuktikan ke dunia bahwa seorang jurnalis haruslah jujur dan memberitakan berita sesuai fakta. Dia diterima di stasiun televisi YGN dengan mudah karena ia seorang yang pandai. Sedangkan Choi In Ha yang bercita-cita menjadi reporter sejak kecil, memiliki kesulitan dengan Sindrom Pinocchio-nya. Sehingga stasiun televisi YGM menolak dan akhirnya diterima di MSC berkat ibunya yang merupakan peminpin redaksi media tersebut.
Beberapa saat setelah keduanya menjadi reporter masing-masing stasiun televisi tersebut, terjadi sebuah kasus kebakaran pabrik yang mirip dengan kasus 13 tahun sebelumnya, ketika Ibu dari Dal Po meninggal. MSC berusaha mengalihkan isi berita tersebut agar tidak diketahui apa penyebab kebakaran itu. Tetapi, Choi Dal Po dan Choi In Ha mengetahui kejanggalan cerita yang dibuat-buat dalam kasus tersebut. Sebagai reporter profesional, mereka merasa harus mencari kebenaran tentang penyebab kebakaran pabrik tersebut.
Setelah diselidiki, akhirnya terbongkarlah semua tentang kecurangan stasiun televisi MSC yang selama ini mendramatisir pemberitaan hanya demi ratting semata. Bahkan kasus ledakan pabrik 13 tahun sebelumnya juga ikut terbongkar. Sebuah perusahaan memperalat stasiun televisi MSC untuk membuat opini publik dengan mengalihkan isi pemberitaan. Setelah terbongkarnya kasus tersebut, masyarakat mengetahui bahwa selama ini MSC banyak melakukan kebohongan publik.
Drama Pinocchio ini ditulis oleh Park Hye Ryun, seorang penulis yang memiliki karakter dengan dunia fantasi dalam ceritanya. Salah satunya fantasi mengenai sindrom Pinocchio dalam drama ini. Bahkan dia juga membubuhkan dunia fantasinya dalam drama lain yang Ia tulis yaitu I Hear Your Voice. Selain itu, Park Hye Ryun juga menulis beberapa drama lainnya seperti Dream High, Kimchi Cheese Smile, Karl and Su-jung, Stranger Than Paradise, Not Alone, dan sebuah film berjudul Hellcats.
Pemilihan karakter dalam film ini tepat sehingga terlihat natural dalam tiap adegan ceritanya. Mulai dari pemeran utama, hingga pemeran pendukung pun berkarakter. Sutradara memilih banyak aktris terkenal dalam drama Pinocchio ini. Selain itu, kita mengetahui banyak hal baru tentang dunia penyiaran yang belum kita ketahui sebelumnya.
Hal yang disayangkan dari drama ini adalah panjangnya episode tidak diiringi dengan keragamaman cerita, tetapi hal tersebut terbayar dengan banyaknya pesan moral yang dapat diperoleh dari drama Pinocchio. Seperti bagaimana media penyiaran seharusnya netral dalam menyampaikan isi berita tanpa memihak siapapun, karena media adalah mata, telinga, dan mulut masyarakat.
Tidak hanya untuk kalangan media saja, drama Korea ini juga cocok ditonton oleh semua kalangan. Karena dalam drama ini bercerita, bagaimana seorang reporter dalam menyampaikan berita. (Eva Agustina A)
Harga Sebuah Kebenaran
Written By Maulana Robby on Selasa, 07 April 2015 | 12.58.00
Tugas seorang reporter di sebuah perusahaan penyiaran adalah mencari informasi yang bertujuan untuk menyampaikan kebenaran. Seperti halnya Choi In Ha, seorang perempuan muda yang bekerja sebagai reporter di stasiun televisi MSC mengidap Sindrom Pinocchio, yakni sebuah sindrom yang membuat Choi In Ha cegukan jika berbohong. Sedangkan Choi Dal Po adalah seorang lelaki muda yang bekerja sebagai reporter di stasiun televisi YGN. Tetapi, anehnya Ia membenci dunia penyiaran karena membuat hancur keluarganya.
Ketika Choi Dal Po kecil, terjadi ledakan pabrik yang menyebabkan beberapa petugas pemadam kebakaran meninggal dunia. Lalu kepala pemadam kebakaran tersebut, yang merupakan Ayah Choi Dal Po dituduh tidak bertanggungjawab dan melarikan diri. Di sini Peran media justru menyudutkan pihak keluarga Choi Dal Po sehingga ibunya bunuh diri.
Beberapa tahun kemudian, Choi Dal Po dan Choi In Ha tumbuh remaja dan tertarik dengan dunia penyiaran. Choi Dal Po memiliki tekad, dia ingin membuktikan ke dunia bahwa seorang jurnalis haruslah jujur dan memberitakan berita sesuai fakta. Dia diterima di stasiun televisi YGN dengan mudah karena ia seorang yang pandai. Sedangkan Choi In Ha yang bercita-cita menjadi reporter sejak kecil, memiliki kesulitan dengan Sindrom Pinocchio-nya. Sehingga stasiun televisi YGM menolak dan akhirnya diterima di MSC berkat ibunya yang merupakan peminpin redaksi media tersebut.
Beberapa saat setelah keduanya menjadi reporter masing-masing stasiun televisi tersebut, terjadi sebuah kasus kebakaran pabrik yang mirip dengan kasus 13 tahun sebelumnya, ketika Ibu dari Dal Po meninggal. MSC berusaha mengalihkan isi berita tersebut agar tidak diketahui apa penyebab kebakaran itu. Tetapi, Choi Dal Po dan Choi In Ha mengetahui kejanggalan cerita yang dibuat-buat dalam kasus tersebut. Sebagai reporter profesional, mereka merasa harus mencari kebenaran tentang penyebab kebakaran pabrik tersebut.
Setelah diselidiki, akhirnya terbongkarlah semua tentang kecurangan stasiun televisi MSC yang selama ini mendramatisir pemberitaan hanya demi ratting semata. Bahkan kasus ledakan pabrik 13 tahun sebelumnya juga ikut terbongkar. Sebuah perusahaan memperalat stasiun televisi MSC untuk membuat opini publik dengan mengalihkan isi pemberitaan. Setelah terbongkarnya kasus tersebut, masyarakat mengetahui bahwa selama ini MSC banyak melakukan kebohongan publik.
Drama Pinocchio ini ditulis oleh Park Hye Ryun, seorang penulis yang memiliki karakter dengan dunia fantasi dalam ceritanya. Salah satunya fantasi mengenai sindrom Pinocchio dalam drama ini. Bahkan dia juga membubuhkan dunia fantasinya dalam drama lain yang Ia tulis yaitu I Hear Your Voice. Selain itu, Park Hye Ryun juga menulis beberapa drama lainnya seperti Dream High, Kimchi Cheese Smile, Karl and Su-jung, Stranger Than Paradise, Not Alone, dan sebuah film berjudul Hellcats.
Pemilihan karakter dalam film ini tepat sehingga terlihat natural dalam tiap adegan ceritanya. Mulai dari pemeran utama, hingga pemeran pendukung pun berkarakter. Sutradara memilih banyak aktris terkenal dalam drama Pinocchio ini. Selain itu, kita mengetahui banyak hal baru tentang dunia penyiaran yang belum kita ketahui sebelumnya.
Hal yang disayangkan dari drama ini adalah panjangnya episode tidak diiringi dengan keragamaman cerita, tetapi hal tersebut terbayar dengan banyaknya pesan moral yang dapat diperoleh dari drama Pinocchio. Seperti bagaimana media penyiaran seharusnya netral dalam menyampaikan isi berita tanpa memihak siapapun, karena media adalah mata, telinga, dan mulut masyarakat.
Tidak hanya untuk kalangan media saja, drama Korea ini juga cocok ditonton oleh semua kalangan. Karena dalam drama ini bercerita, bagaimana seorang reporter dalam menyampaikan berita. (Eva Agustina A)
Judul : Pinocchio
Genre : Drama, Romance, Komedi, Kekeluargaan
Tanggal Rilis : 12 November 2014
Sutradara : Jo Soo Won
09.20.00
Kisah Budak Belian Merebut Kemerdekaan
Written By Maulana Robby on Minggu, 16 Maret 2014 | 09.20.00
Bagi musisi Solomon Northup, menjadi seorang budak bukanlah pilihan. Berawal dari tawaran dua orang pencari bakat, Solomon diminta untuk memainkan biola dalam pertunjukan sirkus di Washington. Diiming-imingi upah satu dolar perhari, Solomon pun menerima tawaran tersebut, dan pergi ke Washington.
Sial bagi Solomon. Sesampainya di Washington, bukan pundi uang atau tepuk tangan penonton sirkus yang didapat. Ia justru dikurung dalam sebuah ruangan gelap mirip penjara dengan kaki dan tangan yang dirantai. “Aku orang merdeka. Kau tak punya hak menangkapku,” kata Solomon kepada dua orang penjaga ruangan.
Kisah perbudakan dimulai dengan tawar-menawar seorang tuan tanah dengan pedagang manusia. Solomon pun dijual bak sebuah barang. Nama Solomon diganti menjadi Platt untuk menyembunyikan identitas aslinya. Solomon sempat beberapa kali berganti tuan. Terakhir kepemilikan atas diri Solomon milik seorang tuan tanah bernama Edwin Epps. Sang tuan yang dikenal sebagai “Penghancur Negro” ini sangat kejam. Setiap kesalahan yang dilakukan para budak, mereka harus membayarnya dengan pukulan dan dicambuk hingga terluka.
Film berjudul 12 Years a Slave ini mengisahkan praktik perbudakan yang terjadi pada abad ke-19 di Amerika Serikat. Diangkat dari kisah nyata Solomon Northup yang diperankan oleh Chiwetel Ejiofor, adalah seorang budak yang berusaha mendapatkan kembali kemerdekaannya.
Judul 12 Years a Slave diambil dari buku yang ditulis sendiri oleh Solomon Northup dengan judul yang sama. Buku ini ditulis setelah ia bebas dari perbudakan selama duabelas tahun. Plot yang disusun dengan efisien menyajikan Unsur kemanusiaan dari awal hingga akhir film berdurasi 134 menit.
Penggambaran kisah perbudakan yang menyentuh rasa kemanusiaan, telah membawa film garapan sutradara Steven McQueen memenangkan piala oscar tahun 2014 kategori film terbaik. Untuk sebuah karya, film ini sangat layak dijadikan pembelajaran, bahwa praktik perbudakan sangat tidak dibenarkan. (KR) JL



