Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Ragam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ragam. Tampilkan semua postingan

Tarian Balet Si Kabayan

Written By Maulana Robby on Sabtu, 12 Desember 2015 | 14.51.00



Hamparan sawah dengan padi yang hijau divisualkan tiga buah proyektor di ujung ruangan. Tak lama, sebuah cahaya menyoroti seorang pemuda dengan ikat kepala dan kain sarung melintang di badannya. Diiringi alunan musik bernuansa Sunda, Ia menari sembari bertingkah layaknya orang bingung. Kabayan namanya. Pemuda desa yang jujur dan lugu dengan gigih memperjuangkan cintanya kepada Nyi Iteung.

Demi bisa meminang hati Nyi Iteung, Kabayan rela berkeliling Nusantara untuk mencari harta karun. Harta karun tersebut akan menjadi hadiah perkawinan yang berharga, dan mewujudkan impian Kabayan untuk hidup bersama Nyi Iteung.

Itulah penggalan kisah Si Kabayan dari pementasan tari balet oleh Marlupi Dance Academy (MDA) di Galeri Indonesia Kaya, Sabtu  (21/11). Balet biasa disajikan dengan kisah dan musik klasik. Namun, di tangan MDA pementasan balet dikemas berbeda. Dengan kolaborasi cerita rakyat dan musik tradisional Indonesia, tari balet tampil begitu apik dan bercitarasa nusantara.

“Si Kabayan tidak harus ada cerita tertentu, seperti cerita balet biasanya yang sudah ada repertoarnya.  Jadi lebih memudahkan kita untuk mengkreasikan dalam balet. Jadi dengan cerita yang simple tapi fun dan bisa memasukkan semua unsur saya rasa ya Kabayan pilihan kita,” ujar Fifi Sijangga, Managing Director MDA.

Fifi mengatakan, pertunjukan ini merupakan cara yang unik untuk mengangkat dan memperkenalkan kembali cerita rakyat agar terlihat lebih segar. “Penonton dimanjakan dengan penampilan tari dari setiap daerah yang disinggahi oleh Kabayan, seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Suguhan tari balet kontemporer memukau penonton, selaras dipadukan dengan tarian khas dari setiap pulau tersebut,” paparnya.

Kostum dan musik menjadi sebuah tantangan tersendiri dalam pentas balet Si Kabayan. Kostum dibuat sedemikian rupa menjadi pakaian tradisional Indonesia dengan sedikit penyesuaian agar tidak menghambat gerak penari. “Sedangkan musik juga dibuat sesuai dengan alur cerita dan diselaraskan dengan mempadu padankan musik tradisional,” kata Fifi.

Tanpa terpaku dengan alur cerita, di sela pertunjukkan diselipkan penampilan balerina cilik sebagai variasi. Penonton disuguhkan dengan tingkah menggemaskan anak-anak berumur kurang dari lima tahun tersebut. Dengan kostum rok tutu, mereka lincah menarikan gerakan balet diiringi lagu anak-anak.

“Pementasan yang menarik, apalagi pas bagian balerina ciliknya. Kostum balet yang dipakai juga mencirikan Indonesia. pementasan yang patut diapresiasi,” ujar Mona, salah seorang pengunjung. 
Petualangan Kabayan berakhir ketika harta karun yang dicari telah ia temukan. Kabayan pun segera menyunting Nyi Iteung. Cerita ditutup dengan pernikahan Kabayan dan Nyi Iteung. Dengan kostum pengantin bernuansa putih, keduanya menari indah.

Tidak kurang dari 50 siswa terbaik MDA turut berperan dalam pementasan sore itu. Marlupi Dance Academy yang didirikan oleh Ny. Marlupi Sijangga pada tahun 1956 merupakan sekolah balet tertua dan terbesar di Indonesia. Hasil kerja keras Ny. Marlupi selama 60 tahun telah menghasilkan banyak penari dan pengajar dengan standar internasional.

“Senang sekali mendapat kesempatan untuk menampilkan pertunjukan Si Kabayan pada sore hari ini. Saya harap para penikmat seni yang hadir di auditorium Galeri Indonesia Kaya dapat terhibur. Selain itu, harapan saya para penikmat seni lebih mengenal dan memiliki minat untuk mempelajari balet, yang sudah menjadi bagian dari hidup saya,” ujar Marlupi Sijangga, pemilik Sekolah Tari MDA. (Agung/Boja)

Berkebun Tidak Mesti di Lahan yang Luas

Written By Maulana Robby on Sabtu, 20 Juni 2015 | 08.39.00



Umumnya kegiatan berkebun memerlukan lahan yang luas. Namun, dengan lahan yang sempit, bahkan tanpa lahan, berkebun tetap bisa dilakukan. Itulah paradigma yang ingin ditanamkan oleh  Komunitas Indonesia Berkebun kepada masyarakat.

Penggiat Indonesia Berkebun, Cindy mengatakan program yang diterapkan oleh komunitas ini adalah urban farming, yaitu berkebun di wilayah perkotaaan dengan memanfaatkan lahan yang ada. “Bertani atau berkebun tidak mesti di lahan yang sampai 1000 meter, tanpa lahan pun tidak masalah. Misalnya menggunakan pot atau botol air mineral,” tutur Cindy.

Cindy menjelaskan,  untuk berkebun di wilayah perkotaaan menanam sayur-mayur sangatlah cocok. Selain masa tanamnya yang tergolong singkat, sayur juga menyehatkan.  “Kami ingin memberikan pemahaman bahwa sayur itu bisa tumbuh di halaman rumah sendiri. Menanam sayur itu praktis, sehat, dan bisa meminimalisir budget,”  papar Cindy.

Komunitas yang sudah berdiri sejak Februari 2011 ini berusaha mengembalikan budaya yang dulu ada di Indonesia, yakni berkebun. “Berkebun termasuk gaya berpikir orang kampung. Kami ingin membalikkan pemikiran itu, bahwa berkebun tidak cuma di kampung tetapi juga kota,” tutur Cindy.

Dalam hal berkebun, komunitas ini menerapkan tiga konsep, yakni ekologi, ekonomi, dan edukasi. Melalui pendekatan tiga konsep tersebut, Komunitas Indonesia Berkebun bisa memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan  produktif dan melalui program akademi berkebun akan menciptakan lulusan eco – preuneur.

Dengan adanya komunitas ini, Cindy berharap masyarakat lebih menyadari arti penting berkebun. “Untuk melakukan kegiatan berkebun bisa dilakukan semua golongan, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Menanam sayur juga harus kembali digalakkan di kalangan masyarakat untuk kesehatan,” ujarnya.

(Aldiansyah Nurrahman)

Menyalurkan Hobi, Melestarikan Budaya Tari

Written By Maulana Robby on Minggu, 03 Mei 2015 | 11.01.00

 Sanggar Tari Ayunda Puspita menjadi juara umum dalam Black Sea Festival di Promosko, Bulgaria beberapa waktu lalu.


“Lenggak lenggok, di dalam air seperti ikan kecil dan hitam.Lenggak lenggok, di dalam air memakan akar pada tumbuhan.”

Lantunan lagu tersebut mengiringi anak-anak kecil berpakaian serba merah menarikan Tari Kecebong. Tanpa mengenakan alas kaki, gerakan tubuhnya luwes bergerak seirama dengan musik. Gelak tawa seketika pecah saat salah satu anak melakukan gerakan yang salah. Sementara itu, puluhan ibu  saling bercengkrama di sisi ruangan sambil memperhatikan buah hati mereka.

Momen tersebut, biasa dijumpai setiap Sabtu sore di Sanggar Tari Ayunda Puspita, Pamulang 2, Tangerang Selatan, Banten. Berdiri sejak 2 Oktober 1995, sanggar itu memiliki 53 murid yang terdiri atas tiga kelas, yaitu anak-anak, remaja, dan dewasa.

Rosmini, pemilik sekaligus pendiri sanggar menjelaskan, Sanggar Ayunda Puspita merupakan sarana untuk menyalurkan hobi menari dan mengenalkan tarian daerah kepada masyarakat. “Tari tradisional sudah mulai ditinggalkan masyarakat modern, kebetulan saya sangat senang menari tarian daerah, jadi saya bertekad melestarikannya,” ujar perempuan yang akrab disapa Ros.

Menurut Ros, menari bukan sekadar bergerak mengikuti irama lagu, ada pesan yang harus disampaikan dari tarian tersebut. “ Tarian adalah bagian dari jiwa saya, menari itu tidak sekedar menari, ada pesan yang disampaikan,” kata Ros.

Sanggar Ayunda Puspita mengusung konsep pelatihan berbasis pendidikan. Anak-anak tidak hanya diberikan materi tarian, mereka juga diajarkan tentang latar belakang dan sinopsis tarian tersebut. “Dengan begitu mereka akan paham secara mendalam tentang makna tarian itu,” ungkap Ros.

Selain itu, sanggar yang pernah dinaungi anjungan Jawa Timur tersebut juga mengajarkan kedisiplinan pada murid-muridnya, khususnya kelas anak-anak dan remaja. “Mereka yang masih sekolah kita ajarkan tentang bagaimana cara menghargai teman, menghormati orangtua dan guru,” tambahnya.

Kedisiplinan dan ketekunan mereka membuahkan hasil, Sanggar Ayunda Puspita pernah meraih beberapa prestasi dalam berbagai festival tari nasional dan internasional. Salah satunya ketika mereka mengikuti Black Sea Festival, Promosko, Bulgaria. “Kita berhasil menjadi juara umum di sana,” ujar Ros, sambil memperlihatkan foto saat mengikuti festival tersebut. 

Untuk bergabung dengan Sanggar Ayunda Puspita, kata Ros, tidak harus bisa menari. Mereka yang sama sekali belum pernah menari pun dapat bergabung dengan sanggarnya. “Tinggal datang dan isi formulir, nanti akan kita bimbing agar bisa menari dengan baik dan benar,” tutup Ros.

(Denny Aprianto)

Little Venice, Rasa Indonesia Nuansa Italia

Written By Maulana Robby on Senin, 13 April 2015 | 12.55.00



Keindahan Kota Venesia di Italia telah menjadi primadona bagi pelancong mancanegara. Kota  berjuluk The City Of Adriatic itu menyajikan panorama khas abad pertengahan. Dibangun  di atas 120 pulau, Venesia dilalui oleh kanal-kanal kecil dengan perahu gondola yang berlalulalang. Dengan keindahan yang ada tak sedikit orang menyebut Venesia sebagai kota paling romantis di negara pizza itu.

Namun, untuk menikmati keindahan Kota Venesia tak perlu lagi jauh-jauh ke Italia. Kini romantisme khas Kota Venesia tersaji di tengah-tengah hawa dingin Puncak, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

Bertepat di kawasan rekreasi Kota Bunga, Little Venice hadir memberikan nuansa Kota Venesia Italia. Pengunjung bisa menikmati  kekhasan Kota Venesia seraya merasakan hawa tropis Indonesia. Di tepi sungai berderet bangunan restoran, toko pernak-pernik, dan rumah multifungsi bergaya Eropa. 

Untuk mengelilingi Littlle Venice pengunjung dapat menggunakan perahu gondola, kapal Mississippi, dan perahu bebek hanya dengan Rp 20 ribu hingga Rp 80 ribu per orang. Ditambah iringan lagu klasik Eropa, suasana pun terasa semakin syahdu. “Ketika berada di sini, serasa berada di Italia. Apalagi dengan adanya lagu-lagu seriousa, suasana jadi semakin indah,” tutur Fazriah, salah seorang pengunjung.

Fazriah mengatakan, denyut romantisme semakin terasa ketika perjalan mengarungi sungai sampai pada air terjun buatan. “Di sana kita diperbolehkan turun dari perahu dan berfoto ria,” ujarnya.

Selain menyuguhkan wahana air, pengunjung juga bisa menikmati wahana lainnya seperti Rio Grande atau kereta mini, bumper car, antique car, jet fighter, bumper boat, tic-tac wheel, dan venture river. Harga tiket masuk dan tiket untuk setiap wahana beragam, mulai dari  Rp 15 ribu hingga Rp 40 ribu per orang.

Bagi anda yang ingin menikmati hari libur, Little Venice Kota Bunga layak menjadi tempat untuk menghilangkan penat.

(Fakhrizalhaq)



Kedjora, Warna Baru Musik Keroncong

Written By Maulana Robby on Kamis, 09 April 2015 | 03.45.00

Sundari Soekotjo dan Winda Viska menyapa penonton dalam acara Festival Musik Kedjora di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2015).

Petikan ukulele, gitar, selo, kontrabas, dan gesekan biola serta flute bersahutan mengiringi lengkingan suara Sundari Soekotjo. Ia menyanyikan lagu keroncong berjudul Sapu Lidi. Seketika riuh tepuk tangan penonton memecah keheningan Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2015).

Pengunjung kembali bersorak ketika Winda Viska melantunkan lagu Autumn Leaves, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Putri Tionghoa. Penyanyi sekaligus artis sinetron itu juga mampu membuat penonton berdecak kagum menyaksikan penampilannya. Winda merupakan salah satu bintang tamu dalam festival musik keroncong.

Acara tersebut diprakarsai oleh Yayasan Keroncong Indonesia (Yakin) yang bekerjasama dengan Galeri Indonesia Kaya. Sundari, pendiri Yakin mengatakan, festival musik keroncong diselenggarakan guna mengembangkan eksistensi musik yang sudah lama ditekuninya. “Keroncong adalah jiwa dan semangat saya untuk terus memperkenalkan serta membuat masyarakat cinta musik ini,” jelas Sundari saat ditemui Jlonline seusai acara.

Acara bertajuk ‘Kerontjong Joeara Noesantara (Kedjora)’ tersebut turut dimeriahkan sejumlah musisi beraliran musik yang berbeda, seperti Winda Viska, Iman J-Rock, Candil, Dira Sugandi, Kunto Aji, Dewi Gita dan Ikke Nurjanah. “Mereka akan berkolaborasi dengan komunitas musik keroncong dalam setiap penampilan,” kata Sundari.

Terkait kolaborasi keroncong dengan aliran musik lain, Sundari mengaku tak khawatir akan hilangnya keaslian musik asal tanah air itu. Justru, menurutnya hal itu perlu dilakukan agar generasi muda mau melestarikan dan mempopulerkan keroncong. “Meski dipadukan dengan genre lain, kekhasannya tak akan hilang,” ungkapnya.

Selain itu, penyanyi kelahiran Yogyakarta tersebut merasa bangga melihat anak-anak muda mau memakai kebaya dan belajar menyanyikan lagu keroncong. “Biarlah mereka dengan gaya mereka sendiri, yang penting mereka mau melestarikan seni dan budaya ini,” tambahnya.

Memadukan keroncong dengan genre lain, sambung Sundari, membutuhkan latihan ekstra. “Lengkingan nada dan cengkok Jawa memiliki tingkat kesulitan tersendiri bagi musisi saat  mencobanya,” kata sang maestro musik keroncong itu.

Arief Rahman, salah seorang penonton mengaku senang atas diadakannya Kedjora. Menurutnya, Kedjora merupakan cara jitu membuat generasi muda mau belajar musik keroncong. “Ini langkah cerdas Yakin demi pelestarian musik keroncong,” ujar Arif.

Kedjora berlangsung sejak 7-12 April 2015. Adapun pementasan digelar sebanyak dua kali setiap harinya, yakni pukul 16.00 WIB dan pukul 19.30 WIB.

(Bisri)

Kuliner Cita Rasa Seni

Written By Maulana Robby on Rabu, 01 April 2015 | 05.19.00


Bagi anda yang ingin menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama teman sekaligus menambah pengetahuan tentang dunia desain, Cafe Pop Art adalah jawabannya. Cafe yang terletak di jalan Merpati Raya Q1 No. 5, Bintaro, Jakarta Selatan tidak hanya menyediakan berbagai jenis makanan, namun juga menyediakan kursus membuat Wedhas Pop Art Potrait (WPAP) secara cuma-cuma.
WPAP adalah jenis seni yang menggambarkan wajah tokoh terkenal, dengan memadukan warna-warna yang cerah. Berawal dari tempat berkumpulnya komunitas WPAP, dan banyaknya desain-desain wpap yang terkumpul dibuatlah Cafe Pop Art ini.

“Sebenarnya tujuan di buatnya pop art cafe ini,ingin memperkenalkan pop art ke para anak muda. Karna awalnya kita sudah punya komunitas pop art, dan disini juga ada kursus gratisnya. Jadi kita sengaja untuk menyosialisasikan bahwa pop art ini hasil karya Indonesia,” jelas Neny pemilik Cafe pop art.
Saat masuk ke dalam cafe mata kita disuguhkan lukisan-lukisan WPAP tokoh-tokoh dunia, di antarnya Obama, John Lennon, Merlyn Moonroe, dan tokoh terkenal lainnya. Karya-karya WPAP di cafe ini adalah hasil dari komunitas WPAP yang mempunyai agenda rutin berkumpul setiap sebulan sekali.                           
Menu yang disajikan pun tidak kalah unik dari interior di cafe ini, dengan harga Rp 20 ribu anda dapat menikmati Cakwe Udang Mayo yang menjadi andalan dari cafe ini. Cakwe yang berisi cacahan daging udang dan dilumuri saus mayones sebagai pelengkapnya.
Kemudian ada Grilled Sushi Tuna Spicy. Terbuat dari nasi yang lembut,yang berisi daging ikan kulituna yang sudah dipanggang sebelumnya, yang diletakan secara rapih didalam gulungan sushi. Sensasi cita rasa yang pedas muncul ketika pertama kali dirasakan, sehingga membuat bibir memerah. Tidak perlu mengeluarkan isi dompet terlalu banyak untuk menikmati menu ini, hanya dengan Rp 15 ribu anda dapat menikmati sensasi pedas dari Grilled Shusi Tuna Spicy.

Cafe ini juga menyediakan aneka minuman segar, seperti Hot dan Ice black coffe, Hot dan Ice Cappucino, dan masih banyak minuman segar lainnya. Harga yang di tawarkan untuk menu makan dan minuman disini berkisar anatar Rp 10 ribu hingga Rp 18 ribu.

(Triya Hermalis)

Bingkai Gombalan Cinta Untuk Mala

Written By Maulana Robby on Minggu, 29 Maret 2015 | 00.00.00

Sisi dinding Post Santa yang dipenuhi karya-karya lettering dalam pameran Gombalan Untuk Mala, Minggu (22/03). Sebanyak 25 orang pameris berkontribusi dalam pameran yang diadakan oleh Kaligrafina dan BelmenID.

Di tengah hiruk pikuk akhir pekan Pasar Santa, puluhan karya seni lettering tampak memenuhi Post Santa yang berlokasi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu. Karya seni yang dibalut bingkai kayu tersebut berisi gombalan anak muda yang sedang dimabuk cinta.

Pameran bertajuk Gombalan Untuk Mala ini diselenggarakan oleh komunitas Kaligrafina dan BelmenID, dua komunitas yang sama-sama menggeluti seni kaligrafi dan lettering.  Keduanya terbentuk pada tahun 2014, sebagai wadah untuk seniman kaligrafi dan lettering di Indonesia.

Anggota Belmen ID, Kiko menjelaskan, ‘Mala’ merupakan akronim dari ‘masa lalu’, jadi ‘mala’ dianalogikan sebagai karakter hidup yang punya masalah percintaan. “Kita menghubungkannya lewat lettering. Seperti salah satu karya dalam pameran ini bertuliskan ‘Pipis Aja Ditahan Sakit, Apalagi Kangen’ atau ‘Hambar Banget Nih Soto Kek Perasaan Gue’,” kata Kiko saat ditemui di lokasi pameran, Minggu (22/3/2015).

Gagasan pameran ini berawal dari sebuah mini kompetisi lettering di jejaring sosial Instagram, dengan tema Belajar Menulis Gombal yang diadakan oleh BelmenID. Dari banyaknya karya yang masuk, sebanyak 25 orang terpilih untuk memerkan karyanya. 20 di antaranya hasil seleksi dua orang kurator, dan 5 lainnya mendapat undangan.

“Respon dan tanggapan dari Belajar Menulis Gombal yang kita posting di Instagram ternyata lumayan, banyak yang bilang lucu dan sebagainya. Akhirnya kita punya wacana kenapa kita ngga sharing dalam bentuk eksibisi? Akhirnya kejadian deh pameran kecil-kecilan ini,” tutur Kiko, anggota Belmen ID.

Pameran yang digelar pada 21 hingga 22 Maret 2014 ini tidak hanya memamerkan karya-karya lettering saja, setiap pengunjung yang datang diberi suvenir berupa kartu pos. Pengunjung juga bisa dibuatkan sebuah lettering atau bahkan menulis sendiri di tempat yang telah disediakan. Selain itu, aksi live chalk lettering (membuat kaligrafi) oleh Kiko dan Jamal pada sebuah papan tulis menjadi penutupan pameran.

(Agung Suryono)

Menikmati Keindahan Panorama Pulau Pramuka

Written By Maulana Robby on Kamis, 30 Oktober 2014 | 11.29.00



Kepulauan seribu sebagai salah satu destinasi wisata andalan di Ibukota Jakarta memiliki panorama alam menajubkan. Salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu yang cukup menarik perhatian wisatawan adalah Pulau Pramuka.

Pulau Pramuka merupakan pusat pemerintahan administrasi kabupaten kepulauan seribu. Pulau dengan luas sekitar 16 hektar ini menawarkan panorama pantai yang menarik minat wisatawan untuk datang ke Pulau Pramuka.

Di pulau ini terdapat taman konservasi tanaman mangrove, yaitu berupa hutan yang berada tepat di depan Kantor Taman Nasional Kepulauan Seribu. Saat air pasang wisatawan bisa mengelilingi taman mangrove tersebut dengan menggunakan kano. Namun ketika air sedang suruttaman mangrove dapat  dikelilingi dengan berjalan kaki.

Selain itu, yang tidak kalah menarik dari Pulau Pramuka dan patut untuk wisatawan kunjungi adalah tempat penakaran penyu sisik. Tempat  tersebut dibuat untuk menjaga penyu sisik dari kepunahan populasinya. Di sana penyu-penyu sisik dirawat, dikembang biakan, dan dilindungi .

Selain tempat konservasi, pengunjung juga dimanjakan dengan pemandangan bawah laut yang sayang jika dilewatkan. Dengan snorkeling pengunjung dapat melihat panorama bawah laut seperti terumbu karang, rumput laut, dan berbagai macam ikan hias yang menawan. Air laut Pulau Pramuka yang cukup tenang akan membuat snorkeling menjadi lebih aman dan nyaman.

Pulau Pramuka memiliki fasilitas yang cukup lengkap, yaitu penginapan, rumah sakit, bank, kantor pos, masjid, lapangan olah raga, serta diving dan snorkeling center dapat dengan mudah pengunjung temukan di pulau tersebut.

 Untuk sampai di sana wisatawan bisa naik perahu Dolpin daripelabuhan Muara Angke dengan tarif 35.000 rupiah atau kapal cepat dari Marina Ancol, namun dengan tarif yang lebih tinggi tentunya.

Liburan akan terasa semakin sempurna dengan duduk santai menikmati senja menanti terbenamnya matahari di dermaga Pulau Pramuka. (Bisri)


Makanan Sehat Berbahan Organik Ala Warung Kebun

Written By Maulana Robby on Sabtu, 25 Oktober 2014 | 08.22.00


Mengonsumsi makanan organik merupakan salah satu caradalam menjalankan pola hidup sehat.  Bicara soal makanan organik, warung Kebunku yang terletak di Jalan Terogong Raya Nomor 11, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, hadir sebagai restoran yang menyediakan berbagai menu makanan berbahan dasar organik.

Di restoran ini, bahan yang digunakan berasal dari tanaman organik hasil kebun si pemilik restoran. Nectaria Ayu pemilik restoran mengatakan, ide restoran organik ini terinspirasi dari konsep restoran di Eropa yang menggunakan bahan organik. 

Warung Kebunku menyediakan bermacam menu makanan yang tak asing lagi di lidah masyarakat Indonesia. “Kami menyediakan berbagai menu makanan, seperti Gado-gado organik, nasi goreng organik, mie organik, tekwan, dan lainnya,” jelas Ayu.

Selain itu, restoran ini juga menyediakan pengenan khas Jawa Barat yakni asinan,  yang tentu berbeda dari asinan pada umumnya. Di restoran ini asinan dibuat tanpa mengunakan cuka yang lazim digunakan, melainkan cuka hasil fermentasi pisang organik yang rasanya asin.

Restoran ini juga menyediakan aneka minuman segar, seperti grass tea, tea rosalia, es kopyor, dan masih banyak lagi minuman yang menyehatkan lainnya. Harga yang ditawarkan untuk menu makanan dan minuman di sini berkisar antara 2.500 Rupiah hingga 40.000 Rupiah. (Triya Hermalis)

Rileksasi ala sungai Citatih



Wush, wush, suara deras aliran Sungai Citatih memecah keheningan pagi di Desa Bojong Kerta, kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Desa yang memiliki pemandangan alam sangat menawan dikelilingi rimbun pepohonan hijau dan bukit-bukit ini, mempunyai daya hipnotis tersendiri bagi para pengunjung yang ingin berlibur. Lebih lagi, lokasinya yang jauh  dari hiruk pikuk  dan keramainan kota.

Di Sungai Citatih ini, saya mencoba salah satu wahana yang disediakan oleh pengelola sungai yaitu Niagara Arum Jeram. Melalui boat, saya menulusuri derasnya sungai Citatih sepanjang 12 kilometer. Benar saja, suara deras aliran sungai Citatih kian pecah seiring riuhnya teriakan para pengunjung.

Gelak tawa pengunjung pun tak terelakan ketika boat yang saya tumpangi menabrak batu hingga terbalik akibat tak sanggup menahan derasnya aliran sungai. Tak jarang pula pengunjung yang menaiki boat harus terlempar ke sungai karena tak bisa menahan beban tubuhnya sendiri. Tapi tenang, jika bicara keamanan, Niagara Arum Jeram memberikan pelayanan kelas nomor wahid. “Di sini, kami (pengelola) akan memberikan fasilitas dan kemanan secara total bagi para pengunjung” ujar  salah satu pengelola wahana, Boby Alamsyah.

Di sela-sela berarum jeram, para pengunjung akan singgah di beberapa titik untuk sekadar beristirahat dan menikmati suguhan makanan-makanan tradisional khas bumi padjadjaran seperti bandrek, goreng peyeum (tape), bajigur, dan kopi hitam khas Sukabumi.

Tak hanya sajian makanan tradisional khas Sukabumi, suguhan pemandangan  sungai Citatih hingga Cimandiri pun tak kalah menarik perhatian. Batu-batu dan bukit-bukit di pinggiran sungai bak menyapa saya lewat visualisasi alam. Ramah sangat, kota ini!

Setibanya di hulu sungai, rasa penat perkotaan seolah tersulap dengan kenikmatan rileksasi alam Bumi Padjadjaran. Senyum kecil para pengunjung laiknya menggambarkan kepuasan dan ketakjuban luar biasa terhadap kebesaran Tuhan. Sungguh akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi siapapun yang berkunjung ke sini.

Di akhir perjalan, kita akan diajak pihak pengelola kembali ke hilir. Saat perjalanan pulang, pengunjung juga bisa  menikmati pemandangan khas alam Sukabumi yaitu sunset yang sangat mempesona. Terlebih, bila melihat pemandangan matahari senja yang perlahan tenggelam di hamparan sawah berlatar laut pelabuhan ratu Sukabumi. I’ts amazing! (Fakhrizalhaq)

Musang Lovers, Lindungi Musang Lewat Hobi


Memelihara hewan dapat membantu menumbuhkan rasa emosional pada diri manusia. Kebiasaan memelihara hewanjuga bisa mengurangi stres berlebih karena rutinitas yang dilalui. Lazimnya, kita sering melihat anjing dan kucing menjadi peliharaan, tapi kini musang yang sering dianggap liar dan hama oleh masyarakat juga ternyata bisa dijadikan hewan peliharaan.

Seperti yang dilakukan komunitas Musang Lovers Indonesia. Musang Lovers sudah tersebar hampir di seluruh regional Indonesia. Salah satunya di Jakarta. Musang Lovers Jakarta sendiri diresmikan sejak 1 Januari 2013 dan biasa mengadakan gathering pada hari Sabtu dan Minggu.

Koordinator lapangan Musang Lovers Jakarta, Ali Djanih, menjelaskan, komunitas ini bertujuan mewadahi para pencinta musang regional Jakarta untuksaling bertukar pikiran mengenai hewan musang. Komunitas yang sering berkumpul di kawasan Hotel Indonesia (HI) dan Kota Tua ini juga berkeinginan mengubah mindset masyarakat yang seringkali menganggap musang liar.

”Terpenting, tujuan kita di sini untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa musang bisa dipelihara layaknya kucing dan anjing,” ungkap Ali, Jumat (24/10/2014).

Ia menambahkan, selain mensosialisasikan kepada masyarakat, komunitas Musang Lovers juga melindungi musang dari penangkapan hewan liar. Menurutnya, daripada mengkonsumsi daging musang, lebih baik menjual musang kepada para pencinta musang.

“Daripada makan daging musang, mending musangnya dijual.Terus, uangnya dibeliin sate,” jelas Ali sambil tersenyum.

Terkait jual beli musang, Wakil ketua Musang Lovers Jakarta, Doni Permadi, menjelaskan dalam komunitas Musang Lovers, kata jual beli diganti menjadi adopsi. Ia memberikan beberapa tipsbagaimana cara merawat musang. Menurutnya, musang lebih baik dipelihara sejak bayi karena lebih mudah beradaptasi dengan si pemilik.
“Kalau mau mengadopsi musang, lebih baik adopsi musang dari umur 3 bulan dulu,” tutur Doni saat ditemui Journo Liberta.

Perawatan hewan musang, sambung Doni, juga tergolong tidak terlalu sulit. “Perawatan musang itu mudah karena musang tergolong hewan omnivora. Kotorannya juga tidak bau,”

Untuk bergabung bersama komunitas Musang Lovers,kata Doni, tak ada persyaratan khusus. ia menjelaskan, komunitas Musang Lovers terbuka bagisemua golongan, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Jika Anda ingin memelihara musang, Musang Lovers merekomendasikan untuk memelihara musang jenis pandan, karena perawatannya tergolong mudah. (Singgih A. Dani, Angga Satria)

Belajar Ekonomi Syariah Bersama Lisensi

Written By Maulana Robby on Selasa, 08 April 2014 | 02.08.00


Lingkar Studi Ekonomi Syariah (Lisensi) merupakan sebuah organisasi yang bergerak di bidang kajian Ekonomi Syariah.Organisasi ini berada di bawah Pusat Pengembangan dan Pengkajian Ilmu Ekonomi Islam (P3EI).

Pada awal berdirinya di pertengahan tahun 2000, organisasi ini merupakan sebuah komunitas yang didirikan oleh lima orang mahasiswa, yang terdiri dari lima fakultas berbeda di Universitas Islam Negeri Islam Syarif Hidayatullah Jakarta, salah satunya  adalah Sabed Al Bilawah dari Fakultas  Syariah dan Hukum. Sejalan dengan berkembangnya komunitas ini, akhirnya pada 2004 Lisensi resmi menjadi organisasi dan mempunyai kepengurusan.

Saat ini LISENSI sudah memiliki banyak kegiatan, baik di dalam maupun di luar kampus. Untuk di dalam kampus,  kegiatannya antara lain adalah kajian rutin mingguan, bertempat di basement Fakultas Syariah dan Hukum atau di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. “kita punya intensive class atau kursus singkat,” kata Abdul Latief, mahasiswa Perbankan Syariah yang menjabat sebagai ketua umum Lisensi. Kajian yang dilakukan dalam intensive class membahas tentang ekonomi mikrodan makro konvensional dan Islam, akuntansi syariah dan konvensional, dan fiqh muamalat.

Di luar kampus LISENSI memiliki beberapa sekolah binaan. Sekolah binaannya yaitu SMKN 20 Jakarta, SMK PB Soedirman Jakarta, dan SMK Al-Azhar Depok. Selain itu, Lisensi juga tergabung dalam Forum Sillaturahim Studi Ekonomi Islam (FOSSEI), merupakan perkumpulan dari Organisasi-oranisasi kampus yang mengkaji tentang ekonomi Islam.


“kita memiliki agenda tahunan yang bernama Week of Sa’riah Economic Exhibition, acaranya adalah lomba dan seminar nasional yang dihadiri oleh pembicara tokoh-tokoh ekonomi Islam nasional,” jelas Abdul Latif ketika ditanya tentang agenda-agenda apa yangsaja dimiliki oleh Lisensi. (Mario Caisar)
 
Copyright © 2011. Catatan Jurnalistik - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Tum hi ho lyrics | How to get rid of hiccups

Proudly powered by Blogger