Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post

Hello World

Written By Maulana Robby on Jumat, 21 Oktober 2016 | 22.24.00

Hello !!
Hello Hello Hello !!!
World ...

KPI Resmi Perpanjang Izin 10 Televisi

Written By Maulana Robby on Jumat, 14 Oktober 2016 | 13.32.00

Ilustrasi
Komisi Penyairan Indonesia (KPI) resmi memperpanjang Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) 10 stasiun televisi. Ke sepuluh stasiun televisi tersebut ialah SCTV, Indosiar, RCTI, MNC TV, Global TV, Metro TV, ANTV, TV One, Trans TV, dan Trans 7.

Terkait perpanjangan IPP Ini, Ketua KPI pusat Yuliandre Darwis mengingatkan kembali komitmen yang ditandatangani pimpinan televisi tersebut dalam rangka perbaikan kualitas layar kaca. Selain tentang P3 & SPS yang harus ditaati dalam penyelenggaraan penyiaran selama sepuluh tahun ke depan,  Yuliandre juga meminta agar fungsi penyiaran sebagai media informasi, pendidikan, hiburan serta kontrol dan perekat sosial dapat dilaksanakan secara seimbang.


“Jangan sampai televisi didominasi oleh hiburan semata, dan mengesampingkan peran-peran lain penting dalam menjaga harmoni dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya melalui kerterangan pers.


Yuliandre juga menegaskan bahwa lembaga penyiaran harus menjaga independensi dan netralitasnya dalan agenda kontestasi politik, baik tingkat nasional ataupun lokal. Selain tentu saja, menjaga frekuensi yang dipinjamkan negara ini, semata-mata untuk kepentingan publik.

“Kami berharap, tidak ada lagi blocking time dengan durasi yang tidak wajar untuk menyorot kehidupan pribadi artis ataupun public figure yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan publik,” katanya.


Sesuai pasal 33 ayat (4) dan ayat (5) Undang-Undang nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, IPP diberikan oleh negara setelah memperoleh masukan dan hasil evaluasi dengar pendapat antara pemohon dan KPI, rekomendasi kelayakan penyelenggaraan penyiaran dari KPI, hasil kesepakatan dalam forum rapat bersama yang diadakan khusus untuk perizinan antara KPI dan pemerintah, dan izin alokasi dan penggunaan spektrum frekuensi oleh Pemerintah atas usul KPI, maka secara administratif IPP diberikan oleh Negara melalui KPI. 


(Red)

Kantong Plastik Kembali Digratiskan, GIDKP: Sayang Sekali

Ilustrasi
Penerapan kantong plastik berbayar kini  tak berlaku lagi  di toko ritel modern. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) telah memutuskan untuk menghentikan uji coba penerapan kantong plastik berbayar pada 1 Oktober 2016. Sebelumnya pembeli di toko ritel dikenakan biaya Rp. 200 untuk satu kantong plastik.

Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) menyayangkan hal itu, GIDKP menilai bahwa seharusnya niat baik Aprindo untuk menyelamatkan lingkungan bukan bergantung pada  peraturan dari pemerintah.

Koordinator Harian GIDKP Rahyang Nusantara mengatakan, ada bukti efektifitas dan ada momentum yang semakin meningkat di masyarakat tentang kesadaran perlunya pengurangan kantong plastik.

 “Dukungan Aprindo sangat penting dalam menjaga momentum tersebut (program plastik berbayar). Sehingga sayang sekali bila mereka hengkang dari komitmen mereka di tengah jalan,” jelasnya.

Rahyang mengatakan, menurut laporan dari Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung, terdapat pengurangan kantong plastik sebesar 42  persen sejak diberlakukannya kantong plastik tidak gratis. “Hal serupa terjadi di Kota Balikpapan yang menyatakan pengurangan penggunaan kantong plastik sebesar 45 persen,” jelasnya.


Kemudian GIDKP berharap Aprindo tetap menunjukkan dukungan terhadap pengurangan sampah plastik, yakni dengan mengingatkan konsumen untuk membawa tas belanja sendiri. “GIDKP siap mendukung dan memfasilitasi upaya-upaya Aprindo dan Pemerintah dalam sosialisasi dan penerapan program kantong plastik tidak gratis,” ujar Rahyang.

(Red)

Konstelasi Seks, Perempuan, dan Cinta yang Rapuh

Written By Maulana Robby on Rabu, 28 September 2016 | 12.48.00



Cinta dan jerat sosial yang dialami oleh perempuan seakan terus meneror hingga hari ini. Ketidak berdayaan perempuan untuk mencari eksistensi cinta di tengah lingkungan sosial yang patrialkal seakan hanya menjadi momok cacian dan kegundahan. Kebebasan yang di idamkan menjadi kian utopis.

Sementara itu, Kegamangan akan waktu dan  ketakutan yang di latar belakangi oleh ingatan  kelam seakan terus meneror kehidupan. Hubungan dengan Tuhan, percakapan dengan diri sendiri, dan kecintaan terhadap gadget tidak pernah menjadi jalan keluar. Rahasia-rahasia gila semakin menjajah sekujur tubuh. Segala gerak perasaan yang dilarang menghinggapi masa lalu dan perasaan yang terlarang untuk menjadi masa depan.

Getir perempuan tersebut telah terangkum  melalui Ilustrasi dan puisi yang ditulis oleh Lala Bohang. Buku berjudul ‘The Book of Forbidden Feelings’ hadir sebagai refleksi kegundahan perjalan hidup seorang Lala Bohang yang banyak mewakili potret perempuan hari ini. Hal-hal yang tabu dan terlarang untuk diceritakan akan terurai melalui ilustrasi visual. Puisi-puisi hadir sebagai buah kontemplasi akan perasaan-perasaan yang dialaminya.

Puisi-puisi yang penulis tuangkan seluruhnya berbahasa inggris ini tidak banyak melakukan metafor dalam diksinya. Sehingga, pembaca dapat cepat memahami apa yang dikandung dalam puisi yang dibuat oleh Alumnus Universitas Parahyangan Bandung tersebut. Hal menohok dalam puisinya adalah pergulatan perasaan.

Ilustrasi yang begitu terasa surealis akan mengajak pembaca menyelami karya visual dengan banyak  penafsiran. Namun, beberapa simbol dalam gambar akan memudahkan sekaligus menjadi petunjuk bagaimana pembaca memandang dan menafsirkan gambar tersebut. Relasi puisi dan ilustrasi menjadi poin yang teramat ditonjolkan dalam buku ini.

Mungkin penulis menyukai konsep  Rolan Barthez yang teramat masyhur yakni pencipta akan mati ketika karyanya dipublikasikan. Melalui konsep seperti itu Lala Bohang mencoba menyajikan karya dan mengajak pembaca untuk menafsirkan ilustrasi dan puisi sendunya. 
    
‘Friends become enemies
Dreams become failures
Home becomes blurry’
‘Let’s talk about nothing. Nothing is nothing at all. There are so many things in nothing’

Judul                           : The Book of  Forbidden Feelings
Penulis                         : Lala Bohang
Ilustrasi                       : Lala Bohang
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta
Tahun terbit                 : 2016

Tebal buku                   : 150 halaman


(Ayudya Annisa)
*Penulis adalah mahasiswi Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Wajah Toleransi di Karangturi

Written By Maulana Robby on Senin, 26 September 2016 | 07.03.00

Aktifitas warga Desa Karangturi, Lasem, Rembang, Jawa Tengah

Pos Kamling di Desa Karangturi

Musala di Pesantren Kauman

Gereja di Desa Karangturi

Klenteng di Desa Karangturi

Wihara di Desa Karangturi

Memelihara toleransi antarumat beragama, etnis, dan budaya di Indonesia tidaklah sulit. Kita hanya perlu lakukan apa yang sudah dicontohkan oleh nenek moyang kita. Setidaknya itulah yang dikatakan Gus Zaim, pengasuh Pondok Pesantren Kauman, Desa Karangturi, Lasem, Jawa Tengah.

Desa Karangturi merupakan refleksi dari toleransi. Bangunan khas China dan budaya masyarakat jawa membaur menjadi satu. Pondok Pesantren Kauman salah satunya, pesantren ini berdiri dan hidup berdampingan di tengah kampung pecinan Desa Karangturi, Lasem.

Gerbang pintu pesantren tersebut contohnya, pintu besar berwarna hijau dengan dua ukiran kalimat China menjadi hal yang menarik perhatian. Gus Zaim mengatakan, arti dari kedua kalimat itu masalah "panjang umur setinggi gunung" dan "luas rezeki sedalam lautan."

Selain itu, Desa yang terletak di Kota Rembang ini juga memiliki tempat beribadah bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia. Masjid, Gereja, Klenteng, dan Wihara yang berdiri di desa ini seolah menegaskan bahwa perbedaan tak menjadi kendala untuk hidup rukun.

Melalui arsitektur di desa ini, kita bisa melihat perpaduan beragam budaya, agama, dan ras menjadi indah. Kuncinya yaitu hidup saling membantu dan satu tujuan menuju kebaikan.

Desa Karangturi mengajarkan bahwa perbedaan tidak menjadi pembatas di dalam kehidupan sosial masyarakat. Bisa dibilang desa ini adalah ikon toleransi di Indonesia. Beragam agama, etnis dan budaya bisa hidup saling menebar senyum tanpa memandang minoritas atau mayoritas, pun pribumi dan non pribumi.


(Denny Aprianto)


Visual Literasi: Cara Bikin Foto Bagus Melalui Konsep Visual

Written By Maulana Robby on Sabtu, 17 September 2016 | 12.42.00

Okky Ardya saat menyampaikan materi Visual Literasi di Teater Prof. Dr. Aqib Suminto lantai 2 Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Selasa, (6/9/2016).

Foto ternyata bukan hanya karya seni yang dapat dinikmati dengan melihatnya saja, foto juga dapat dibaca. Caranya dapat dipelajari melalui konsep visual literasi. Hal tersebut disampaikan oleh Okky Ardya, fotografer freelance yang menjadi narasumber dalam acara Seminar Visual Literasi yang diadakan di Teater Prof. Dr. Aqib Suminto lt.2 gedung Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Selasa (6/9/2016).

“Secara singkat, visual literasi itu cara bikin foto bagus melalui konsep visual,” jawab Okky ketika ditanya tentang visual literasi. Okky juga mengungkapkan betapa pentingnya visual literasi dalam dunia fotografi, khususnya untuk membantu orang agar lebih teliti lagi ketika melihat suatu foto. Hal ini berkaitan pula dengan kesadaran fotografer terhadap karyanya yang dipublikasikan.

Menurut Okky hasil foto yang bagus dari para fotografer ternama bukan karena kebetulan saja, melainkan karena kejeniusan mereka memahami visual literasi dan cara mereka menentukan momen. “Terkadang memang ada momen yang hanya datang sekali, yang membuat foto itu terlihat bagus. Namun, para fotografer yang memiliki pengetahuan visual literasi dapat membuat momen sehingga foto-fotonya bukan hanya sekadar kebetulan bagus,” jelas Okky.

Dalam menyampaikan materinya, Okky menampilkan foto dari para fotografer kenamaan seperti Steve McCurry, Ansel Adams sampai Constantine Manos. Wanita yang mengawali karirnya sebagai jurnalis ini mulai membedah detil dari tiap foto tersebut, dari titik, garis, warna, keruangan, kontras dan lainnya yang merupakan unsur-unsur visual literasi.

Okky mengapresiasi acara Seminar Visual Literasi yang diadakan oleh Jurnalistik angkatan 2013.  “Karena jarang sekali orang yang mau mempelajari visual literasi dan menariknya UIN merupakan salah satu kampus yang tertarik untuk mengadakan seminar ini,” tegasnya.

Atika Fauziyyah salah satu panitia acara mengatakan, tujuan diadakannya acara seminar ini untuk mengajak mahasiswa belajar bersama tentang visual literasi dari awal. Menurut ia seminar ini sangat penting karena di UIN sendiri tidak ada mata kuliah visual literasi. “Sangat disayangkan jika tidak ikut, karena tidak usah mengeluarkan uang untuk ikut acara ini,” tuturnya.

Joni salah satu peserta seminar dari Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta mengatakan, seharusnya acara seperti ini lebih sering diadakan, agar mahasiswa bisa menambah wawasan. “Supaya mahasiswa nggak cuma belajar di kelas dengan dosen yang itu-itu saja,” tegasnya.

Seminar Visual Literasi merupakan satu dari rangkaian acara dalam kegiatan Pameran Fotografi Jurnalistik angkatan 2013. Pameran Fotografi berlangsung dari tanggal 5-10 September 2016 di Aula Student Centre UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(Nawawi)

Solilokui: Ajak Berdialog Lewat Foto

Salah satu pengunjung sedang melihat foto di pameran Solilokui.
Foto bukan hanya sekumpulan pixel yang bersinergi membentuk sebuah gambar. Lebih dari itu semua, foto memiliki cerita di dalamnya.  Melalui foto pula, setiap fotografer berusaha menceritakan sesuatu dibalik sebuah karya. Hal inilah yang ingin disampaikan mahasiswa Jurnalistik angkatan 2013 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dengan menyelenggarakan pagelaran karya fotografi bertajuk Solilokui, Senin, (5/9/2016).

Kurator sekaligus dosen Fotografi Jurnalistik Rasdian A Vadin mengatakan, Solilokui ini adalah dialog secara personal yang bisa mengungkapkan atau menampilkan perenungan. “Perenungan bisa secara personal bisa juga refleksi dari keadaan lingkungan sekitar. Persoalannya macam-macam, bisa merespon kemiskinan, kondisi penggusuran dan lain sebagainya,” jelasnya.

Ketua panitia Denny Aprianto menjelaskan, pameran yang menampilkan 192 karya foto ini mengangkat berbagai macam isu, mulai dari isu ekomomi, budaya, sosial kemasyarakatan hingga politik. “Terkait hasil foto, masing-masing fotografer ingin menyampaikan pesan yang berbeda-beda di setiap karyanya,” kata Denny.

“Banyak foto yang unik salah satunya Bike for Life karya Agung Suryono, yang mengisahkan orang-orang yang hidup dengan sepeda atau bisa dibilang sepeda sebagai bagian dari kehidupannya. Ada juga ibu-ibu sukarelawan yang menjadi penjaga rel kereta,” ujar Denny.

Zaky salah satu pengunjung pameran mengaku sengaja datang untuk menyaksikan karya-karya yang dipamerkan di Aula Student Center (SC) UIN Syarif Hidayatullah ini setelah selesai mengikuti seminar yang juga merupakan bagian dari rangkaian acara. Mahasiswa yang suka denga fotografi ini merasa kagum dengan foto-foto yang dipamerkan.

“Fotonya bagus, konsepnya juga baru, inovatif, tempat pamerannya pun lebih baru dengan konsep dan desain interiornya, kemudian hasil foto-fotonya pun banyak pesan di dalamnya”, jelas Zaky.

Solilokui merupakan rangkaian acara yang berisi pameran foto, seminar serta screening film. Acara yang sudah diadakan empat kali ini merupakan puncak dari tugas  salah satu mata kuliah di jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yaitu Foto Jurnalistik.

(Robby Septyan Maulana)
 
Copyright © 2011. Catatan Jurnalistik - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Tum hi ho lyrics | How to get rid of hiccups

Proudly powered by Blogger