Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
12.48.00
Cinta dan jerat sosial yang dialami oleh perempuan seakan terus meneror hingga hari ini. Ketidak berdayaan perempuan untuk mencari eksistensi cinta di tengah lingkungan sosial yang patrialkal seakan hanya menjadi momok cacian dan kegundahan. Kebebasan yang di idamkan menjadi kian utopis.
Puisi-puisi yang penulis tuangkan seluruhnya berbahasa inggris ini tidak banyak melakukan metafor dalam diksinya. Sehingga, pembaca dapat cepat memahami apa yang dikandung dalam puisi yang dibuat oleh Alumnus Universitas Parahyangan Bandung tersebut. Hal menohok dalam puisinya adalah pergulatan perasaan.
Konstelasi Seks, Perempuan, dan Cinta yang Rapuh
Written By Maulana Robby on Rabu, 28 September 2016 | 12.48.00
Cinta dan jerat sosial yang dialami oleh perempuan seakan terus meneror hingga hari ini. Ketidak berdayaan perempuan untuk mencari eksistensi cinta di tengah lingkungan sosial yang patrialkal seakan hanya menjadi momok cacian dan kegundahan. Kebebasan yang di idamkan menjadi kian utopis.
Sementara itu, Kegamangan akan waktu dan ketakutan yang di latar belakangi oleh ingatan kelam seakan terus meneror kehidupan. Hubungan dengan Tuhan, percakapan dengan diri sendiri, dan kecintaan terhadap gadget tidak pernah menjadi jalan keluar. Rahasia-rahasia gila semakin menjajah sekujur tubuh. Segala gerak perasaan yang dilarang menghinggapi masa lalu dan perasaan yang terlarang untuk menjadi masa depan.
Getir perempuan tersebut telah terangkum melalui Ilustrasi dan puisi yang ditulis oleh Lala Bohang. Buku berjudul ‘The Book of Forbidden Feelings’ hadir sebagai refleksi kegundahan perjalan hidup seorang Lala Bohang yang banyak mewakili potret perempuan hari ini. Hal-hal yang tabu dan terlarang untuk diceritakan akan terurai melalui ilustrasi visual. Puisi-puisi hadir sebagai buah kontemplasi akan perasaan-perasaan yang dialaminya.
Ilustrasi yang begitu terasa surealis akan mengajak pembaca menyelami karya visual dengan banyak penafsiran. Namun, beberapa simbol dalam gambar akan memudahkan sekaligus menjadi petunjuk bagaimana pembaca memandang dan menafsirkan gambar tersebut. Relasi puisi dan ilustrasi menjadi poin yang teramat ditonjolkan dalam buku ini.
Mungkin penulis menyukai konsep Rolan Barthez yang teramat masyhur yakni pencipta akan mati ketika karyanya dipublikasikan. Melalui konsep seperti itu Lala Bohang mencoba menyajikan karya dan mengajak pembaca untuk menafsirkan ilustrasi dan puisi sendunya.
‘Friends become enemies
Dreams become failures
Home becomes blurry’
‘Let’s talk about nothing. Nothing is nothing at all. There are so many things in nothing’
Judul : The Book of Forbidden Feelings
Penulis : Lala Bohang
Ilustrasi : Lala Bohang
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta
Tahun terbit : 2016
Tebal buku : 150 halaman
(Ayudya Annisa)
*Penulis adalah mahasiswi Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Label:
Resensi
23.12.00
Puya ke Puya: Pertanyaan Tentang Surga
Written By Maulana Robby on Jumat, 03 Juni 2016 | 23.12.00
Kenapa surga diciptakan?
Sebagai manusia yang masih hidup, seharusnya kita mengetahui alasan surga diciptakan. Karena surga adalah tujuan akhir dan tempat dimana manusia akan menjalani kehidupan setelah kematian secara abadi. Di surga pula kita akan bertemu para leluhur.
Allu Ralla seorang anak Toraja yang baru saja kehilangan ambenya –atau biasa disebut ayah- dan rambu solo –upacara adat kematian masyarakat Toraja- harus digelar. Sebagai keluarga bangsawan, tentu rambu solo haruslah digelar secara besar-besaran dengan mempersembahkan puluhan kerbau dan ratusan babi. Sedangkan untuk merealisasikannya, tentu bukan perkara mudah. Terlebih bagi Allu Ralla yang sekarang menjadi kepala di keluarga kecilnya.
Sementara di dalam rahim pohon tarra, Maria Ralla pun memiliki kisah. Adik Allu yang meninggal ketika bayi ini tidak semata-mata ‘beristirahat dengan tenang’. Dia memiliki kehidupan lain dan diam-diam memerhatikan keluarganya yang sudah dia tinggal sejak lama. Bahkan ketika di dalam tubuh indo -Ibu (rahim pohon tarra)- sempat terjadi kekacauan, Maria Ralla ikut ambil andil.
Ambe mereka berdua, Rante Ralla, masih menggantung nasibnya. Orang-orang masih percaya dia sakit sampai digelarnya rambu solo, yang akan membawanya menuju nirwana. Padahal tubuhnya sudah tidak bernyawa. Sukmanya tidak tenang. Apalagi tanpa sepengetahuannya para leluhur sedang ramai-ramai menggosipkan dirinya dari atas sana.
Martabat keluarga Ralla harus dijunjung tinggi. Kematian Rante Ralla harus dirayakan besar-besaran. Karena jika tidak, aib keluarga akan ditanggung sehidup semati oleh keluarga yang masih tersisa.
Lolos sebagai pemenang keempat Sayembara Menulis Novel DKJ 2014 dan menjadi novel terbaik 2015 versi majalah Tempo, Puya ke Puya adalah satu buku andalan Faisal Oddang saat ini. Penulis yang masih berusia awal 20-an ini pun pernah menjadi penulis terbaik Kompas 2014 dan diundang ke Salihara International Literary Biennalle 2015. Di usianya yang masih sangat muda, Faisal telah melahirkan karya-karya yang luar biasa dalam bentuk puisi, novel, atau cerpen seperti contohnya Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon.
Novel ini mengisahkan adat Toraja yang sangat kental. Sebuah bentuk sentilan secara halus terhadap tradisi yang membuat manusia melakukan kejahatan di bawah tangan. Bisa dibayangkan ketika manusia, dalam hal ini Allu Ralla harus melakukan tindakan tidak pantas demi melangsungkan rambu solo untuk ambenya. Untung dia tidak sampai harus seperti Mr. Berth, orang asing yang akan meluluhlantakkan tanah warisan keluarga Ralla dan memiliki disorientasi ketertarikan terhadap lawan jenis.
Menarik ketika meneilisik beberapa fragmen kehidupan di buku ini. Mulai dari kehidupan di dunia, fase kematian, fase perjalanan menuju puya (surga), dan fase alam baka. Faisal mendeskripsikannya seolah-olah memang seperti itulah yang akan dialami manusia setelah meninggal. Di sisi lain Faisal juga menyentuh berbagai macam persoalan yang kemungkinan besar memang terjadi ketika adat dijadikan landasan hidup. Bukankah kita diminta untuk menjaga kelestarian adat? Adat seperti apakah yang benar-benar dimaksud di sini? Pertanyaan ini kemudian muncul dalam benak setelah menutup cover belakang Puya ke Puya.
Meskipun dalam beberapa hal, Faisal ‘seperti’ mengisahkan kasus yang sama – suasana dan kisah cinta di passiliran (kuburan bayi di pohon tarra) – seperti dalam cerpen Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon, itu tetap tidak mengurangi esensi keunikan dari cara dia bertutur di Puya ke Puya. Maka Puya ke Puya pantas direkomendasikan bagi pembaca penikmat sastra Indonesia abad ini. Tentu saja ini menyangkut substansi terhadap suatu pertanyaan tentang, kenapa surga diciptakan?
Judul : Puya ke Puya
Penulis : Faisal Oddang
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : Ke-1
Tahun Cetak : 2015
Total Halaman : 218
ISBN : 978-979-91-0950-7
*Laras Sekar Seruni
Mahasiswi Jurusa Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
12.50.00
Cinta Tak Kenal A, B, dan C
Written By Maulana Robby on Senin, 23 Mei 2016 | 12.50.00
Pekerjaan peneliti itu cari-cari masalah, tetapi juga sesekali harus berani menyadari bahwa sebenarnya tidak ada masalah dengan yang ditelitinya. Itu adalah kalimat keyakinan yang dipegang Sarwono, seorang pria yang berprofesi sebagai Dosen Antropologi yang tidak jarang melakukan penelitian.
Sejak lulus SMA, Sarwono memutuskan melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Jakarta dari kota asalnya, Solo. Di Ibu Kota, ia menghidupi kebutuhannya sendiri, tidak ingin membuat repot keluarganya di kampung halaman. Penghasilan dapat dia raih dari upahnya sebagai penulis artikel dan puisi yang ia setor ke media-media cetak.
Kehidupan dosen muda ini tidak hanya bertahan untuk terus hidup dengan asupan jasmani tetapi juga soal rohani, yaitu asmara. Ia menjalin cinta dengan seorang gadis yang sama-sama berprofesi sebagai pengajar di tingkat perguruan tinggi, Pinkan namanya. Pinkan merupakan adik dari teman semasa SMA-nya dulu, Toar Palenkahu. Perempuan yang memang sudah ditaksirnya sejak ia berseram putih abu-abu.
Menjalin rajutan kasih dengan Putri Palenkahu bukan tanpa halangan. Apalagi terdapat perbedaan suku dan agama dalam diri mereka. Sarwono pria yang berasal dari Solo, merupakan pria muslim taat. Sedangkan Pinkan, gadis perawakan blasteran, Ibu Jawa dan Bapak Menado, seorang kristiani teguh. Hal ini menjadi warna sendiri dalam percintaan kedua dosen ini.
Perbedaan itu dikhawatirkan mereka berdua menjadi tembok tebal yang tak bisa dirobohkan. Kecemasan muncul ketika meminta persetujuan orang tua mereka. Namun, pada kenyataanya ke dua orang tua mereka tak mempermaslahkan hal itu, malah menyerahkan semua ke diri mereka masing-masing.
Masalah justru datang dari kerabat Pinkan, mereka kerap kali menyudutkan Pinkan dengan berbagai pertanyaan tentang hubungannya dengan Sarwono, Barry salah satu kerabatnya pernah bertanya, apa Pinkan rela berkerudung? Tidak hanya itu, mereka mengharapkan Pinkan dipinang laki-laki yang mengajar di perguruan tinggi di Menado, laki-laki yang pernah kuliah di Jepang. Tetapi dengan guncangan dan harapan saudaranya itu, Pinkan tetap teguh tak tergoyahkan, tetap Sarwono sang Matindas. Matindas yang menururt legenda Menado adalah sosok pria pujaan kaum hawa. Ya, cinta tak mengenal a, b, dan c.
Tantangan hubungan tak hanya sampai di situ. Pinkan yang ditugaskan Kaprodinya ke Jepang untuk melanjutkan studi sekaligus mengajar di sana membuat hubungan ini semakin rumit. Bagaimana tidak, di Jepang sana ada si sontoloyo, Katsuo. Katsuo pria nihontulen yang dulu kuliah di Ibu Pertiwi, sekarang menjadi dosen di Jepang. Pria yang membuat Sarwono cemas, karena ketika di Indonesia ia sengat dekat dengan Pinkan.
Selama di tinggal sementara oleh Pinkan ke negeri Matahari Terbit, Sarwono mengalami konflik batin hebat. Kata-kata Pinkan seolah-olah selalu terdengar di telinganya. Ia berusaha meyakinkan dirinya kalau Pinkan tetap setia padanya. Berusaha percaya si Katsuo tak macam-macam dengan gadis Menadonya.
Pikiran macam-macamnya itu memperburuk kesehatannya yang memang sudah mengidap penyakit paru-paru basah, dirawatah Sarwono di rumah sakit. Pinkan yang mendengar hal itu tanpa pikir panjang langsung kembali ke Indonesia menuju rumah sakit yang merawat Sarwono. Ketika sampai Pinkan tak dibolehkan masuk ke ruang perawatan. Ia hanya menunggu dan membaca puisi dari Sarwono yang dititipkan Sarwono ke ibunya.
Cerita ini mengisahkan dua orang muda-mudi cerdas, pintar, juga berprestasi. Cerita yang memberikan gambaran bahwa prestasi dan keahlian mentereng juga tidak mudah dalam merajut asmara. Si pria Sarwono yang pandai menulis artikel dan puisi, yang karyanya dapat menghasilkan uang, dosen muda Antropogi Universitas Indonesia (UI) yang kerap kali melakukan penelitian. Sedangkan Pinkan, perempuan muda yang sedari ia menjadi mahasiswa berprestasi karena sering dipilih menjadi mahasiswi kehormatan yang diberi mandat tertentu. Gadis yang sekarang berprofesi jua di UI sebagai dosen sasta Jepang yang saat ini mendapat mandat sementara ke Jepang dari kampus untuk melanjutkan studi dan mengajar di sana.
Sayangnya di novel ini terkadang dibeberapa kalimatnya tidak menerapkan faedah tanda baca. Jika diperhatikan, hal ini sengaja dilakukan Sapardi Djoko Damono dalam tulisannya. Kalimat yang sangat panjang tanpa tanda baca. Hal ini akan menjadi asik untuk sesorang yang biasa membaca novel khususnya yang nyentrik seperti ini. Tetapi bagi yang belum terbiasa akan sedikit membingungkan membaca kalimat-kalimat tertentu.
Perlu diketahui, buku Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono sebelum menjadi novel mempunyai perjalanan yang panjang. Awalnya dari puisi, menjadi lagu, kemudian komik, dan nanti film, kini beralih menjadi novel.
Judul : Hujan Bulan Juni
Penulis : Sapardi Djoko Damomo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juni 2015
ISBN : 978-602-03-1843-1
Tebal : 135 Halaman(Aldiansyah Nurrahman)
13.21.00
Sutradara : Steven Spielberg
Produser : Kristie Macosko Krieger, Marc Platt, Steven Spielberg
Produksi : Amblin Entertainment, DreamWorks Pictures, Fox 2000 Pictures, Reliance Entertainment
Pemain Film : Tom Hanks, Mark Rylance, Amy Ryan, Alan Alda
Rilis : 16 Oktober 2015 (USA)
Harga Sebuah Kebenaran
Kisah Budak Belian Merebut Kemerdekaan
Narasi Pembebasan Mata-mata Perang dingin
Written By Maulana Robby on Minggu, 07 Februari 2016 | 13.21.00
Tugas seorang advokat atau pengacara adalah memberi pendampingan hukum kepada kliennya. Namun bagaimana jika klien itu adalah seorang mata-mata? Hal tersebut dialami James Britt Donovan yang diperankan Tom Hanks dalam film Bridge of Spies. James merupakan seorang pengacara asal Amerika serikat. Ia menjadi pengacara Rudolf Abel, mata-mata Uni Soviet yang ditangkap agen Federal Bureau of Investigation (FBI).
Kegiatan spionase antara Amerika Serikat dan Uni Soviet gencar terjadi saat puncak perang dingin. Meski tidak terlibat perang terbuka di antara kedua militer, Amerika Serikat dan Uni Soviet takut akan potensi ancaman nuklir masing-masing. Untuk itu, keduanya saling memata-matai dan saling tangkap agen rahasia.
James awalnya ragu menerima tugas mendampingi proses hukum orang yang paling dibenci warga Amerika saat itu. Keluarga James pun menolak. Namun, dengan segala pertimbangan James akhirnya mau menjadi pengacara Rudolf Abel. Atas keputusannya, James harus menanggung sanksi sosial yang cukup berat, yakni dibenci warga Amerika. Keluarganya juga menanggung hal itu dengan mendapat teror penembakan oleh orang tak dikenal.
Kisah James tidak berhenti sebagai pengacara kontroversial. Central Intelligence Agency (CIA) meminta James menjadi negosiator untuk menukar Rudolf Abel dengan Francis Gary Powers, pilot mata-mata Amerika yang pesawatnya ditembak jatuh Uni Soviet. Pertukaran tersebut mengharuskan James pergi ke Berlin, Jerman. Selain piawai menjadi pengacara, James juga berhasil menjadi negosiator andal. Alhasil, tak hanya mampu menukar Powers, James juga berhasil membebaskan Frederic Pryor, mahasiswa Amerika yang ditahan Jerman Timur.
Dalam film ini, Tom Hanks mampu memerankan sosok pengacara yang bijak, tegas, dan berani. Hal itu dapat dilihat saat James menolak membuka rahasia pembicaraan dengan kliennya kepada seorang agen CIA. James benar-benar menerapkan asas profesionalitas dengan menjaga hak istimewa klien dan pengacara. Tentu saja, semua itu berkat arahan sang sutradara kenamaan, yakni Steven Spielberg.
Perlu diketahui film berdurasi lebih dari dua jam ini diambil dari kisah nyata. Latar film ini memberi kita gambaran kecil mengenai kondisi maupun kejadian-kejadian pada saat perang dingin. Steven Spielberg juga merangkai alur cerita begitu menguras emosi penonton. Misalnya saja saat adegan pesawat Amerika yang ditembak jatuh atau saat pembangunan tembok berlin yang memisahkan warga Jerman Barat dan Timur.
Kemudian, secara tidak langsung film ini memberi citra bahwa Amerika sebagai negara adidaya yang menghargai hukum dan kemanusiaan. Meski Rudolf Abel seorang mata-mata, ia tetap diperlakukan baik selama proses peradilan. Sementara berbeda dengan penggambaran Francis Gary Powers yang ditahan Soviet. Powers diperlakukan kurang begitu menyenangkan oleh pihak komunis Soviet. Walau demikian, setidaknya film ini memberi kita pelajaran tentang profesionalitas kerja dan kecintaan terhadap negara. (KR)
Sutradara : Steven Spielberg
Produser : Kristie Macosko Krieger, Marc Platt, Steven Spielberg
Produksi : Amblin Entertainment, DreamWorks Pictures, Fox 2000 Pictures, Reliance Entertainment
Pemain Film : Tom Hanks, Mark Rylance, Amy Ryan, Alan Alda
Rilis : 16 Oktober 2015 (USA)
Baca juga:
Long March 50 mil Untuk Mendapatkan Hak MemilihHarga Sebuah Kebenaran
Kisah Budak Belian Merebut Kemerdekaan
08.39.00
Bingkai Cerita Drupadi
Written By Maulana Robby on Selasa, 26 Januari 2016 | 08.39.00
Terkadang luka masa lalu memang tidak bisa sepenuhnya terhapuskan. Ada yang menjadi endapan kisah yang sulit untuk kembali diceritakan. Bisa jadi karena terkait dengan kekasih atau keluarga dekat. Namun kali ini sumber utama dari kekejian malah dilakukan oleh negara sendiri.
Ada luka karena kehilangan, ada juga luka yang tumbuh karena harus menanggung karma. Melewati kehidupan berbeda di masa yang berbeda, namun hakikat jiwanya ialah satu. Sesuatu yang dipercayai bernama inkarnasi.
Can. Begitu kerap ia disapa. Tokoh pria ini memiliki ciri khas di masing – masing cerpen dalam Drupadi. Hampir di setiap cerpen tersebut mengandung makna tersirat tentang kepedihan yang tertoreh karena tragedi tahun 1965. Kemudian di bagian kedua, Drupadi menyajikan kumpulan kisah inkarnasi yang benar-benar dialami oleh para tokoh.
Yang menarik adalah ketika Can harus mewawancarai keluarga dari korban tragedi tahun 1965. Meskipun memilik basic seorang wartawan, mencungkil kisah tentang masa lalu yang kelam bukanlah perkara mudah. Apalagi ini terkait dengan suatu keambiguan dalam realitas yang kerap tertanam dalam benak para keluarga korban.
Drupadi bukanlah buku pertama Putu Fajar Arcana. Sudah banyak buku tunggal yang dia lahirkan. Sebut saja kumpulan cerpen Bunga Jepun (2002), Samsara (2005), novel Gandamayu (2012) yang bahkan sempat dipentaskan oleh Teater Garasi di tahun yang sama. Sedangkan karya-karyanya yang lain tersebar di berbagai antologi karya. Saat ini ia menduduki posisi sebagai Editor Harian Kompas Minggu.
Drupadi berhasil disuguhkan dengan sentuhan kepedihan mendalam dan penyesalan di masa lalu dengan elegan. Coba saja tengok cerpen Kado yang Terlambat. Di situ Can sangat paham bagaimana menciptakan sebuah alur yang kerap menjadi misteri bagi pembaca. Kemudian dengan anggunnya cerpen ini ditutup oleh fakta yang mengejutkan. Begitupun dengan cerpen Drupadi di bagian kedua.
Bisa dibilang, kelemahan buku ini hanyalah terletak pada inti cerita yang hampir sepenuhnya sama, yaitu tentang tragedi kemanusiaan, namun dikemas dalam balutan kisah dan tokoh yang berbeda. Tapi tidak berarti hal tersebut mengurangi nilai yang terkandung dalam setiap cerita. Rangkaian kisah yang tertuang akan membuat setiap yang membacanya semakin menyadari arti hidup dan kebersamaan.
Judul : Drupadi
Penulis : Putu Fajar Arcana
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Cetakan : ke-1
Tahun Cetak : 2015
Total Halaman: 152 hlm
ISBN : 978-979-709-984-8
Laras Sekar Seruni (Mahasiswa Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
15.58.00
Islam Merawat Kebinekaan
Written By Maulana Robby on Minggu, 27 Desember 2015 | 15.58.00
70 tahun ternyata belum cukup bagi Indonesia untuk menjadi negara yang matang secara kultural. Persoalan subkultur, etnisitas, adat-istiadat, agama, hingga kesenjangan sosial-ekonomi masih dapat memicu kerentanan konflik. Di antara hal itu, yang paling rentan memicu konflik di Indonesia adalah agama.
Di sisi lain, Indonesia punya semboyan Bhineka Tunggal Ika, yang berarti meski berbeda tapi punya tujuan yang sama. Semua elemen bangsa Indonesia tentu berkewajiban menjaga Bhineka Tunggal Ika, termasuk umat Islam. Gagasan mengenai Bhineka Tunggal Ika ini coba dirumuskan oleh 16 tokoh muslim Indonesia melalui ‘Fikih Kebhinekaan’.
Fikih sendiri berarti pemahaman yang mendalam dan diasosiasikan terhadap Syariat Islam. Sementara kebinekaan berarti keberagaman. Ketika ‘fikih’ disandingkan dengan ‘kebhinekaan’ yang dijadikan judul buku ini, maknanya ialah pandangan keanekaragaman atau rumusan sikap kaum muslim dalam menghadapi perbedaan.
Fikih keberagaman bertujuan untuk memberikan panduan filosofis, teoritis-metodologis, dan praksis di kalangan umat Islam Indonesia. Selain itu, Fikih keberagaman mendorong hubungan sosial yang harmonis, menghilangkan diskriminasi, memperkuat demokratisasi, dan memberikan landasan normatif-religius dalam memenuhi hak-hak warga masyarakat secara berkeadilan.
Buku ini mengangkat empat bagian penting guna meneropong masalah keadilan, kemanusiaan, kebinekaan, dan toleransi. Bagian pertama mengungkap landasan filosofi fikih mengenai makna dasar pemahaman fikih hingga epistimologi Islam kontemporer sebagai basis fikih. Kemudian tiga bagian lainnya yang mendukung yakni, fikih kenegaraan, fikih kemsyarakatan dan kemanusiaan serta fikih kepemimpinan masyarakat dalam masyarakat majemuk.
Empat hal tersebutlah, menurut para penulis dapat menggerakan pemikir Islam yang bernaung pada paradigma roduksionis menuju paradigma eksplanasi Al Quran. Dimana Al Quran tidaklah memiliki makna yang saklek.
Solusi ditawarkan dalam buku ini ialah untuk membuka mata lebar bahwa kehidupan masyarakat semakin modern dihadapkan realitas baru dan realitas-realitas instrumental. Kemudian, masyarakat akan menggeser diri dari nilai-nilai sublime pada kebegaraman pandangan. Jadi, pemikiran terbuka dituntut untuk menghadapi kondisi seperti ini.
Buku Fikih Kebhinekaan dapat dirasakan kental dengan kata-kata khas cendikiawan muslim. Hal ini dapat menambah wawasan bagi pembaca terutama yang menyukai studi keislaman. Namun, sebagian dari kata khas yang terdapat dalam buku tidak memberi penjelasan sehingga membuat pembaca harus mencari kata tersebut di buku lain. (Romaida)
14.42.00
Toleransi di Mata Etnis dan Agama
Written By Maulana Robby on Minggu, 13 Desember 2015 | 14.42.00
Sejak sepuluh tahun terakhir Indonesia dihadapkan dengan berbagai konflik, salah satunya adalah konflik antarkelompok agama dan etnis. Penyebab terjadinya benturan antarkelompok tersebut adalah ketidaksiapan masyarakat Indonesia terhadap keberagaman yang ada. Hal itu menjadi hambatan tersendiri bagi terciptanya bangsa yang multikultur.
Dalam kasus ini, pendidikan diperlukan untuk mengedukasi seseorang agar memahami eksistensinya dalam suatu bangsa multikultural. Minimnya edukasi dapat menjadi pemicu terjadinya kekerasan yang menjadi sejarah kelam bangsa ini.
Bagaimanapun juga, konflik antarkelompok tak bisa dipungkiri telah terjadi di antara masyarakat yang beragama dan memiliki aturan-aturan. Menyoal hal tersebut, maka masyarakat Indonesia perlu saling memahami dan menyamakan cara pandang mengenai kemajemukan, yang kemudian lahirlah gagasan seperti pluralisme.
Buku yang bertajuk Toleransi dan Perkauman, Keberagaman dalam Perspektif Agama-agama dan Etnis-etnis ini mengajak pembaca untuk mengenal keberagaman. Melalui perspektif sembilan cendikiawan, buku ini coba memberi gagasan dari masing-masing agama dan etnis yang ada di Indonesia mengenai toleransi.
Setiap agama maupun etnis yang ada di Indonesia mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan, salah satunya ajaran Kejawen. Ajaran Kejawen diyakini lahir dari jati diri masyarakat Pulau Jawa. Kejawen memandang perbedaan dan keberagaman sebagai bentuk untuk saling melengkapi, saling mengisi, dan saling menyempurnakan.
Begitupun dengan ajaran Hindu di Bali. Dalam bab yang ditulis I Gusti Made Arya Suta Wirawan, ajaran Hindu memandang keberagaman dengan cara tidak mengusik dan bersikap diskriminatif terhadap suatu kaum. Lebih lanjut lagi, ajaran Hindu menganggap hal tersebut sebagai jalan bagi manusia untuk menuju kesempurnaan.
Dalam buku ini, terdapat sembilan bab yang membahas tentang kesetaraan hak, peluang, maupun kedudukan dari agama-agama dan etnis-etnis yang ada di Indonesia. Menariknya, penulisan buku ini memakai sudut pandang dari orang yang menjadi bagian dari agama atau etnis itu sendiri. Hal tersebut yang membedakan buku ini dengan buku-buku dialog antaragama lainnya.
Buku setebal 250 halaman ini sejatinya memberitahukan pembaca tentang toleransi terhadap sesama dalam perspektif agama dan etnis. Bagi anda yang ingin mengetahui nilai-nilai toleransi yang tekandung dalam agama-agama atau etnis-etnis di Indonesia, maka perlu membaca buku ini. (Singgih)
08.00.00
David Oyelowo berhasil memerankan sosok Martin Luther King sebagai pribadi yang cerdas, pandai strategi, dan memiliki sisi humanis yang tinggi. Film berdurasi 128 menit ini juga masuk dalam nominasi Oscar 2015 kategori film terbaik dan soundtrack terbaik.
(Denny Aprianto)
Long March 50 mil Untuk Mendapatkan Hak Memilih
Written By Maulana Robby on Sabtu, 20 Juni 2015 | 08.00.00
Setiap warga negara memiliki hak untuk terlibat dalam pemilihan umum, tak terkecuali ras negro yang tinggal di selatan Amerika Serikat. Namun kenyataan berbanding terbalik. Pada tahun 1965, terjadi diskriminasi rasial terhadap warga keturunan Afrika-Amerika yang tinggal di kota Selma, Alabama. Ras negro dilarang untuk berpatisipasi dalam pemilihan umum.
Ketidakadilan tersebut menyentuh hati Martin Luther King, seorang aktivis hak asasi manusia keturunan negro. Sebagai penerima penghargaan nobel perdamaian, King mempunyai akses untuk meminta langsung kepada presiden Amerika Serikat pada saat itu, Lyndon B. Johnson guna menyelesaikan permasalahan rasisme tersebut. Namun, jawaban Presiden Johnson tidak memuaskan King, akhirnya ia memutuskan untuk datang langsung ke kota Selma.
King tiba di Selma bersama tim yang tergabung di Southern Christian Leadership Conference (SCLC) dan seorang propagandis bernama Diane Nash. Namun, sesampainya di hotel, King disambut dengan perlakuan tidak sopan seorang kulit putih yang melayangkan pukulan tepat ke wajahnya.
King dan SCLC berupaya menjadikan kekerasan ras di kota Selma sebagai headline di koran nasional agar diketahui masyarakat luas. Mereka memanfaatkan Jim Clark, Sheriff di kota tersebut agar memberikan kekerasan kepada para negro.
Setelah menjadi headline koran nasional, King dimasukan ke penjara oleh George Wallace, Gubernur Alabama dengan tuduhan membuat keributan negara. King dikeluarkan dari penjara dan kembali ke Washington untuk meminta bantuan Presiden Johnson untuk kedua kalinya.
Di Selma, 525 warga negro meninggalkan gereja Capel Brown dan berjalan enam blok menyebrangi Jembatan Edmund Pettus dan Sungai Alabama untuk melakukan unjuk rasa di Montgomery, Ibukota Alabama. Namun, aksi mereka gagal karena di pukul mundur oleh aparat keamanan di Jembatan Edmund Pettus.
Mereka mendapat kekerasan fisik , didorong hingga terjatuh, bahkan dipukuli menggunakan tongkat oleh aparat. Akibatnya, banyak dari mereka yang menderita patah tulang rusuk, kepala, lengan, dan kaki. Kerusuhan tersebut disiarkan langsung melalui televisi secara langsung.
King mengadakan jumpa pers dan disiarkan secara nasional. Ia mengajak semua orang baik yang percaya akan kesetaraan untuk bergabung dengannya melakukan unjuk rasa kembali. Ratusan orang kulit putih dan ulama memutuskan untuk datang ke Selma mendukung aksi King.
Pada unjuk rasa kedua, aparat keamanan di Jembatan Edmund Pettus memberi jalan kepada King dan pengunjuk rasa lainnya untuk lewat. Namun, King memilih mundur karena berpikir ini adalah jebakan yang berujung pertumpahan darah dan kematian.
Kemudian, Pengadilan Federal memenangkan gugatan banding SCLC kepada pemerintah Alabama terkait izin berdemonstrasi, King dan warga negro mendapatkan izin lima hari untuk melakukan long march sejauh 50 mil dari kota Selma menuju Ibu Kota Montgomery.
Akhirnya, King berpidato di depan gedung pemerintahan Alabama. Di hadapan ratusan negro, ia menyerukan kesetaraan hak tiap warga negara tanpa terkecuali. Berkat kegigihan King, lima bulan kemudian Presiden Johnson menandatangani Undang-Undang Hak Memilih.
Perjuangan Martin Luther King dikisahkan dalam film berjudul Selma. Ava DuVernay sebagai sutradara sukses mengemasnya dengan alur yang tidak membosankan. Film ini dapat mengingatkan kembali tentang sejarah kelam ras kulit hitam di Amerika Serikat.
David Oyelowo berhasil memerankan sosok Martin Luther King sebagai pribadi yang cerdas, pandai strategi, dan memiliki sisi humanis yang tinggi. Film berdurasi 128 menit ini juga masuk dalam nominasi Oscar 2015 kategori film terbaik dan soundtrack terbaik.
(Denny Aprianto)
00.27.00
Mengenal Munir dan Pemikirannya
Written By Maulana Robby on Jumat, 24 April 2015 | 00.27.00
Munir Said Thalib adalah seorang aktivis kemanusiaan yang sangat aktif memperjuangkan hak-hak orang tertindas. Selama hidupnya, Ia selalu berkomitmen membela siapa saja yang haknya terzalimi. Munir dan sosok humanisnya terlihat ketika ia mendapatkan hadiah ratusan juta rupiah sebagai penerima "The Right Livelyhood Award,". Lalu, Munir tak segan membagikan seluruh hadiahnya kepada Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan ibunda tercinta.
Salah satu sosok yang dikenal di dunia Internasional ini, lahir di Malang, Jawa Timur pada 8 Desember 1965 dan wafat pada 7 September 2004. Munir melanjutkan studi masternya di bidang hukum di program studi master (S2) di Universitas Utrecht. Munir melakukan penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam, Belanda. Saat transit di Singapura, ia wafat karena mengonsumsi makanan yang terkontaminasi racun arsenik.
Namun sangat disayangkan, sampai saat ini kasus kematian Munir menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Kasus ini pun menjadi salah satu agenda pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu, presiden SBY telah menyatakan bahwa kasus kematian Munir merupakan “a test of our history”. Untuk mengungkap kasus kematian Munir, presiden pun menyatakan bahwa semua pihak yang terlibat dalam kasus Munir harus diproses secara hukum.
Proses hukum yang tidak kunjung selesai ini, membuat banyak pihak seperti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menaruh perhatian lebih terhadap kasus Munir. Karena kasus Munir ini tampak begitu banyak halang rintangnya, dan terkesan ditutup-tutupi oleh beberapa oknum. Munir adalah sosok yang disenangi oleh masyarakat, namun cukup dibenci beberapa oknum. Karena pemikirannya yang berbeda dari masyarakat umum lainnya.
Penyusunan buku ini adalah sebuah upaya untuk menghadirkan jejak keprihatinan, refleksi, harapan, intensi, semangat, ideologi, cita-cita, opini atau misi yang dinyatakan oleh Munir baik eksplisit maupun implisit secara lebih komprehensif.
Beberapa warisan pemikiran Munir seperti hak perlindungan pekerja, memori sejarah serta politik persahabatan terinspirasi dari pemikiran Walter Benjamin, seorang pemikir teori kritis dalam Mazhab Frankfurt. Pembahasan tentang memori sejarah serta politik persahabatan, mengadopsi dari buah pemikiran Aristoteles dalam Etika Nikomakhea. Warisan pemikiran yang mungkin sebagai penyebab dari kebencian para oknum kepada Munir.
Selain itu, buku ini mencoba untuk mengadakan pembacaan kembali terhadap beberapa gagasan yang berhubungan dengan aktivitas Munir sebagai human rights defender dan human rights thinker, latar belakang keluarga dan tonggak-tonggak kehidupan Munir, gambaran awal bagaimana karakter Munir terbentuk, lalu dalam buku ini juga membicarakan aktivitas Munir dalam dunia perburuhan, yaitu paparan sepak terjang Munir sejak ia bergabung bersama LBH Pos Malang dan LBH Surabaya, aktivisme Munir ketika ia hijrah ke YLBHI Jakarta dan mulai menangani berbagai kasus pelanggaran HAM juga diceritakan disini.
Dalam buku juga tidak lupa diceritakan sedikit romantisme yang terjalin antara Munir dengan sang istri tercinta Suciwati sebelum mereka melangkah ke pelaminan. menelusuri jejak-jejak pemikiran Munir yang tersebar di berbagai makalah atau artikel yang membahas berbagai hal seperti kekerasan Negara, militerisme, impunitas, demokrasi, supemasi sipil, penegakan HAM dan hukum media massa, dan kepemimpinan masa depan.
Buku ini terinspirasi dari empat buku yang mengulas jejak-jejak kehidupan Munir, yaitu Munir, Sebuah Kitab Melawan Lupa, Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi, Bunuh Munir! Sebuah Buku Putih, dan Membangun Bangsa Menolak Militerisme: Jejak Pemikiran Munir (1965-2004). Hal yang membuat buku ini menarik adalah, kita dapat merasakan secara gamblang dan jelas sosok Munir sebenarnya di sini. Sebagai pemuda kita harus memiliki jiwa seperti Munir yang menjunjung tinggi jiwa keadilan.
Penyusun: Tim Redaksi LP3ES
ISBN: 9789793330723
Jumlah halaman: 187
ukuran: 15.5 x 23 cm
Penerbit: Pustaka LP3ES
ISBN: 9789793330723
Jumlah halaman: 187
ukuran: 15.5 x 23 cm
Penerbit: Pustaka LP3ES
Tahun terbit: September 2007
(Melinda Luthfianna)
12.58.00
Tugas seorang reporter di sebuah perusahaan penyiaran adalah mencari informasi yang bertujuan untuk menyampaikan kebenaran. Seperti halnya Choi In Ha, seorang perempuan muda yang bekerja sebagai reporter di stasiun televisi MSC mengidap Sindrom Pinocchio, yakni sebuah sindrom yang membuat Choi In Ha cegukan jika berbohong. Sedangkan Choi Dal Po adalah seorang lelaki muda yang bekerja sebagai reporter di stasiun televisi YGN. Tetapi, anehnya Ia membenci dunia penyiaran karena membuat hancur keluarganya.
Ketika Choi Dal Po kecil, terjadi ledakan pabrik yang menyebabkan beberapa petugas pemadam kebakaran meninggal dunia. Lalu kepala pemadam kebakaran tersebut, yang merupakan Ayah Choi Dal Po dituduh tidak bertanggungjawab dan melarikan diri. Di sini Peran media justru menyudutkan pihak keluarga Choi Dal Po sehingga ibunya bunuh diri.
Beberapa tahun kemudian, Choi Dal Po dan Choi In Ha tumbuh remaja dan tertarik dengan dunia penyiaran. Choi Dal Po memiliki tekad, dia ingin membuktikan ke dunia bahwa seorang jurnalis haruslah jujur dan memberitakan berita sesuai fakta. Dia diterima di stasiun televisi YGN dengan mudah karena ia seorang yang pandai. Sedangkan Choi In Ha yang bercita-cita menjadi reporter sejak kecil, memiliki kesulitan dengan Sindrom Pinocchio-nya. Sehingga stasiun televisi YGM menolak dan akhirnya diterima di MSC berkat ibunya yang merupakan peminpin redaksi media tersebut.
Beberapa saat setelah keduanya menjadi reporter masing-masing stasiun televisi tersebut, terjadi sebuah kasus kebakaran pabrik yang mirip dengan kasus 13 tahun sebelumnya, ketika Ibu dari Dal Po meninggal. MSC berusaha mengalihkan isi berita tersebut agar tidak diketahui apa penyebab kebakaran itu. Tetapi, Choi Dal Po dan Choi In Ha mengetahui kejanggalan cerita yang dibuat-buat dalam kasus tersebut. Sebagai reporter profesional, mereka merasa harus mencari kebenaran tentang penyebab kebakaran pabrik tersebut.
Setelah diselidiki, akhirnya terbongkarlah semua tentang kecurangan stasiun televisi MSC yang selama ini mendramatisir pemberitaan hanya demi ratting semata. Bahkan kasus ledakan pabrik 13 tahun sebelumnya juga ikut terbongkar. Sebuah perusahaan memperalat stasiun televisi MSC untuk membuat opini publik dengan mengalihkan isi pemberitaan. Setelah terbongkarnya kasus tersebut, masyarakat mengetahui bahwa selama ini MSC banyak melakukan kebohongan publik.
Drama Pinocchio ini ditulis oleh Park Hye Ryun, seorang penulis yang memiliki karakter dengan dunia fantasi dalam ceritanya. Salah satunya fantasi mengenai sindrom Pinocchio dalam drama ini. Bahkan dia juga membubuhkan dunia fantasinya dalam drama lain yang Ia tulis yaitu I Hear Your Voice. Selain itu, Park Hye Ryun juga menulis beberapa drama lainnya seperti Dream High, Kimchi Cheese Smile, Karl and Su-jung, Stranger Than Paradise, Not Alone, dan sebuah film berjudul Hellcats.
Pemilihan karakter dalam film ini tepat sehingga terlihat natural dalam tiap adegan ceritanya. Mulai dari pemeran utama, hingga pemeran pendukung pun berkarakter. Sutradara memilih banyak aktris terkenal dalam drama Pinocchio ini. Selain itu, kita mengetahui banyak hal baru tentang dunia penyiaran yang belum kita ketahui sebelumnya.
Hal yang disayangkan dari drama ini adalah panjangnya episode tidak diiringi dengan keragamaman cerita, tetapi hal tersebut terbayar dengan banyaknya pesan moral yang dapat diperoleh dari drama Pinocchio. Seperti bagaimana media penyiaran seharusnya netral dalam menyampaikan isi berita tanpa memihak siapapun, karena media adalah mata, telinga, dan mulut masyarakat.
Tidak hanya untuk kalangan media saja, drama Korea ini juga cocok ditonton oleh semua kalangan. Karena dalam drama ini bercerita, bagaimana seorang reporter dalam menyampaikan berita. (Eva Agustina A)
Harga Sebuah Kebenaran
Written By Maulana Robby on Selasa, 07 April 2015 | 12.58.00
Tugas seorang reporter di sebuah perusahaan penyiaran adalah mencari informasi yang bertujuan untuk menyampaikan kebenaran. Seperti halnya Choi In Ha, seorang perempuan muda yang bekerja sebagai reporter di stasiun televisi MSC mengidap Sindrom Pinocchio, yakni sebuah sindrom yang membuat Choi In Ha cegukan jika berbohong. Sedangkan Choi Dal Po adalah seorang lelaki muda yang bekerja sebagai reporter di stasiun televisi YGN. Tetapi, anehnya Ia membenci dunia penyiaran karena membuat hancur keluarganya.
Ketika Choi Dal Po kecil, terjadi ledakan pabrik yang menyebabkan beberapa petugas pemadam kebakaran meninggal dunia. Lalu kepala pemadam kebakaran tersebut, yang merupakan Ayah Choi Dal Po dituduh tidak bertanggungjawab dan melarikan diri. Di sini Peran media justru menyudutkan pihak keluarga Choi Dal Po sehingga ibunya bunuh diri.
Beberapa tahun kemudian, Choi Dal Po dan Choi In Ha tumbuh remaja dan tertarik dengan dunia penyiaran. Choi Dal Po memiliki tekad, dia ingin membuktikan ke dunia bahwa seorang jurnalis haruslah jujur dan memberitakan berita sesuai fakta. Dia diterima di stasiun televisi YGN dengan mudah karena ia seorang yang pandai. Sedangkan Choi In Ha yang bercita-cita menjadi reporter sejak kecil, memiliki kesulitan dengan Sindrom Pinocchio-nya. Sehingga stasiun televisi YGM menolak dan akhirnya diterima di MSC berkat ibunya yang merupakan peminpin redaksi media tersebut.
Beberapa saat setelah keduanya menjadi reporter masing-masing stasiun televisi tersebut, terjadi sebuah kasus kebakaran pabrik yang mirip dengan kasus 13 tahun sebelumnya, ketika Ibu dari Dal Po meninggal. MSC berusaha mengalihkan isi berita tersebut agar tidak diketahui apa penyebab kebakaran itu. Tetapi, Choi Dal Po dan Choi In Ha mengetahui kejanggalan cerita yang dibuat-buat dalam kasus tersebut. Sebagai reporter profesional, mereka merasa harus mencari kebenaran tentang penyebab kebakaran pabrik tersebut.
Setelah diselidiki, akhirnya terbongkarlah semua tentang kecurangan stasiun televisi MSC yang selama ini mendramatisir pemberitaan hanya demi ratting semata. Bahkan kasus ledakan pabrik 13 tahun sebelumnya juga ikut terbongkar. Sebuah perusahaan memperalat stasiun televisi MSC untuk membuat opini publik dengan mengalihkan isi pemberitaan. Setelah terbongkarnya kasus tersebut, masyarakat mengetahui bahwa selama ini MSC banyak melakukan kebohongan publik.
Drama Pinocchio ini ditulis oleh Park Hye Ryun, seorang penulis yang memiliki karakter dengan dunia fantasi dalam ceritanya. Salah satunya fantasi mengenai sindrom Pinocchio dalam drama ini. Bahkan dia juga membubuhkan dunia fantasinya dalam drama lain yang Ia tulis yaitu I Hear Your Voice. Selain itu, Park Hye Ryun juga menulis beberapa drama lainnya seperti Dream High, Kimchi Cheese Smile, Karl and Su-jung, Stranger Than Paradise, Not Alone, dan sebuah film berjudul Hellcats.
Pemilihan karakter dalam film ini tepat sehingga terlihat natural dalam tiap adegan ceritanya. Mulai dari pemeran utama, hingga pemeran pendukung pun berkarakter. Sutradara memilih banyak aktris terkenal dalam drama Pinocchio ini. Selain itu, kita mengetahui banyak hal baru tentang dunia penyiaran yang belum kita ketahui sebelumnya.
Hal yang disayangkan dari drama ini adalah panjangnya episode tidak diiringi dengan keragamaman cerita, tetapi hal tersebut terbayar dengan banyaknya pesan moral yang dapat diperoleh dari drama Pinocchio. Seperti bagaimana media penyiaran seharusnya netral dalam menyampaikan isi berita tanpa memihak siapapun, karena media adalah mata, telinga, dan mulut masyarakat.
Tidak hanya untuk kalangan media saja, drama Korea ini juga cocok ditonton oleh semua kalangan. Karena dalam drama ini bercerita, bagaimana seorang reporter dalam menyampaikan berita. (Eva Agustina A)
Judul : Pinocchio
Genre : Drama, Romance, Komedi, Kekeluargaan
Tanggal Rilis : 12 November 2014
Sutradara : Jo Soo Won
13.05.00
Selama ini banyak kalangan yang cenderung melihat marxisme sebagai ajaran materialistik yang menyampingkan agama. Oleh karena itu, masyarakat perlu menutup diri terhadapnya. Bahkan kelompok-kelompok anti-Marxisme yang menaruh curiga terhadap ideologi tersebut tumbuh subur di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.
Pandangan negatif demikian terjadi karena melihat ajaran Karl Marx dari satu sisi saja. Kebanyakan orang hanya melihat dan memahami pikiran Marx Tua, sebagaimana tertuang dalam karya-karya terakhirnya. Padahal, terlepas dari ateistik atau tidaknya pandangan Karl Marx, ternyata ia adalah seorang yang menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan.
Kalangan anti-Marxisme maupun pro-Marxisme sering lupa bahwa ada satu sisi ajaran Marx yang tak kalah pentingnya, yakni gagasan yang biasa disebut dengan karya Marx Muda. Di antara karya-karya Marx Muda yang paling menonjol adalah Economic and Philosophical Manuscripts, sebuah gagasan yang ditulis Marx di Paris pada 1844. Dalam karya Marx Muda itulah akan dijumpai sosok Karl Marx sebagai filsuf yang humanis.
Sebagai seorang pemikir terkemuka, Marx dalam karya-karya awalnya menekankan bahwa semua penyelenggaraan sosial harus diarahkan demi perkembangan manusia. Marx juga berpendapat bahwa manusia harus selalu menjadi tujuan, dan tidak boleh menjadi sarana. Kemudian, manusia juga harus memiliki kemampuan untuk menyempurnakan diri dalam sejarah.
Humanisme Marxis tampak dalam usahanya dalam memperjuangkan manusia tanpa kompromi untuk melawan setiap penindasan. Apa yang diusahakan Marxisme adalah mewujudkan suatu kondisi sosial yang menjamin kebahagiaan manusia. Untuk itu, segala sesuatu yang bersifat menindas nilai kemanusiaan harus dihapuskan dari muka bumi.
Meski demikian, gagasan mengenai Humanisme Marxis tidak pernah menjanjikan mampu memberi kebahagiaan seseorang. Namun, Humanisme Marxis menjanjikan terhapusnya unsur-unsur sosial yang menyebabkan ketidakbahagiaan individu.
Perlu diketahui, Humanisme Marxis selain bersifat radikal dan militan, juga bersifat praktis. Artinya, Humanisme Marxis tak hanya bicara mengenai ide-ide kemanusiaan, tapi merealisasikan dalam kehidupan nyata masyarakat. Realisasi ini tampak dalam komunisme. Jadi, komunismelah yang secara nyata mengusahakan terwujudnya manusia yang diidealkan oleh Karl Marx.
Dalam rangka mengonstruksi kembali Marxisme, buku ini mencoba memperkenalkan pemikiran Marx Muda sebagai filsuf yang humanis. Buku karya Baskara T. Wardaya ini juga melampirkan beberapa teks yang ditulis Karl Marx saat remaja, dan sedang jatuh cinta, memberikan citarasa tersendiri bagi pembacanya.
Bagi anda yang memahami Marxsisme sebagai ajaran anti-Tuhan, tampaknya perlu membaca buku ini agar mendapat sedikit pencerahan. Jadi, anda tidak melulu terjebak dalam pandangan negatif tentang ajaran Marx.
Judul: Marx Muda: Marxisme Berwajah Manusiawi
Penulis: Baskara T. Wardaya
Peneribit: Buku Baik, Yogyakarta
Tahun: 2003
Halaman: 126 hlm.
ISBN: 979-3239-03-4
Humanisme, Sisi Lain Gagasan Marxis
Written By Maulana Robby on Kamis, 26 Maret 2015 | 13.05.00
Selama ini banyak kalangan yang cenderung melihat marxisme sebagai ajaran materialistik yang menyampingkan agama. Oleh karena itu, masyarakat perlu menutup diri terhadapnya. Bahkan kelompok-kelompok anti-Marxisme yang menaruh curiga terhadap ideologi tersebut tumbuh subur di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.
Pandangan negatif demikian terjadi karena melihat ajaran Karl Marx dari satu sisi saja. Kebanyakan orang hanya melihat dan memahami pikiran Marx Tua, sebagaimana tertuang dalam karya-karya terakhirnya. Padahal, terlepas dari ateistik atau tidaknya pandangan Karl Marx, ternyata ia adalah seorang yang menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan.
Kalangan anti-Marxisme maupun pro-Marxisme sering lupa bahwa ada satu sisi ajaran Marx yang tak kalah pentingnya, yakni gagasan yang biasa disebut dengan karya Marx Muda. Di antara karya-karya Marx Muda yang paling menonjol adalah Economic and Philosophical Manuscripts, sebuah gagasan yang ditulis Marx di Paris pada 1844. Dalam karya Marx Muda itulah akan dijumpai sosok Karl Marx sebagai filsuf yang humanis.
Sebagai seorang pemikir terkemuka, Marx dalam karya-karya awalnya menekankan bahwa semua penyelenggaraan sosial harus diarahkan demi perkembangan manusia. Marx juga berpendapat bahwa manusia harus selalu menjadi tujuan, dan tidak boleh menjadi sarana. Kemudian, manusia juga harus memiliki kemampuan untuk menyempurnakan diri dalam sejarah.
Humanisme Marxis tampak dalam usahanya dalam memperjuangkan manusia tanpa kompromi untuk melawan setiap penindasan. Apa yang diusahakan Marxisme adalah mewujudkan suatu kondisi sosial yang menjamin kebahagiaan manusia. Untuk itu, segala sesuatu yang bersifat menindas nilai kemanusiaan harus dihapuskan dari muka bumi.
Meski demikian, gagasan mengenai Humanisme Marxis tidak pernah menjanjikan mampu memberi kebahagiaan seseorang. Namun, Humanisme Marxis menjanjikan terhapusnya unsur-unsur sosial yang menyebabkan ketidakbahagiaan individu.
Perlu diketahui, Humanisme Marxis selain bersifat radikal dan militan, juga bersifat praktis. Artinya, Humanisme Marxis tak hanya bicara mengenai ide-ide kemanusiaan, tapi merealisasikan dalam kehidupan nyata masyarakat. Realisasi ini tampak dalam komunisme. Jadi, komunismelah yang secara nyata mengusahakan terwujudnya manusia yang diidealkan oleh Karl Marx.
Dalam rangka mengonstruksi kembali Marxisme, buku ini mencoba memperkenalkan pemikiran Marx Muda sebagai filsuf yang humanis. Buku karya Baskara T. Wardaya ini juga melampirkan beberapa teks yang ditulis Karl Marx saat remaja, dan sedang jatuh cinta, memberikan citarasa tersendiri bagi pembacanya.
Bagi anda yang memahami Marxsisme sebagai ajaran anti-Tuhan, tampaknya perlu membaca buku ini agar mendapat sedikit pencerahan. Jadi, anda tidak melulu terjebak dalam pandangan negatif tentang ajaran Marx.
Judul: Marx Muda: Marxisme Berwajah Manusiawi
Penulis: Baskara T. Wardaya
Peneribit: Buku Baik, Yogyakarta
Tahun: 2003
Halaman: 126 hlm.
ISBN: 979-3239-03-4
12.20.00
Edensor, Sebuah Kota Impian
Written By Maulana Robby on Sabtu, 06 Desember 2014 | 12.20.00
Berangkat dari mimpi dan tekad yang kuat, Ikal dan Arai rela menjadi kuli panggul di pasar sebelum pergi bersekolah untuk mewujudkan cita-citanya. Di balik kegigihan mereka berdua, ada sosok guru yang setia mengiringi langkah Ikal dan Arai dalam mewujudkan impiannya. Balia, seorang guru sastra di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berhasil menjadi aktor penyemangat mereka berdua.
Selepas SMA, Ikal dan Arai harus berpisah. Ikal melanjutkan pendidikannya di Bandung, sementara Arai kuliah di Kalimantan. Mereka berdua dipertemukan kembali saat sama-sama menjalani tes beasiswa ke Eropa. Tak disangka mereka berdua pun mendapatkan beasiswa dari UNI Eropa untuk melanjutkan S2 di Universitas Sorbonne, Paris, Perancis.
Saat Ikal dan Arai memulai kuliahnya di Universitas Sorbonne, mereka berdua bertemu dengan pelajar dari berbagai negara. Ikal dan Arai pun mencoba bergaul dengan pelajar dari berbagai negara tersebut.
Pada waktu liburan musim panas, Ikal dan Arai menyusun rencana untuk berkeliling Eropa. Mereka berdua pun mengusulkan kepada teman-teman dari negara lain untuk membiayai keliling Eropa dengan cara mengamen.
Dalam perjalanannya, Ikal dan Arai melewati berbagai negara Eropa, mulai dari Belanda, Jerman, Denmark, Swedia, Norwegia, Russia, dan Spanyol. Namun, saat petualangannya, Arai terserang penyakit yang harus membawanya kembali ke Indonesia.
Ikal merasa sangat kehilangan ditinggal Arai. Ia pun pergi ke Inggris untuk melakukan riset studinya. Di Inggris, Ikal diundang minum teh ke rumah profesor Turnbull. Saat di tengah perjalanan Ikal meminta supir bus untuk berhenti. Kemudian Ikal pun turun, dan mengamati keadaan sekitar. Tempat itu pernah menjadi impian Ikal. Sebuah tempat yang pernah dilukiskan keindahannya oleh A Ling.
A Ling adalah seseorang yang telah memberi kekuatan dalam perjalanan hidup Ikal. Ia benar-benar tak percaya bahwa dirinya telah berada di Edensor. Namun, yang pasti
Ikal telah melihat langsung panorama sebuah kota impian, Edensor.
Ikal telah melihat langsung panorama sebuah kota impian, Edensor.
Edensor adalah buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Dalam buku ketiga, Andrea menuliskan impiannya semasa remaja. Semua impian tersebut pun menjadi kenyataan. Dengan tekad yang besar, Andrea menginspirasi begitu banyak orang dengan kekuatan mimpi itu sendiri.
Judul Edensor sendiri diambil dari salah satu kota yang berada di Inggris. Satu dari sekian banyak kota di dunia yang pernah dikunjungi oleh Andrea Hirata. Buku ini juga menjadi nominator Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2007. Selain itu, buku ini pernah dipakai untuk refrensi ilmiah, dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.
Mengagumkan. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan tokoh Ikal dalam novel Edensor. Di novel ini dia berhasil mencapai segala cita-citanya. Mulai dari mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke Universitas Sorbonne, Paris. Berlanjut berkelana keliling Eropa dan menjejakkan kaki di Afrika.
Betapa kekuatan mimpi tidak bisa diragukan sedikitpun. Untuk setiap orang yang mempunyai impian, maka percayalah bahwa suatu hari nanti itu semua akan terwujud. Andrea Hirata sudah membuktikan itu semua.
Racikan kata dan kalimat yang ditulis Andrea Hirata mampu menggambarkan pengalamannya. Pembaca pun akan larut, seolah ikut dalam petualangan tersebut. Pembaca yang ingin sekadar mencari informasi lebih seputar Paris juga bisa membaca buku ini. Buku ini sangat menginspirasi banyak orang, terutama yang memiliki mimpi besar, dan sedang berusaha mewujudkannya. (Laras)*
*Peresensi adalah mahasiswa Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta semester 3
13.02.00
HAM Universal Versus Agama dan Kebudayaan
Written By Maulana Robby on Senin, 03 November 2014 | 13.02.00
Sudah lebih dari setengah abad Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia disahkan, yakni pada 10 Desember 1948. Deklarasi tersebut merupakan sejarah bagi peradaban umat manusia, mengingat untuk pertama kalinya sebuah sistem nilai menjadi universal.
Namun seiring berjalannya nilai tersebut, polemik Hak Asasi Manusia (HAM) secara universal yang telah diakui oleh sebagian besar masyarakat dunia, dipertanyakan substansinya. Jika benar HAM secara universal diakui sebagian besar masyarakat dunia, mengapa negara-negara Barat sering bertindak represif terhadap negara-negara Asia, bahkan beberapa negara Islam menjadi target penyerangan secara militer, dengan alasan memberantas terorisme.
Jika ditelaah, polemik HAM secara universal mengerucut pada persoalan Agama dan Kebudayaan. Kedua aspek ini kerap menjadi sandungan bagi para pejuang hak-hak asasi manusia dalam upaya penegakan HAM. Pada ranah agama misalnya, penegak HAM harus menghadapi kesulitan dengan tafsir dan praktik agama yang fundamentalis.
Buku ini mengulas lima polemik HAM secara universal, yaitu polemik antara hak-hak asasi universal dan republikanisme, hak-hak asasi versi Barat dan versi Islam, antara hak-hak individual dalam liberalisme dan hak-hak kolektif dalam multikulturalisme, antara hak-hak asasi manusia dan nilai-nilai Asia, dan antara hak asasi manusia dengan kewajiban asasi manusia. di dalam buku ini, kelima polemik tersebut dibahas ke dalam 6 BAB, dengan penjabaran yang tersusun secara sistematis.
Selain itu, dipaparkan mengenai kepentingan politis di balik retorika keunggulan agama dan kebudayaan dalam mengkritik instrumentalisasi hak-hak asasi manusia. Buku yang ditulis oleh Dr. F. Budi Hardiman juga menegaskan bahwa hak-hak asasi manusia digunakan untuk melindungi manusia dari hal negatif dalam modernitas. Di era serba modern ini, manusia perlu dilindungi dari kesewenangan kekuasaan, ekspansi pasar kapitalis, dan dominasi teknologi.
Bagi penulis buku ini, hak-hak asasi manusia tidak dapat direlatifkan meski dengan dalih-dalih kekhasan agama ataupun kebudayaan sekalipun. Pada intinya, buku ini dapat memberi pencerahan kepada pembacanya dalam memetakan berbagai polemik hak-hak asasi manusia secara universal yang terjadi di dunia ini.
Pembaca dapat menjadikan buku ini sebagai acuan dalam menyikapi fenomena-fenomena yang berkaitan dengan HAM. Dengan menggunakan bahasa yang lugas dan mudah dipahami, maka buku ini merupakan bacaan wajib bagi dosen, mahasiswa, aktivis, politikus, penegak hukum, maupun khalayak umum yang ingin mempelajari hak-hak asasi manusia. (KR)
Judul Buku : Hak-hak Asasi Manusia Polemik dengan Agama dan Kebudayaan
Penulis : F. Budi Hardiman
Tebal : 159 halaman
No. ISBN : 978-979-21-3083-6
Penerbit : Kanisius
Tahun : 2011












