Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Seputar Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Kampus. Tampilkan semua postingan
12.42.00
Visual Literasi: Cara Bikin Foto Bagus Melalui Konsep Visual
Written By Maulana Robby on Sabtu, 17 September 2016 | 12.42.00
![]() |
| Okky Ardya saat menyampaikan materi Visual Literasi di Teater Prof. Dr. Aqib Suminto lantai 2 Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Selasa, (6/9/2016). |
Foto ternyata bukan hanya karya seni yang dapat dinikmati dengan melihatnya saja, foto juga dapat dibaca. Caranya dapat dipelajari melalui konsep visual literasi. Hal tersebut disampaikan oleh Okky Ardya, fotografer freelance yang menjadi narasumber dalam acara Seminar Visual Literasi yang diadakan di Teater Prof. Dr. Aqib Suminto lt.2 gedung Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Selasa (6/9/2016).
“Secara singkat, visual literasi itu cara bikin foto bagus melalui konsep visual,” jawab Okky ketika ditanya tentang visual literasi. Okky juga mengungkapkan betapa pentingnya visual literasi dalam dunia fotografi, khususnya untuk membantu orang agar lebih teliti lagi ketika melihat suatu foto. Hal ini berkaitan pula dengan kesadaran fotografer terhadap karyanya yang dipublikasikan.
Menurut Okky hasil foto yang bagus dari para fotografer ternama bukan karena kebetulan saja, melainkan karena kejeniusan mereka memahami visual literasi dan cara mereka menentukan momen. “Terkadang memang ada momen yang hanya datang sekali, yang membuat foto itu terlihat bagus. Namun, para fotografer yang memiliki pengetahuan visual literasi dapat membuat momen sehingga foto-fotonya bukan hanya sekadar kebetulan bagus,” jelas Okky.
Dalam menyampaikan materinya, Okky menampilkan foto dari para fotografer kenamaan seperti Steve McCurry, Ansel Adams sampai Constantine Manos. Wanita yang mengawali karirnya sebagai jurnalis ini mulai membedah detil dari tiap foto tersebut, dari titik, garis, warna, keruangan, kontras dan lainnya yang merupakan unsur-unsur visual literasi.
Okky mengapresiasi acara Seminar Visual Literasi yang diadakan oleh Jurnalistik angkatan 2013. “Karena jarang sekali orang yang mau mempelajari visual literasi dan menariknya UIN merupakan salah satu kampus yang tertarik untuk mengadakan seminar ini,” tegasnya.
Atika Fauziyyah salah satu panitia acara mengatakan, tujuan diadakannya acara seminar ini untuk mengajak mahasiswa belajar bersama tentang visual literasi dari awal. Menurut ia seminar ini sangat penting karena di UIN sendiri tidak ada mata kuliah visual literasi. “Sangat disayangkan jika tidak ikut, karena tidak usah mengeluarkan uang untuk ikut acara ini,” tuturnya.
Joni salah satu peserta seminar dari Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta mengatakan, seharusnya acara seperti ini lebih sering diadakan, agar mahasiswa bisa menambah wawasan. “Supaya mahasiswa nggak cuma belajar di kelas dengan dosen yang itu-itu saja,” tegasnya.
Seminar Visual Literasi merupakan satu dari rangkaian acara dalam kegiatan Pameran Fotografi Jurnalistik angkatan 2013. Pameran Fotografi berlangsung dari tanggal 5-10 September 2016 di Aula Student Centre UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
(Nawawi)
Label:
Berita,
Seputar Kampus
02.04.00
Solilokui: Ajak Berdialog Lewat Foto
| Salah satu pengunjung sedang melihat foto di pameran Solilokui. |
Foto bukan hanya sekumpulan pixel yang bersinergi membentuk sebuah gambar. Lebih dari itu semua, foto memiliki cerita di dalamnya. Melalui foto pula, setiap fotografer berusaha menceritakan sesuatu dibalik sebuah karya. Hal inilah yang ingin disampaikan mahasiswa Jurnalistik angkatan 2013 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dengan menyelenggarakan pagelaran karya fotografi bertajuk Solilokui, Senin, (5/9/2016).
Kurator sekaligus dosen Fotografi Jurnalistik Rasdian A Vadin mengatakan, Solilokui ini adalah dialog secara personal yang bisa mengungkapkan atau menampilkan perenungan. “Perenungan bisa secara personal bisa juga refleksi dari keadaan lingkungan sekitar. Persoalannya macam-macam, bisa merespon kemiskinan, kondisi penggusuran dan lain sebagainya,” jelasnya.
Ketua panitia Denny Aprianto menjelaskan, pameran yang menampilkan 192 karya foto ini mengangkat berbagai macam isu, mulai dari isu ekomomi, budaya, sosial kemasyarakatan hingga politik. “Terkait hasil foto, masing-masing fotografer ingin menyampaikan pesan yang berbeda-beda di setiap karyanya,” kata Denny.
“Banyak foto yang unik salah satunya Bike for Life karya Agung Suryono, yang mengisahkan orang-orang yang hidup dengan sepeda atau bisa dibilang sepeda sebagai bagian dari kehidupannya. Ada juga ibu-ibu sukarelawan yang menjadi penjaga rel kereta,” ujar Denny.
Zaky salah satu pengunjung pameran mengaku sengaja datang untuk menyaksikan karya-karya yang dipamerkan di Aula Student Center (SC) UIN Syarif Hidayatullah ini setelah selesai mengikuti seminar yang juga merupakan bagian dari rangkaian acara. Mahasiswa yang suka denga fotografi ini merasa kagum dengan foto-foto yang dipamerkan.
“Fotonya bagus, konsepnya juga baru, inovatif, tempat pamerannya pun lebih baru dengan konsep dan desain interiornya, kemudian hasil foto-fotonya pun banyak pesan di dalamnya”, jelas Zaky.
Solilokui merupakan rangkaian acara yang berisi pameran foto, seminar serta screening film. Acara yang sudah diadakan empat kali ini merupakan puncak dari tugas salah satu mata kuliah di jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yaitu Foto Jurnalistik.
(Robby Septyan Maulana)
Label:
Berita,
Seputar Kampus
10.38.00
Hari Bumi, Diet Kantong Plastik hingga Sapu Danau
Written By Maulana Robby on Jumat, 22 April 2016 | 10.38.00
Untuk memperingati Hari Bumi beragam aktivitas lingkungan dilakukan agar meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Salah satu kegiatannya yakni kampanye diet kantong sampah.
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Arkadia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam penggunaan kantong plastik. “Kita harap masyarakat menggunakan kantong plastik secukupnya,” kata Ketua Pelaksana Muhammad Abdul Baits, Ciputat, Jumat (22/4/2016).
KPA Arkadia juga mengajak mahasiswa untuk berpartisipasi dalam kampanye diet kantong plastik di sekitar kampus. “Pada kegiatan ini setiap orang boleh menukar minimal tiga plastik dengan satu goodie bag dari kami,” ujar Muhammad.
Dalam seminar Kartini For Earth, Aktivis Perempuan Kohati Ciputat Ana, mengatakan perempuan harus memiliki kesadaran yang setara untuk juga berkampanye tentang lingkungan sehat. Perempuan juga harus memiliki semangat bergerak di bidang apapun.
Plastik, lanjut Ana, membutuhkan waktu 1000 tahun untuk melebur dengan tanah. Untuk itu ia mengajak masyarakat untuk lebih hemat dalam penggunaan plastik. “Mulai hari ini, mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, mari sama-sama kurangi penggunaan plastik,” ajaknya.
Keesokan harinya, KPA Arkadia dan 60 Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) dari berbagai kampus melakukan kegiatan Sapu Danau di Situ Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan.
“Banyaknya masyarakat yang membuang sampah sembarangan terutama sampah plastik di danau menjadi alasan pentingnya edukasi tentang penggunaan plastik secukupnya kepada masyarakat,” ungkap Muhammad.
Anggota Mapala Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI Depok Ratna, mengatakan hal ini merupakan langkah yang baik untuk menjaga kebersihan di sekitar danau dan juga sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi sesama mapala.
“Seru banget, orang-orangnya welcome jadi gue seneng ada disini, terus juga banyak yang bisa diambil dari acara ini, contohnya seperti jangan buang sampah sembarangan dan kalau ada sampah diambil, jangan di biarin saja,” ujar Ratna. (Romaida/Alboja).
Label:
Seputar Kampus
04.12.00
Hasil Hitung Cepat Pemira 2015 UIN Jakarta
Written By Maulana Robby on Selasa, 22 Desember 2015 | 04.12.00
Label:
Seputar Kampus
22.01.00
Distribusi Logistik Pemira Telat, KPU Enggan Berkomentar
Written By Maulana Robby on Minggu, 20 Desember 2015 | 22.01.00
![]() |
| TPS di Fakultas Dirasat Islamiyah |
Distribusi logistik Pemira UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telat di beberapa fakultas. Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) misalnya. Hingga pukul 09.00 WIB, Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) FEB belum menerima logistik pemira. Keterlambatan tersebut berakibat pada proses pemungutan suara yang dijadwalkan mulai pukul 08.00 WIB.
Ketua KPPS FEB Sujana Romayudi mengatakan, keterlambatan logistik pemira dikarenakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) UIN Jakarta belum selesai menghitung jumlah surat suara yang akan didistribusikan ke seluruh fakultas. "KPU baru selesai menghitung surat suara pukul 07.00 WIB," katanya saat ditemui di TPS FEB, Senin (21/12/2015). (Baca: Pemira UIN Jakarta di Mata Mahasiswa)
Hal serupa juga terjadi di Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Keterlambatan pendistribusian logistik membuat jadwal pemungutan suara di FST ngaret dua jam. "Logistik telat dikirim KPU. Tempat Pemungutan Suara (TPS) FST baru dibuka pukul 11.00 WIB," ujar Mumtaz Haya, Ketua KPPS FST kepada JLonline.
Keterlambatan itu menuai kritik dari mahasiswa yang ingin memberikan hak suaranya. Laurence, mahasiswa Jurusan Fisika mengaku terganggu dengan adanya keterlambatan pemungutan suara. Menurutnya, persoalan teknis seperti keterlambatan distribusi logistik dan jadwal pemungutan suara seharusnya tidak terjadi. "Tiap tahun selalu terjadi seperti ini. Seharusnya ada perbaikan dan peningkatan dari pihak penyelenggara. Gue udah nunggu setengah jam lebih di TPS tapi gak dimulai," ungkap mahasiswa semester 5 ini. (Baca: Soal Pemira, Warek III: Apapun Hasilnya, Bersikaplah Legowo)
Namun, ketika hendak dimintai keterangan, Ketua KPU UIN Jakarta enggan ditemui. Pihak KPU hanya mengutus salah seorang anggotanya untuk menemui reporter JLonline. "Yang berwenang memberikan statement Ketua KPU. Saat ini Ketua sedang lelah," ujar anggota KPU yang enggan disebutkan namanya. Hingga berita ini dirilis, pihak KPU belum memberikan keterangan resmi apapun. (Red)
Label:
Seputar Kampus
12.50.00
Soal Pemira, Warek III: Apapun Hasilnya, Bersikaplah Legowo
Written By Maulana Robby on Jumat, 18 Desember 2015 | 12.50.00
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Yusron Razak mengimbau agar pelaksanaan Pemilihan Umum Raya (Pemira) 2015 berlangsung sesuai aturan yang berlaku. “Sesuaikan dengan rule of game. Apapun hasilnya, bersikaplah legowo,” kata Yusron saat ditemui di ruangannya, Jumat (18/12/2015).
Yusron menegaskan, tidak ada pihak yang memprovokasi keributan pada pelaksanaan pemira nanti. “Jangan membuat kerusuhan. Apabila terdapat kecurangan masif dan terstruktur laporkan kepada pihak terkait sesuai dengan prosedur yang berlaku. Adukan sengketa pemira ke arbitrase dengan bukti-bukti,” ujarnya. (Baca: Dua Pasang Calon Dema-U Beradu Visi Misi Dalam Debat Kandidat)
Dalam pelaksanaannya, Yusron menginginkan pemira yang berasas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (Luberjurdil). Tak hanya itu, ia juga menekankan kepada pihak penyelenggara (KPU dan Bawaslu) pemira untuk bersikap imparsial. “Apabila mereka (penyelenggara) bersikap sebaliknya, maka tidak ada trust terhadap mereka,” ungkap Yusron.
Ia menambahkan, partisipasi mahasiswa sangat dibutuhkan dalam pesta demokrasi UIN Jakarta tahun ini. “Gunakanlah hak secara benar. Sebab pesta demokrasi ini guna melahirkan pemimpin yang qualified,” katanya. (Baca: Pemira UIN Jakarta di Mata Mahasiswa)
Selain itu, Yusron memastikan pemira sudah siap dilaksanakan, baik dari segi teknis maupun logistik. “Semoga pelaksanaan Pemira selalu terkawal sehingga dapat berjalan dengan aman dan lancar. Saya sebagai Warek akan bersikap adil untuk semua kelompok.”
(Fathra)
Label:
Seputar Kampus
01.41.00
Ajang Pemira cukup bagus. Artinya, bisa menumbuhkan jiwa politik di kalangan mahasiswa. Namun, dalam pemira ini cenderung ada kepentingan organisasi ekstra.
Dinamika politik di Indonesia makin gaduh. Untuk itu kita beri mereka contoh bagaimana berpolitik yang sehat. Mari kita ciptakan pemira damai dan jujur. (Fazrul Rijaldi, Mahasiswa Manajemen Pendidikan Semester 7)

Kalau bicara tentang pemira berarti soal menang dan kalah. Siapa yang berhasil duduk di kursi kemenangan, dialah yang berkuasa. Sedangkan untuk yang kalah cuma bisa gigit jari meratapi nasib.
Setiap tahunnya dalam pelaksanaan pemira selalu ada masalah. Ada saja oknum yang melakukan kecurangan demi mencapai kemenangannya. Seperti kasus yang baru-baru ini terjadi. Ada oknum yang memanipulasi pemberkasan demi mendapatkan verifikasi sebagai Calon Dema F. Itu cuma satu dari sekian banyak kecurangan yang dilakukan oleh oknum yang haus akan kekuasaan.
Nah kita sebagai warga kampus yang punya hak pilih harus jeli dalam memilih pemimpin dan waswas buat memilih mana yang pantas menjadi pimpinan kita buat setahun ke depan.
Semoga pemira tahun ini tidak ada lagi kerusuhan saat pelaksanaannya nanti. Tidak ada oknum yang melakukan kecurangan. Semuanya jujur dan bersih dari bau busuk politik. Terakhir, siapapun nanti yang terpilih semoga menjadi pemimpin yang amanah. Intinya, ciptakan pemira yang damai dan jangan golput. (Wita Widya, Mahasiswi Jurusan Ilmu Perpustakaan Semester 3)

Semua golongan mahasiswa beradu strategi untuk memenangkan calon yang diusung. Kreatifitas mahasiswa UIN pun terlihat di pemira ini. Hal tersebut tampak dari berbagai macam slogan dan atribut yang dikenakan pasangan calon.
Tapi semua golongan, semua pasangan calon, perlu ingat bahwa mereka yang nantinya terpilih harus mampu merangkul berbagai golongan yang ada.
Sudah selayaknya ke depan UIN Jakarta memiliki pemira yang bermartabat. Pemira yang sehat walupun dengan kontestasi politik yang panas. (Bagus Muhammad Rijal, Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Semester 5)

Pemira secara sistematis sudah tertata dengan baik. Namun dalam publikasi saya rasa masih kurang optimal dalam menyebarkan informasi yang sifatnya merata ke setiap lapisan mahasiswa.
Aksi yang cepat dan tanggap serta terbuka dari masing-masing anggota KPPS dalam menyebarkan informasi menurut saya harus ditingkatkan lagi tak hanya lewat media sosial, namun juga dengan obrolan langsung ke ruang kelas. Sehingga mahasiswa akan lebih paham informasi seputar pemira. (Ashari Nabilah, Mahasiswi Jurusan Keperawatan Semester 5)

Pemira bagus dengan adanya euforia seluruh mahasiswa. Semoga saja pemimpin selanjutnya tidak hanya bicara tentang program dan janji-janjinya, tapi harus direalisasikan. (Maulida Hanifa, Mahasiswi Jurusan Psikologi Semester 3)
(Baca: Dua Pasang Calon Dema U Beradu Visi Misi dalam Debat Kanidat )

Penyelenggara pemira tahun ini cukup bagus dan terbuka. Kemudian dengan adanya debat kandidat jadi makin menarik. Tapi kalo menurut saya juga bingung nanti pilihannya Dema-F, Sema-F, HMPS terlalu banyak. Tapi semoga saja bisa berkembang dan berjalan lancar. (Lidia Tri Handayani, Mahasiswi Jurusan Ilmu Hukum Semester 7)
Banyak calon di tingkat fakultas dan jurusan maju sebagai calon aklamasi adalah bentuk matinya demokrasi kampus. Selain itu, kecurangan berupa manipulasi data dari calon memperburuk citra pemira itu sendiri.
Kemudian, banyak kekurangan yang harus dibenahi KPU sebagai penyelenggara. Pemira dilaksanakan begitu mendadak. Ini adalah bukti kurangnya persiapan pihak penyelenggara. Intinya, Pemira tahun ini penuh dinamika politik. (Fiqih Sampurna, Mahasiswa Jurusan Akidah Filsafat Semester 3)
Pemira tahun ini kurang persiapan baik dari pihak penyelenggara, maupun kandidat yang dicalonkan. Seperti adanya pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh kandidat bakal calon merupakan gambaran dari ketidaksiapan panitia. Mau jadi pemimpin kok berlaku curang? (Alia Saputri, Mahasiswi Jurusan Teknik Informatika Semester 5)
(Red)
Pemira UIN Jakarta di Mata Mahasiswa
Pemilihan Umum Raya (Pemira) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta 2015 akan segera dilaksanakan. Pesta demokrasi mahasiswa tersebut berlangsung pada Senin 21 Desember mendatang. Beragam pandangan tentang pemira pun turut mewarnai kontestasi politik kampus. Ada yang mengapresiasi, ada juga yang pesimis dengan pemira sebagai ajang demokratisasi mahasiswa. Ada yang percaya, ada pula yang mencela.
Bagaimanapun tanggapan mahasiswa tentang pemira, itulah opini yang terbangun atas realita yang ada. Pandangan mahasiswa tentang pemira layak diapresiasi sebagai bahan koreksi untuk membangun dinamika politik yang sehat. Berikut adalah berbagai tanggapan mahasiswa ketika ditanya perihal pemira:
Ajang Pemira cukup bagus. Artinya, bisa menumbuhkan jiwa politik di kalangan mahasiswa. Namun, dalam pemira ini cenderung ada kepentingan organisasi ekstra.
Dinamika politik di Indonesia makin gaduh. Untuk itu kita beri mereka contoh bagaimana berpolitik yang sehat. Mari kita ciptakan pemira damai dan jujur. (Fazrul Rijaldi, Mahasiswa Manajemen Pendidikan Semester 7)

Kalau bicara tentang pemira berarti soal menang dan kalah. Siapa yang berhasil duduk di kursi kemenangan, dialah yang berkuasa. Sedangkan untuk yang kalah cuma bisa gigit jari meratapi nasib.
Setiap tahunnya dalam pelaksanaan pemira selalu ada masalah. Ada saja oknum yang melakukan kecurangan demi mencapai kemenangannya. Seperti kasus yang baru-baru ini terjadi. Ada oknum yang memanipulasi pemberkasan demi mendapatkan verifikasi sebagai Calon Dema F. Itu cuma satu dari sekian banyak kecurangan yang dilakukan oleh oknum yang haus akan kekuasaan.
Nah kita sebagai warga kampus yang punya hak pilih harus jeli dalam memilih pemimpin dan waswas buat memilih mana yang pantas menjadi pimpinan kita buat setahun ke depan.
Semoga pemira tahun ini tidak ada lagi kerusuhan saat pelaksanaannya nanti. Tidak ada oknum yang melakukan kecurangan. Semuanya jujur dan bersih dari bau busuk politik. Terakhir, siapapun nanti yang terpilih semoga menjadi pemimpin yang amanah. Intinya, ciptakan pemira yang damai dan jangan golput. (Wita Widya, Mahasiswi Jurusan Ilmu Perpustakaan Semester 3)
Pemira tahun ini bakal sama seperti sebelumnya. Tak begitu menarik. Tahun lalu saya masih semester awal, jadi gak begitu paham pemira seperti apa. Sekarang setelah tahu, pemira ternyata hanya diikuti calon-calon dari kubu tertentu. Kemudian untuk di fakultas saya, hampir semua calon di tingkat jurusan maju secara aklamasi. Ini tentu cerminan demokrasi yang kurang baik. (Ulfa Armanida, Mahasiswi Jurusan Jurnalistik Semester 3)

Semua golongan mahasiswa beradu strategi untuk memenangkan calon yang diusung. Kreatifitas mahasiswa UIN pun terlihat di pemira ini. Hal tersebut tampak dari berbagai macam slogan dan atribut yang dikenakan pasangan calon.
Tapi semua golongan, semua pasangan calon, perlu ingat bahwa mereka yang nantinya terpilih harus mampu merangkul berbagai golongan yang ada.
Sudah selayaknya ke depan UIN Jakarta memiliki pemira yang bermartabat. Pemira yang sehat walupun dengan kontestasi politik yang panas. (Bagus Muhammad Rijal, Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Semester 5)

Pemira secara sistematis sudah tertata dengan baik. Namun dalam publikasi saya rasa masih kurang optimal dalam menyebarkan informasi yang sifatnya merata ke setiap lapisan mahasiswa.
Aksi yang cepat dan tanggap serta terbuka dari masing-masing anggota KPPS dalam menyebarkan informasi menurut saya harus ditingkatkan lagi tak hanya lewat media sosial, namun juga dengan obrolan langsung ke ruang kelas. Sehingga mahasiswa akan lebih paham informasi seputar pemira. (Ashari Nabilah, Mahasiswi Jurusan Keperawatan Semester 5)

Pemira bagus dengan adanya euforia seluruh mahasiswa. Semoga saja pemimpin selanjutnya tidak hanya bicara tentang program dan janji-janjinya, tapi harus direalisasikan. (Maulida Hanifa, Mahasiswi Jurusan Psikologi Semester 3)
(Baca: Dua Pasang Calon Dema U Beradu Visi Misi dalam Debat Kanidat )

Penyelenggara pemira tahun ini cukup bagus dan terbuka. Kemudian dengan adanya debat kandidat jadi makin menarik. Tapi kalo menurut saya juga bingung nanti pilihannya Dema-F, Sema-F, HMPS terlalu banyak. Tapi semoga saja bisa berkembang dan berjalan lancar. (Lidia Tri Handayani, Mahasiswi Jurusan Ilmu Hukum Semester 7)
Pemira kali ini Alhamdulillah secara sistematis saya katakan bagus. Meskipun di awal pembuatan sistematikanya agak sedikit janggal saya rasa, tapi masalah itu sudah selesai.
Kemudian dalam pelaksanaan perekrutan anggota KPU dan Bawaslu UIN juga alhamdulillah bagus. Antusiasme teman-teman mahasiswa untuk menyukseskan pesta demokrasi mahasiswa UIN Jakarta ini juga bagus. Hal itu terbukti dengan jumlah pendaftar, terutama di fakultas saya.
Namun ketika seleksi, amat disayangkan ada beberapa calon yang memalsukan berkas persyaratan. Kecurangan ini yang tidak bisa dibenarkan. Apalagi kita menempuh pendidikan di universitas yang notabene Islam, yang seharusnya menjujung tinggi nilai kejujuran.
Namun di luar itu semua, pemira ini menjadi pemicu teman-teman mahasiswa untuk sadar akan pentingnya demokrasi. (Kholilur Rosyid, Mahasiswa Jurusan Dirasat Islamiah Semester 7)
Pemira ini adalah satu langkah untuk berpolitik yang lebih baik. di sini kita semua bisa belajar memilih pemimpin yang dapat bertanggungjawab, serta dapat menilai apa yang mereka sampaikan.
Kita sebagai pemilih harus cermat dalam menentukan pilihan karena akan slalu ada sisi lain, seperti kecurangan yang bersifat saling menjatuhkan. (Maya Fatmah Andina, Mahasiswi Jurusan Manajemen Semester 3)
Kemudian dalam pelaksanaan perekrutan anggota KPU dan Bawaslu UIN juga alhamdulillah bagus. Antusiasme teman-teman mahasiswa untuk menyukseskan pesta demokrasi mahasiswa UIN Jakarta ini juga bagus. Hal itu terbukti dengan jumlah pendaftar, terutama di fakultas saya.
Namun ketika seleksi, amat disayangkan ada beberapa calon yang memalsukan berkas persyaratan. Kecurangan ini yang tidak bisa dibenarkan. Apalagi kita menempuh pendidikan di universitas yang notabene Islam, yang seharusnya menjujung tinggi nilai kejujuran.
Namun di luar itu semua, pemira ini menjadi pemicu teman-teman mahasiswa untuk sadar akan pentingnya demokrasi. (Kholilur Rosyid, Mahasiswa Jurusan Dirasat Islamiah Semester 7)
Pemira ini adalah satu langkah untuk berpolitik yang lebih baik. di sini kita semua bisa belajar memilih pemimpin yang dapat bertanggungjawab, serta dapat menilai apa yang mereka sampaikan.
Kita sebagai pemilih harus cermat dalam menentukan pilihan karena akan slalu ada sisi lain, seperti kecurangan yang bersifat saling menjatuhkan. (Maya Fatmah Andina, Mahasiswi Jurusan Manajemen Semester 3)
Kemudian, banyak kekurangan yang harus dibenahi KPU sebagai penyelenggara. Pemira dilaksanakan begitu mendadak. Ini adalah bukti kurangnya persiapan pihak penyelenggara. Intinya, Pemira tahun ini penuh dinamika politik. (Fiqih Sampurna, Mahasiswa Jurusan Akidah Filsafat Semester 3)
Pemira tahun ini kurang persiapan baik dari pihak penyelenggara, maupun kandidat yang dicalonkan. Seperti adanya pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh kandidat bakal calon merupakan gambaran dari ketidaksiapan panitia. Mau jadi pemimpin kok berlaku curang? (Alia Saputri, Mahasiswi Jurusan Teknik Informatika Semester 5)(Red)
Label:
Seputar Kampus
03.34.00
Dua Pasang Calon Dema U Beradu Visi Misi dalam Debat Kandidat
Written By Maulana Robby on Kamis, 17 Desember 2015 | 03.34.00
Setelah mengikuti tujuh hari masa kampanye, para Calon Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (Dema-U) beradu gagasan dalam debat kandidat yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di lapangan Student Center, Kamis (17/12/2015). Acara tersebut dibuka langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Yusran Razak.
Dalam sesi pemaparan visi dan misi, pasangan nomor urut satu, Ahmad Al-Darda dan Eneng Ova Siti Sofwatul Ummah bertekad menjadikan Dema-U sebagai wadah yang mampu mengakomodir aspirasi mahasiswa. Pasangan ini juga berjanji menjadikan UIN Jakarta sebagai model kampus yang melestarikan nilai-nilai luhur keislaman dan keindonesiaan.
“Kami akan memebentuk Unit Kegiatan Mahasiswa sebagai bentuk reaktualisasi tradisi ilmiah keislaman dan keindonesiaan. Kami juga akan melaksanakan kembali tradisi diskusi yang semakin menurun,” tutur Ova. (Baca: Pemira UIN Jakarta di Mata Mahasiswa)
Kemudian, Calon Ketua Dema Universitas nomor urut satu, Ahmad mengatakan dengan adanya program penelitian akan menjadi dorongan tambahan untuk nilai akreditasi kampus. “Ini adalah upaya pengembanagan minat mahasiswa sekaligus menjadi pemicu peningkatan nilai akreditasi kampus UIN,” harapnya.
Sementara itu, pasangan kandidat nomor urut dua, Ibrahim Haris Sumantri dan Humaidi lebih menekankan pembenahan kualitas Dema-U dengan berkomitmen mengawal dan melayani mahasiswa. Pasangan ini mencanangkan program E-aspiration yang bertujuan meningkatkan transparasi Dema-U.
Tak seperti pesaingnya yang ingin menciptakan UKM Penelitain, Ibrahim dan Humaidi juga menyatakan keinginannya untuk membangun intelektualitas serta menjalin silaturahmi antarmahasiswa. Cara ini ditempuh ibrahim melalui pembentukan Lembaga Pengembangan Profesi Antar Fakultas (LP2S), yang akan menjadi Lembaga Semi Otonom (LSO) di setiap fakultas.
“LP2S ini harus didukung oleh civitas akadeika UIN dan harus ada keterlibatan dari setiap mahasiswa. ini adalah bentuk program kami yang bertujuan menjaga solidaritas di antara mahasiswa antar fakultas dan mengembangkan profesi,” ujar Ibrahim.
Senada dengan pasangannya, Humaidi menjelaskan kedua program unggulannya akan mengawal isu-isu nasional dengan keilmuannya masing-masing. “E-aspiration dan LP2S akan menampung dan menyuarakan aspirasi dari Mahasiswa dengan bergerak melalui treknya masing-masing,” tambah Humaidi.
Semangat memajukan kampus para kedua kandidat dinilai positif oleh Wakil Rektor Bagian Kemahasiswaan Yusran Razak. Ia mengatakan Pemira UIN adalah cerminan dan pembelajaran demokrasi di Indonesia. Ia juga berharap agar pelaksanaan pemira tanggal 21 desember nanti akan berlangsung aman dan jujur.
“Saya berharap rangakaian acara Pemira akan berlangsung secara langsung, bebas, rahasia, Jujur, dan adil (Luberjurdil). Siapapun pemenanngnya, semoga bisa membawa UIN yang lebih maju dan berprestasi,” ungkap Yusron. (Fakhrizal Haq)
Label:
Seputar Kampus
15.07.00
Jurnalistik Jadi Prodi Mandiri
Written By Maulana Robby on Selasa, 15 Desember 2015 | 15.07.00
Setelah 11 tahun, sejak 2004, akhirnya Konsentrasi Jurnalsitik, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidkom) menjadi program studi mandiri. Artinya, Jurnalistik sudah tidak lagi menginduk kepada Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).
“Pengumuman kepastiaannya sudah dikeluarkan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti). Jurnalistik menjadi prodi baru, tinggal menunggu nomor Surat Keputusan (SK) saja.”
Pernyataan itu disampaikan Ketua Konsentrasi Jurnalistik, Kholis Ridho saat ditemui di ruangannya, Jumat (20/11/2015) sore. Nomor SK seharusnya sudah dikeluarkan Dikti pada 10 November 2015. Namun ternyata terdapat kebijakan baru, yaitu SK dikeluarkan bersamaan dengan proses akreditasi. “Jadi sekarang langsung diakreditasi. Biasanya kan dipisah, izin dahulu keluar, baru diakreditasi,” jelas Kholis.
Kholis menjelaskan, Jurnalistik sudah layak menjadi prodi secara kelembagaan, yakni memiliki manajemen sendiri, seperti dosen dan kurikulum. Hal itu sesuai dengan delapan standar pengelolaaan program sutudi yang diatur Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) nomor 49 tahun 2014. Atas dasar itu, kata Kholis, Jurnalsitik diajukan untuk menjadi program studi tersendiri.
“Jurnalistik sejak awal sudah memiliki manajemen sendiri. Maka, tinggal menunggu legal formalnya saja, yakni persoalan administratif. Persoalan itu baru selesai sekarang, sejak 2004,” ujarnya.
Setelah Jurnalistik resmi menjadi prodi sendiri, selain status kelembagaan, akan ada beberapa perubahan. Pertama, perubahan nama pada Himpunan Mahasiswa Konsentrasi menjadi Himpunan Mahasiswa Jurusan. Kedua, gelar akademis mahasiswa Jurnalistik, Fidkom, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, yang sebelumnya Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom. I) menjadi Sarjana Ilmu Komunikasi (S. I. Kom).
Dalam upaya meningkatkan kompetensi mahasiswa jurnalistik, Kholis akan menggandeng beberapa media massa dan organisasi kewartawanan. “Jadi nanti lulusan mahasiswa jurnalistik UIN Syarif Hidyatullah Jakarta tidak perlu diragukan lagi dalam persaingan kerja,” terangnya.
Perubahan status Konsentrasi Jurnalistik menjadi prodi mandiri mendapat respon positif dari Wakil Dekan Bidang Akademik Fidkom, Suparto. Menurutnya, perubahan status tersebut akan dibarengi dengan peningkatan fasilitas yang mendukung profesionalisme ke-jurnalistikan.
“Kita harus mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan teknologi ke depannya. Kita akan mengembangkan laboratorium yang mendukung kegiatan jurnalistik,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Himpunan Mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik, Fathra Abdul Racman mengatakan, perubahan status tersebut patut diapresiasi dan menjadi kebanggaan bagi mahasiswa jurnalistik. “Kami semua senang dan bangga dengan hal itu. Semoga dengan status baru, ada banyak perubahan yang signifikan di tubuh jurnalistik,” katanya, Jumat (4/12/2015).
Fathra menilai perubahan yang perlu dilakukan adalah soal kurikulum. Selama ini, kata Fathra, mahasiswa baru diperkenalkan mengenai kejurnalistikan di semester tiga. “Itu pun tidak sepenuhnya. Masih ada beberapa Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Seharusnya sejak semester satu mahasiswa sudah diperkenalkan mengenai apa itu jurnalistik. Jadi soal kurikulum saya rasa perlu ada perubahan,” paparnya. (Aldi)
Label:
Seputar Kampus
14.29.00
Penelitian PPIM: Motif Ekonomi dan Politik Perda Bernuansa Agama
Written By Maulana Robby on Minggu, 13 Desember 2015 | 14.29.00
Peraturan daerah (perda) bernuansa agama sejatinya dibuat untuk mengelola, meningkatkan layanan masyarakat, memperbaiki kondisi sosial, dan menegaskan peran pemerintah membangun ketaatan publik. Namun bagaimana jadinya jika perda bernuansa agama didomplengi motif ekonomi dan politik? regulasi serta pemberlakuan perda tersebut ternyata berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari.
Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam penelitiannya menemukan adanya motif ekonomi dan Politik di balik perda bernuansa agama. Motif tersebut merupakan hasil riset di delapan kabupaten/kota, yaitu Serang, Pandeglang, dan Kota Tangerang (Banten), Jakarta Pusat dan Jakarta Timur (DKI Jakarta), Kota Bandung, Sukabumi, dan Tasikmalaya (Jawa Barat).
Peneliti PPIM, Ali Munhanif mengatakan meski berbagai perda bernuansa agama memiliki niat baik, tanpa disadari ada sejumlah aktor yang sengaja memasukan usulan bermotif ekonomi ke dalam perda tersebut.
“Ada beberapa peraturan yang mengatakan bahwa pemerintah daerah harus mempunyai komitmen atau perhatian kepada institusi pendidikan Islam. Peraturan itu kemudian menjadi dasar diwajibkannya peserta didik memiliki ijazah madrasah diniyah, takmiliyah dan semacamnya untuk dapat melanjutkan sekolah,” ungkapnya saat diwawancara Journo Liberta, Selasa (10/11/2015).
Di Kabupaten Sukabumi terbit Perda Nomor 30 Tahun 2009 tentang Wajib Belajar Pendidikan Keagamaan Islam. Terkait perda tersebut, PPIM menemukan adanya kepentingan sejumlah tokoh elit agama dan Organisasi Masyarakat Islam. “Mereka yang cenderung mendukung regulasi tersebut adalah kelompok berkepentingan. Jadi dengan adanya perda itu, pemda memberikan dukungan dana dan fasilitas untuk bantuan pendirian sekolah berbasis agama, baik pesantren atau madrasah,” terang Ali.
Ali berpendapat, perda wajib belajar pendidikan keagamaan Islam menjadi bermasalah ketika ada kelompok yang menolak, kemudian tidak mendapat bantuan dana. “Masyarakat juga senang dengan perda itu, hanya saja pemda harus adil dalam memberikan bantuan dana. Tidak boleh berdasarkan kepentingan elektorat massa pendukungnya semata,” ujar Ali.
Doktor lulusan McGill University itu kemudian mencontohkan, ada seorang kiai di Kabupaten Sukabumi secara tegas menolak perda wajib belajar pendidikan keagamaan Islam. Menurut sang Kiai, kata Ali, perda tersebut hanya membuat hubungan pesantren dengan pemda terkesan untuk mendapat bantuan semata. “Dari situ terlihat jelas, bagaimana perda tentang kewajiban memiliki ijazah diniah dan takmiliah begitu kentara dengan motif ekonominya,” ucap Ali.
Setelah menelisik lebih dalam, Ali dan tim peneliti PPIM menemukan fakta dari sejumlah responden, bahwa pemda tidak memiliki cukup dana untuk memberikan bantuan kepada semua lembaga pendidikan Islam. “Di sana masalahnya. Perda yang tidak didesain dengan baik akan membebani pemda itu sendiri. Itu keliru. Mestinya kepala daerah menyadari hal tersebut,” katanya.
Kasus lain, lanjut Ali, Pemerintah Kota Tasikmalaya mengeluarkan Surat Keputusan (SK) No.450 Tahun 2011 tentang Larangan Kegiatan Ahmadiyah. SK itu muncul menyusul surat edaran Instruksi Gubernur (Insgub) No. 12 Tahun 2011 tentang Larangan Kegiatan Ahmadiyah di Jawa Barat. Ali menjelaskan, dengan Sk tersebut, selain aktivitas ibadah, Aset Jamaat Ahmadiyah seperti tempat ibadah, tanah, dan sekolah pun tak luput jadi incaran. “Begitu aset-aset dibekukan, sejumlah orang berusaha mengusik harta itu untuk dipakai kelompok mereka. Itu kan problem ekonomi lagi,” ungkapnya.
Mengenai motif politik, Ali berpendapat sejumlah aktor politik di daerah tidak memiliki imajinasi menjalankan roda ekonomi masyarakat. Namun demi menjaring suara massa, mereka kerap memolitisasi perda di daerah. Regulasi yang dibuat seringkali dijadikan senjata potensial untuk menekan kelompok minoritas yang dianggap menyimpang.
“karena proses politik begitu panas, banyak aktor politik seperti calon kepala daerah menggunakan cara paling murah mendapatkan dukungan, yaitu dengan menggunakan pola yang memakai kartu agama,” kata Ali.
Kepentingan politis dari sejumlah aktor di daerah, ungkap Ali, melatarbelakangi lahirnya perda yang tidak terlalu dibutuhkan masyarakat. Di Pandeglang, Banten contohnya, diberlakukan Perda No. 13 Tahun 2010 tentang Santunan Kematian.“Adat istiadat, tradisi, dan budaya yang baik seperti santunan kematian dan pendidikan agama sudah bisa berjalan dengan sendirinya tanpa memerlukan perda. kenapa masih harus diformalkan? dari situ terlihat ada desakan dari aktor atau kelompok tertentu,” ujar dosen Fakultas Ushuludin itu.
Ali menambahkan, biaya pembuatan perda yang mencapai ratusan juta seharusnya digunakan untuk menghasilkan perda yang lebih produktif. Misalnya, legislasi mengenai ketertiban kota seperti membenahi Pedagang Kaki Lima (PKL) dan membenahi infrastuktur kota. “Dengan kurangnya imajinasi kepala daerah atau calon kepala daerah dalam tata pengelolaan kota, maka yang akan dihasilkan hanyalah perda yang kurang produktif tapi berbiaya tinggi,” jelasnya.
Menanggapi hasil temuan PPIM, mantan Menteri Negara Otonomi Daerah era Presiden Abdurrahman Wahid, Ryaas Rasyid mengatakan penelitian PPIM di Tiga Provinsi belum bisa menjawab persoalan perda bernuansa agama. Ia menyarankan agar PPIM juga melakukan riset di wilayah yang mayoritas non muslim seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, Bali, Sulawesi Utara, dan sebagainya.
“Hal itu perlu dilakukan supaya kita mendapat perspektif yang lebih luas, sejuah mana identitas keagamaan masuk ke dalam regulasi otonomi daerah. Pada perinsipnya, urusan keagamaan bukanlah menjadi kewenangan otonomi daerah kecuali di Aceh,” tutur Rasyid saat menghadiri seminar tentang perda bernuansa agama yang digelar PPIM, di Auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta, Rabu, (21/10/2015).
Meski demikian, Rasyid menuturkan masalah yang sering muncul dari perda bermotif Identitas, sebagaimana temuan PPIM, akibat lemahnya pengawasan pemerintah pusat. Cara penanganan sejumlah kasus yang berkaitan dengan pemda pun dinilai Rasyid kurang profesional. “Otonomi daerah itu kan kebijakan pemerintah pusat. Perintah undang-undang, kebijakan nasional harus dikawal oleh pemerintah pusat. Jadi perlu disupervisi, dimonitor, diawasi, dan dikoreksi. Tapi kemampuan pemerintah dalam melakukan hal itu sangat lemah,” katanya. (Bisri)
Label:
Seputar Kampus
15.24.00
Riuh tepuk tangan dan sorak sorai penonton pecah di Hall Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, ketika grup musik Nares melantunkan lagu tradisional Maluku, Rame-rame. Penampilan grup musik asal Jakarta itu merupakan salah satu bagian acara Closing Cerimony 'Roff Air RDK FM 2015' bertema Sound of Culture.
Tema tersebut diangkat sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya lokal. Pasalnya, pada era digital ini budaya Indonesia semakin terlupakan, terutama soal musik. Kini budaya barat lebih diminati muda-mudi. Untuk itu perlu menonjolkan budaya tradisional guna melestarikan budaya dalam negeri.
“Sebetulnya melestarikan budaya kita (Indonesia) itu tidak sulit. Bisa kita ambil contoh dalam festival musik. Jika lagu daerah dikolaborasikan dengan aransemen musik populer, tentu lebih menarik,” kata Faisal saat ditemui JL onine di sela acara, Kamis (29/10).
Lebih lanjut Faisal menjelaskan rangkaian acara Roff Air RDK FM 2015 bertujuan mengubah pandangan budaya Indonesia yang dianggap kuno. “Rangkaian acara kita full di bulan Oktober, lomba foto di instagram angle-nya seputar kebudayaan, lomba siaran yang diikuti sampai 80 peserta, lomba membuat berita, kompetisi futsal. Selain perlombaan, juga ada parade budaya, workshop mengenai perkembangan radio dari zaman ke zaman dan penampilan cosplayer dengan karakter pahlawan-pahlawan Indonesia, seperti R.A Kartini dan Cut Nyak Dien juga turut menghiasi acara ini,” papar mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam ini.
Dengan adanya acara ini, Faisal berharap bisa memberikan pemahaman positif mengenai budaya Indonesia dengan cara yang kreatif. “Semoga dapat mengedukasi, khususnya untuk panitia dan umumnya untuk penonton. Semoga bisa menularkan kepada pengunjung yang datang untuk menggelar acara kebudayaan lainnya,” katanya.
Acara ini pun mendapat respon positif dari pengunjung, Ari Andika, mahasiswa Jurusan Jurnalistik mengatakan acara bertema kebudayaan ini menginspirasi dirinya untuk membuat acara serupa. “Bagus acaranya, tapi kurang publikasi saja. Semoga ke depan RDK FM bisa lebih bermanfaat dalam membuat kegiatan,” ungkap Ari. (Aldiansyah)
Berbudaya Bersama Roff Air RDK FM 2015
Written By Maulana Robby on Kamis, 29 Oktober 2015 | 15.24.00
Riuh tepuk tangan dan sorak sorai penonton pecah di Hall Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, ketika grup musik Nares melantunkan lagu tradisional Maluku, Rame-rame. Penampilan grup musik asal Jakarta itu merupakan salah satu bagian acara Closing Cerimony 'Roff Air RDK FM 2015' bertema Sound of Culture.
Tema tersebut diangkat sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya lokal. Pasalnya, pada era digital ini budaya Indonesia semakin terlupakan, terutama soal musik. Kini budaya barat lebih diminati muda-mudi. Untuk itu perlu menonjolkan budaya tradisional guna melestarikan budaya dalam negeri.
“Sebetulnya melestarikan budaya kita (Indonesia) itu tidak sulit. Bisa kita ambil contoh dalam festival musik. Jika lagu daerah dikolaborasikan dengan aransemen musik populer, tentu lebih menarik,” kata Faisal saat ditemui JL onine di sela acara, Kamis (29/10).
Lebih lanjut Faisal menjelaskan rangkaian acara Roff Air RDK FM 2015 bertujuan mengubah pandangan budaya Indonesia yang dianggap kuno. “Rangkaian acara kita full di bulan Oktober, lomba foto di instagram angle-nya seputar kebudayaan, lomba siaran yang diikuti sampai 80 peserta, lomba membuat berita, kompetisi futsal. Selain perlombaan, juga ada parade budaya, workshop mengenai perkembangan radio dari zaman ke zaman dan penampilan cosplayer dengan karakter pahlawan-pahlawan Indonesia, seperti R.A Kartini dan Cut Nyak Dien juga turut menghiasi acara ini,” papar mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam ini.
Dengan adanya acara ini, Faisal berharap bisa memberikan pemahaman positif mengenai budaya Indonesia dengan cara yang kreatif. “Semoga dapat mengedukasi, khususnya untuk panitia dan umumnya untuk penonton. Semoga bisa menularkan kepada pengunjung yang datang untuk menggelar acara kebudayaan lainnya,” katanya.
Acara ini pun mendapat respon positif dari pengunjung, Ari Andika, mahasiswa Jurusan Jurnalistik mengatakan acara bertema kebudayaan ini menginspirasi dirinya untuk membuat acara serupa. “Bagus acaranya, tapi kurang publikasi saja. Semoga ke depan RDK FM bisa lebih bermanfaat dalam membuat kegiatan,” ungkap Ari. (Aldiansyah)
Label:
Seputar Kampus
06.40.00
KBM UIN Jakarta Ajak Mahasiswa Peduli Kasus Salim - Tosan
Written By Maulana Robby on Jumat, 02 Oktober 2015 | 06.40.00
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UIN Jakarta menggelar istighosah, Senin (1/10/2015) pukul 18.30 WIB. Acara yang berlangsung di lapangan parkir Student Center (SC) UIN Syarif Hiyatullah Jakarta ini sebagai bentuk solidaritas untuk dua petani sekaligus aktivis lingkungan asal Lumajang, yakni Salim ‘kancil’ dan Tosan. Keduanya dianiaya oleh sekelompok orang. Kancil dianiaya hingga tewas, sedangkan Tosan dirawat dalam keadaan kritis.
Salah seorang peserta istighosah, Azami Mohammad menjelaskan kegiatan tersebut bukan sekadar aksi solidaritas, melainkan upaya penyampaian pesan kepada seluruh mahasiswa untuk ikut merespon konflik agraria di Lumajang. “Setelah istighosah malam ini, semoga semakin banyak kawan-kawan mahasiswa di sini (UIN Jakarta) dan Kampus lain yang peduli atas peristiwa di Lumajang,” ujarnya.
Azami berpandangan, konflik agraria di Lumajang yang berujung dengan terbunuhnya Salim merupakan bukti bahwa hak dan kesejahtraan petani di Indonesia masih sering diabaikan. “Tidak akan ada peristiwa Salim jika penguasa berpihak pada petani dan rakyat kecil,” ucapnya.
Oleh karena itu, lanjut Azami, mahasiswa menuntut agar pihak berwenang mengusut tuntas kasus Salim dan Tosan. “Pihak yang berwenang jangan hanya menangkap para pelaku lapangan, tapi adili juga aktor intelektualnya,” tuntut Azami. Selain itu, mahasiswa mendesak pemerintah menutup tambang pasir di Lumajang, karena pertambangan hanya membawa kesusahan bagi petani.
Agar kejadian serupa tak terulang dan cita-cita reforma agraria bisa tercapai, Azami berharap keadilan bisa ditegakan. Kemudian ke depannya kebijakan agraria harus lebih berpihak pada petani. “Bagaimana mau mencapai reforma agraria jika penguasa cenderung mengutamakan perusahan,” Tutup Azami.
Sementara itu, Abdul Jalil, ketua Forum UKM berpendapat sudah seharusnya mahasiswa ikut merespon peristiwa Salim dan Tosan. “Pada dasarnya UKM bukan hanya bergerak di bidang kreatifitas tapi juga dalam bidang sosial. Maka kami punya beban moral sebagai anggota UKM dan mahasiswa untuk ikut merespon peristiwa pembunuhan dan penganiayaan petani di Lumajang,” ucap Jalil usai acara istighosah. Di hari yang sama, KBM UIN Jakarta melakukan aksi teatrikal dan pengumpulan donasi solidaritas Salim ‘Kancil’ dalam Karnaval UKM di UIN Jakarta.
(Bisri)
Label:
Seputar Kampus
09.48.00
Raih Tiga Medali Emas, FEB Juara di USE 2015
Written By Maulana Robby on Minggu, 21 Juni 2015 | 09.48.00
Pagelaran UIN Sport Expotaiment (USE) 2015 resmi ditutup pada Jumat 12 juni 2015. Agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Federasi Olahraga Mahasiswa (Forsa) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta diikuti 10 fakultas. Tahun ini, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menjadi juara bertahan dalam turnamen olahraga antar fakultas tersebut.
Berdasarkan klasemen akhir, FEB mendapat lima medali dengan rincian tiga medali emas, nol medali perak, dan dua medali perunggu. Dari tujuh cabang olahraga, FEB menyabet tiga medali emas dari cabang Basket, Tenis Meja, dan Bulu Tangkis. Sisanya, hanya meraih medali perunggu di cabang Voli dan Catur.
Dengan pencapaian tersebut, salah seorang kontingen FEB merasa puas karena membawa nama baik fakultas. “Kami sangat bangga karena bisa menjadi juara umum kembali dalam USE 2015. Di sisi lain, kami juga dapat membuktikan bahwa mahasiswa FEB tidak hanya berprestasi di bidang akademik saja, melainkan di bidang olahraga juga,” ungkap Muhammad Kahfi, atlet Futsal dari FEB.
Sementara itu, bukan persoalan mudah untuk menjadi juara. Menurut Kahfi, dibutuhkan perjuangan yang keras, persiapan matang, dan dukungan dari semua pihak sangat menentukan hasil akhir dari kompetisi. “Semoga di tahun depan kami dapat menyapu bersih semua cabang olahraga dan menjadi juara umum kembali. Di lain hal, kami mengharapkan semua komponen FEB dari Dekanat, Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas, serta semua mahasiswa dapat mendukung dan membantu secara maksimal agar kami dapat berprestasi lagi,” lanjutnya.
Di sisi lain Ketua Pelaksana, Asep Hermawan, mengatakan USE 2015 yang berlangsung dari tanggal 1-12 Juni 2015 bertujuan untuk menyosialisasikan dan melihat keahlian setiap mahasiswa di bidang olahraga. “Dengan acara ini, kita dapat memperkenalkan FORSA kepada fakultas – fakultas yang terdapat di UIN Jakarta,” paparnya.
Dalam USE 2015, tambah Asep, terdapat tujuh cabang olahraga yang diperlombakan. “Ada tujuh cabang olahraga, di antaranya adalah Sepak Bola, Futsal, Voli, Basket, Tenis Meja, Bulu Tangkis, dan Catur. Setiap fakultas mengirimkan kontingen untuk ikut serta sesuai dengan cabang olahraga yang pertandingkan,” imbuhnya.
Berikut Klasemen perolehan Medali Terakhir:
No. | Fakultas | Medali Emas | Medali Perak | Medali Perunggu | Total |
1. | Fakultas Ekonomi dan Bisnis | 3 | 0 | 2 | 5 |
2. | Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi | 2 | 2 | 1 | 5 |
3. | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik | 2 | 1 | 1 | 4 |
4. | Fakultas Psikologi | 2 | 0 | 1 | 3 |
5. | Fakultas Syariah dan Hukum | 1 | 2 | 1 | 4 |
6. | Fakultas Sains dan Teknologi | 1 | 2 | 1 | 4 |
7. | Fakultas Ushuludin | 1 | 0 | 0 | 1 |
8. | Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan | 0 | 3 | 0 | 3 |
9. | Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan | 0 | 2 | 0 | 2 |
10. | Fakultas Adab dan Humaniora | 0 | 0 | 1 | 1 |
(Fathra Abdul Racman)
Label:
Seputar Kampus
















