Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post

Hello World

Written By Maulana Robby on Jumat, 21 Oktober 2016 | 22.24.00

Hello !!
Hello Hello Hello !!!
World ...

KPI Resmi Perpanjang Izin 10 Televisi

Written By Maulana Robby on Jumat, 14 Oktober 2016 | 13.32.00

Ilustrasi
Komisi Penyairan Indonesia (KPI) resmi memperpanjang Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) 10 stasiun televisi. Ke sepuluh stasiun televisi tersebut ialah SCTV, Indosiar, RCTI, MNC TV, Global TV, Metro TV, ANTV, TV One, Trans TV, dan Trans 7.

Terkait perpanjangan IPP Ini, Ketua KPI pusat Yuliandre Darwis mengingatkan kembali komitmen yang ditandatangani pimpinan televisi tersebut dalam rangka perbaikan kualitas layar kaca. Selain tentang P3 & SPS yang harus ditaati dalam penyelenggaraan penyiaran selama sepuluh tahun ke depan,  Yuliandre juga meminta agar fungsi penyiaran sebagai media informasi, pendidikan, hiburan serta kontrol dan perekat sosial dapat dilaksanakan secara seimbang.


“Jangan sampai televisi didominasi oleh hiburan semata, dan mengesampingkan peran-peran lain penting dalam menjaga harmoni dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya melalui kerterangan pers.


Yuliandre juga menegaskan bahwa lembaga penyiaran harus menjaga independensi dan netralitasnya dalan agenda kontestasi politik, baik tingkat nasional ataupun lokal. Selain tentu saja, menjaga frekuensi yang dipinjamkan negara ini, semata-mata untuk kepentingan publik.

“Kami berharap, tidak ada lagi blocking time dengan durasi yang tidak wajar untuk menyorot kehidupan pribadi artis ataupun public figure yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan publik,” katanya.


Sesuai pasal 33 ayat (4) dan ayat (5) Undang-Undang nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, IPP diberikan oleh negara setelah memperoleh masukan dan hasil evaluasi dengar pendapat antara pemohon dan KPI, rekomendasi kelayakan penyelenggaraan penyiaran dari KPI, hasil kesepakatan dalam forum rapat bersama yang diadakan khusus untuk perizinan antara KPI dan pemerintah, dan izin alokasi dan penggunaan spektrum frekuensi oleh Pemerintah atas usul KPI, maka secara administratif IPP diberikan oleh Negara melalui KPI. 


(Red)

Kantong Plastik Kembali Digratiskan, GIDKP: Sayang Sekali

Ilustrasi
Penerapan kantong plastik berbayar kini  tak berlaku lagi  di toko ritel modern. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) telah memutuskan untuk menghentikan uji coba penerapan kantong plastik berbayar pada 1 Oktober 2016. Sebelumnya pembeli di toko ritel dikenakan biaya Rp. 200 untuk satu kantong plastik.

Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) menyayangkan hal itu, GIDKP menilai bahwa seharusnya niat baik Aprindo untuk menyelamatkan lingkungan bukan bergantung pada  peraturan dari pemerintah.

Koordinator Harian GIDKP Rahyang Nusantara mengatakan, ada bukti efektifitas dan ada momentum yang semakin meningkat di masyarakat tentang kesadaran perlunya pengurangan kantong plastik.

 “Dukungan Aprindo sangat penting dalam menjaga momentum tersebut (program plastik berbayar). Sehingga sayang sekali bila mereka hengkang dari komitmen mereka di tengah jalan,” jelasnya.

Rahyang mengatakan, menurut laporan dari Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung, terdapat pengurangan kantong plastik sebesar 42  persen sejak diberlakukannya kantong plastik tidak gratis. “Hal serupa terjadi di Kota Balikpapan yang menyatakan pengurangan penggunaan kantong plastik sebesar 45 persen,” jelasnya.


Kemudian GIDKP berharap Aprindo tetap menunjukkan dukungan terhadap pengurangan sampah plastik, yakni dengan mengingatkan konsumen untuk membawa tas belanja sendiri. “GIDKP siap mendukung dan memfasilitasi upaya-upaya Aprindo dan Pemerintah dalam sosialisasi dan penerapan program kantong plastik tidak gratis,” ujar Rahyang.

(Red)

Konstelasi Seks, Perempuan, dan Cinta yang Rapuh

Written By Maulana Robby on Rabu, 28 September 2016 | 12.48.00



Cinta dan jerat sosial yang dialami oleh perempuan seakan terus meneror hingga hari ini. Ketidak berdayaan perempuan untuk mencari eksistensi cinta di tengah lingkungan sosial yang patrialkal seakan hanya menjadi momok cacian dan kegundahan. Kebebasan yang di idamkan menjadi kian utopis.

Sementara itu, Kegamangan akan waktu dan  ketakutan yang di latar belakangi oleh ingatan  kelam seakan terus meneror kehidupan. Hubungan dengan Tuhan, percakapan dengan diri sendiri, dan kecintaan terhadap gadget tidak pernah menjadi jalan keluar. Rahasia-rahasia gila semakin menjajah sekujur tubuh. Segala gerak perasaan yang dilarang menghinggapi masa lalu dan perasaan yang terlarang untuk menjadi masa depan.

Getir perempuan tersebut telah terangkum  melalui Ilustrasi dan puisi yang ditulis oleh Lala Bohang. Buku berjudul ‘The Book of Forbidden Feelings’ hadir sebagai refleksi kegundahan perjalan hidup seorang Lala Bohang yang banyak mewakili potret perempuan hari ini. Hal-hal yang tabu dan terlarang untuk diceritakan akan terurai melalui ilustrasi visual. Puisi-puisi hadir sebagai buah kontemplasi akan perasaan-perasaan yang dialaminya.

Puisi-puisi yang penulis tuangkan seluruhnya berbahasa inggris ini tidak banyak melakukan metafor dalam diksinya. Sehingga, pembaca dapat cepat memahami apa yang dikandung dalam puisi yang dibuat oleh Alumnus Universitas Parahyangan Bandung tersebut. Hal menohok dalam puisinya adalah pergulatan perasaan.

Ilustrasi yang begitu terasa surealis akan mengajak pembaca menyelami karya visual dengan banyak  penafsiran. Namun, beberapa simbol dalam gambar akan memudahkan sekaligus menjadi petunjuk bagaimana pembaca memandang dan menafsirkan gambar tersebut. Relasi puisi dan ilustrasi menjadi poin yang teramat ditonjolkan dalam buku ini.

Mungkin penulis menyukai konsep  Rolan Barthez yang teramat masyhur yakni pencipta akan mati ketika karyanya dipublikasikan. Melalui konsep seperti itu Lala Bohang mencoba menyajikan karya dan mengajak pembaca untuk menafsirkan ilustrasi dan puisi sendunya. 
    
‘Friends become enemies
Dreams become failures
Home becomes blurry’
‘Let’s talk about nothing. Nothing is nothing at all. There are so many things in nothing’

Judul                           : The Book of  Forbidden Feelings
Penulis                         : Lala Bohang
Ilustrasi                       : Lala Bohang
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta
Tahun terbit                 : 2016

Tebal buku                   : 150 halaman


(Ayudya Annisa)
*Penulis adalah mahasiswi Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Wajah Toleransi di Karangturi

Written By Maulana Robby on Senin, 26 September 2016 | 07.03.00

Aktifitas warga Desa Karangturi, Lasem, Rembang, Jawa Tengah

Pos Kamling di Desa Karangturi

Musala di Pesantren Kauman

Gereja di Desa Karangturi

Klenteng di Desa Karangturi

Wihara di Desa Karangturi

Memelihara toleransi antarumat beragama, etnis, dan budaya di Indonesia tidaklah sulit. Kita hanya perlu lakukan apa yang sudah dicontohkan oleh nenek moyang kita. Setidaknya itulah yang dikatakan Gus Zaim, pengasuh Pondok Pesantren Kauman, Desa Karangturi, Lasem, Jawa Tengah.

Desa Karangturi merupakan refleksi dari toleransi. Bangunan khas China dan budaya masyarakat jawa membaur menjadi satu. Pondok Pesantren Kauman salah satunya, pesantren ini berdiri dan hidup berdampingan di tengah kampung pecinan Desa Karangturi, Lasem.

Gerbang pintu pesantren tersebut contohnya, pintu besar berwarna hijau dengan dua ukiran kalimat China menjadi hal yang menarik perhatian. Gus Zaim mengatakan, arti dari kedua kalimat itu masalah "panjang umur setinggi gunung" dan "luas rezeki sedalam lautan."

Selain itu, Desa yang terletak di Kota Rembang ini juga memiliki tempat beribadah bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia. Masjid, Gereja, Klenteng, dan Wihara yang berdiri di desa ini seolah menegaskan bahwa perbedaan tak menjadi kendala untuk hidup rukun.

Melalui arsitektur di desa ini, kita bisa melihat perpaduan beragam budaya, agama, dan ras menjadi indah. Kuncinya yaitu hidup saling membantu dan satu tujuan menuju kebaikan.

Desa Karangturi mengajarkan bahwa perbedaan tidak menjadi pembatas di dalam kehidupan sosial masyarakat. Bisa dibilang desa ini adalah ikon toleransi di Indonesia. Beragam agama, etnis dan budaya bisa hidup saling menebar senyum tanpa memandang minoritas atau mayoritas, pun pribumi dan non pribumi.


(Denny Aprianto)


Visual Literasi: Cara Bikin Foto Bagus Melalui Konsep Visual

Written By Maulana Robby on Sabtu, 17 September 2016 | 12.42.00

Okky Ardya saat menyampaikan materi Visual Literasi di Teater Prof. Dr. Aqib Suminto lantai 2 Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Selasa, (6/9/2016).

Foto ternyata bukan hanya karya seni yang dapat dinikmati dengan melihatnya saja, foto juga dapat dibaca. Caranya dapat dipelajari melalui konsep visual literasi. Hal tersebut disampaikan oleh Okky Ardya, fotografer freelance yang menjadi narasumber dalam acara Seminar Visual Literasi yang diadakan di Teater Prof. Dr. Aqib Suminto lt.2 gedung Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Selasa (6/9/2016).

“Secara singkat, visual literasi itu cara bikin foto bagus melalui konsep visual,” jawab Okky ketika ditanya tentang visual literasi. Okky juga mengungkapkan betapa pentingnya visual literasi dalam dunia fotografi, khususnya untuk membantu orang agar lebih teliti lagi ketika melihat suatu foto. Hal ini berkaitan pula dengan kesadaran fotografer terhadap karyanya yang dipublikasikan.

Menurut Okky hasil foto yang bagus dari para fotografer ternama bukan karena kebetulan saja, melainkan karena kejeniusan mereka memahami visual literasi dan cara mereka menentukan momen. “Terkadang memang ada momen yang hanya datang sekali, yang membuat foto itu terlihat bagus. Namun, para fotografer yang memiliki pengetahuan visual literasi dapat membuat momen sehingga foto-fotonya bukan hanya sekadar kebetulan bagus,” jelas Okky.

Dalam menyampaikan materinya, Okky menampilkan foto dari para fotografer kenamaan seperti Steve McCurry, Ansel Adams sampai Constantine Manos. Wanita yang mengawali karirnya sebagai jurnalis ini mulai membedah detil dari tiap foto tersebut, dari titik, garis, warna, keruangan, kontras dan lainnya yang merupakan unsur-unsur visual literasi.

Okky mengapresiasi acara Seminar Visual Literasi yang diadakan oleh Jurnalistik angkatan 2013.  “Karena jarang sekali orang yang mau mempelajari visual literasi dan menariknya UIN merupakan salah satu kampus yang tertarik untuk mengadakan seminar ini,” tegasnya.

Atika Fauziyyah salah satu panitia acara mengatakan, tujuan diadakannya acara seminar ini untuk mengajak mahasiswa belajar bersama tentang visual literasi dari awal. Menurut ia seminar ini sangat penting karena di UIN sendiri tidak ada mata kuliah visual literasi. “Sangat disayangkan jika tidak ikut, karena tidak usah mengeluarkan uang untuk ikut acara ini,” tuturnya.

Joni salah satu peserta seminar dari Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta mengatakan, seharusnya acara seperti ini lebih sering diadakan, agar mahasiswa bisa menambah wawasan. “Supaya mahasiswa nggak cuma belajar di kelas dengan dosen yang itu-itu saja,” tegasnya.

Seminar Visual Literasi merupakan satu dari rangkaian acara dalam kegiatan Pameran Fotografi Jurnalistik angkatan 2013. Pameran Fotografi berlangsung dari tanggal 5-10 September 2016 di Aula Student Centre UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(Nawawi)

Solilokui: Ajak Berdialog Lewat Foto

Salah satu pengunjung sedang melihat foto di pameran Solilokui.
Foto bukan hanya sekumpulan pixel yang bersinergi membentuk sebuah gambar. Lebih dari itu semua, foto memiliki cerita di dalamnya.  Melalui foto pula, setiap fotografer berusaha menceritakan sesuatu dibalik sebuah karya. Hal inilah yang ingin disampaikan mahasiswa Jurnalistik angkatan 2013 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dengan menyelenggarakan pagelaran karya fotografi bertajuk Solilokui, Senin, (5/9/2016).

Kurator sekaligus dosen Fotografi Jurnalistik Rasdian A Vadin mengatakan, Solilokui ini adalah dialog secara personal yang bisa mengungkapkan atau menampilkan perenungan. “Perenungan bisa secara personal bisa juga refleksi dari keadaan lingkungan sekitar. Persoalannya macam-macam, bisa merespon kemiskinan, kondisi penggusuran dan lain sebagainya,” jelasnya.

Ketua panitia Denny Aprianto menjelaskan, pameran yang menampilkan 192 karya foto ini mengangkat berbagai macam isu, mulai dari isu ekomomi, budaya, sosial kemasyarakatan hingga politik. “Terkait hasil foto, masing-masing fotografer ingin menyampaikan pesan yang berbeda-beda di setiap karyanya,” kata Denny.

“Banyak foto yang unik salah satunya Bike for Life karya Agung Suryono, yang mengisahkan orang-orang yang hidup dengan sepeda atau bisa dibilang sepeda sebagai bagian dari kehidupannya. Ada juga ibu-ibu sukarelawan yang menjadi penjaga rel kereta,” ujar Denny.

Zaky salah satu pengunjung pameran mengaku sengaja datang untuk menyaksikan karya-karya yang dipamerkan di Aula Student Center (SC) UIN Syarif Hidayatullah ini setelah selesai mengikuti seminar yang juga merupakan bagian dari rangkaian acara. Mahasiswa yang suka denga fotografi ini merasa kagum dengan foto-foto yang dipamerkan.

“Fotonya bagus, konsepnya juga baru, inovatif, tempat pamerannya pun lebih baru dengan konsep dan desain interiornya, kemudian hasil foto-fotonya pun banyak pesan di dalamnya”, jelas Zaky.

Solilokui merupakan rangkaian acara yang berisi pameran foto, seminar serta screening film. Acara yang sudah diadakan empat kali ini merupakan puncak dari tugas  salah satu mata kuliah di jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yaitu Foto Jurnalistik.

(Robby Septyan Maulana)

Bernostalgia Lewat “Lampau”

Written By Maulana Robby on Rabu, 14 September 2016 | 10.19.00


Banyak cara untuk mengingat masa lalu, salah satunya dengan melihat foto yang pernah diabadikan. Foto juga dapat menjadi tempat berbagi dan bercerita tentang apapun yang sudah terjadi. Melalui foto pula, Komunitas Wajah Serpong Tempo Doeloe (WTSD) ingin mengajak masyarakat untuk mengingat kembali keadaan Serpong tempo dulu.

Bertempat di Car Free Day di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Minggu pagi (11/9) WTSD –komunitas yang pertama kali dicetuskan lewar jejaring sosial Facebook ini- melangsungkan pameran yang bertajuk “Lampau”.

Pendiri dan Ketua WTSD Syahrudin mengatakan, nama “Lampau” sendiri dipilih karena kata lampau itu mengartikan sesuatu yang sudah terjadi lama. “Materi kita random jadi kalau menggunakan kata Lampau itu cocok. Jadi tidak terfokus dengan satu aspek saja,” tambahnya.

Pada pameran ini lanjut Syahrudin, menampilkan antara lain 38 foto dan 1 video. Video yang berdurasi kurang lebih 30 menit ini menayangkan segala macam hal tentang wilayah Serpong pada zaman dahulu.

Dengan adanya pameran dan komunitas ini Syahrudin berharap bisa menjadi wadah kenangan warga Serpong dan menjadi jembatan silaturahmi. “Jadi saya pengennya sih dengan adanya komunitas dan pameran ini warga Serpong bisa bersilaturahmi karena sesungguhnya warga Serpong itu mayoritas saudara,” katanya.

Syahrudin juga mengajak masyarakat Serpong yang memiliki Facebook untuk bergabung dalam komunitas ini. “Search saja “Wajah Serpong Tempo Doeloe” di sana kita bisa berbagi kenangan, murni kenangan tanpa campur tangan politik, iklan dan segala hal yang berbau SARA karena menurut kami berbagi kenangan itu indah dan menyenangkan,” ujarnya.

Tidak hanya menampilkan memori masa lalu, WTSD -komunitas yang lahir sejak satu tahun lalu tepatnya 2 September 2015 ini- pun menyuguhkan berbagai macam makanan tradisional seperti Getuk, Talam, Gengsot, Ongol-ongol, Opak dan Tumbili. Tujuannya untuk mengingatkan kembali pada orang-orang akan makanan tradisional ini yang saat ini semakin terkubur dengan kepopuleran makanan-makanan modern.

(Red)

Puya ke Puya: Pertanyaan Tentang Surga

Written By Maulana Robby on Jumat, 03 Juni 2016 | 23.12.00


Kenapa surga diciptakan?

Sebagai manusia yang masih hidup, seharusnya kita mengetahui alasan surga diciptakan. Karena surga adalah tujuan akhir dan tempat dimana manusia akan menjalani kehidupan setelah kematian secara abadi. Di surga pula kita akan bertemu para leluhur.

Allu Ralla seorang anak Toraja yang baru saja kehilangan ambenya –atau biasa disebut ayah- dan rambu solo –upacara adat kematian masyarakat Toraja- harus digelar. Sebagai keluarga bangsawan, tentu rambu solo haruslah digelar secara besar-besaran dengan mempersembahkan puluhan kerbau dan ratusan babi. Sedangkan untuk merealisasikannya, tentu bukan perkara mudah. Terlebih bagi Allu Ralla yang sekarang menjadi kepala di keluarga kecilnya.

Sementara di dalam rahim pohon tarra, Maria Ralla pun memiliki kisah. Adik Allu yang meninggal ketika bayi ini tidak semata-mata ‘beristirahat dengan tenang’. Dia memiliki kehidupan lain dan diam-diam memerhatikan keluarganya yang sudah dia tinggal sejak lama. Bahkan ketika di dalam tubuh indo -Ibu (rahim pohon tarra)- sempat terjadi kekacauan, Maria Ralla ikut ambil andil.

Ambe mereka berdua, Rante Ralla, masih menggantung nasibnya. Orang-orang masih percaya dia sakit sampai digelarnya rambu solo, yang akan membawanya menuju nirwana. Padahal tubuhnya sudah tidak bernyawa. Sukmanya tidak tenang. Apalagi tanpa sepengetahuannya para leluhur sedang ramai-ramai menggosipkan dirinya dari atas sana.

Martabat keluarga Ralla harus dijunjung tinggi. Kematian Rante Ralla harus dirayakan besar-besaran. Karena jika tidak, aib keluarga akan ditanggung sehidup semati oleh keluarga yang masih tersisa.

Lolos sebagai pemenang keempat Sayembara Menulis Novel DKJ 2014 dan menjadi novel terbaik 2015 versi majalah Tempo, Puya ke Puya adalah satu buku andalan Faisal Oddang saat ini. Penulis yang masih berusia awal 20-an ini pun pernah menjadi penulis terbaik Kompas 2014 dan diundang ke Salihara International Literary Biennalle 2015. Di usianya yang masih sangat muda, Faisal telah melahirkan karya-karya yang luar biasa dalam bentuk puisi, novel, atau cerpen seperti contohnya Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon.

Novel ini mengisahkan adat Toraja yang sangat kental. Sebuah bentuk sentilan secara halus terhadap tradisi yang membuat manusia melakukan kejahatan di bawah tangan. Bisa dibayangkan ketika manusia, dalam hal ini Allu Ralla harus melakukan tindakan tidak pantas demi melangsungkan rambu solo untuk ambenya. Untung dia tidak sampai harus seperti Mr. Berth, orang asing yang akan meluluhlantakkan tanah warisan keluarga Ralla dan memiliki disorientasi ketertarikan terhadap lawan jenis.

Menarik ketika meneilisik beberapa fragmen kehidupan di buku ini. Mulai dari kehidupan di dunia, fase kematian, fase perjalanan menuju puya (surga), dan fase alam baka. Faisal mendeskripsikannya seolah-olah memang seperti itulah yang akan dialami manusia setelah meninggal. Di sisi lain Faisal juga menyentuh berbagai macam persoalan yang kemungkinan besar memang terjadi ketika adat dijadikan landasan hidup. Bukankah kita diminta untuk menjaga kelestarian adat? Adat seperti apakah yang benar-benar dimaksud di sini? Pertanyaan ini kemudian muncul dalam benak setelah menutup cover belakang Puya ke Puya.

Meskipun dalam beberapa hal, Faisal ‘seperti’ mengisahkan kasus yang sama – suasana dan kisah cinta di passiliran (kuburan bayi di pohon tarra) – seperti dalam cerpen Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon, itu tetap tidak mengurangi esensi keunikan dari cara dia bertutur di Puya ke Puya. Maka Puya ke Puya pantas direkomendasikan bagi pembaca penikmat sastra Indonesia abad ini. Tentu saja ini menyangkut substansi terhadap suatu pertanyaan tentang, kenapa surga diciptakan?

Judul               : Puya ke Puya
Penulis             : Faisal Oddang
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : Ke-1
Tahun Cetak     : 2015
Total Halaman  : 218
ISBN               : 978-979-91-0950-7

*Laras Sekar Seruni
Mahasiswi Jurusa Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Negeri Matahari Terbit di Blok M






Pemandangan berbeda terlihat di Blok M, Jakarta Selatan. Bunga Sakura, tulisan kanji, penjual yakisoba, tarian Eisa, dan orang-orang yang memakai kimono terlihat di sepanjang jalan Blok M Square. Suasana yang membuat seperti berada di Negara Matahari Terbit.

Ya, itu merupakan kegiatan yang diadakan kawasan Blok M pada 14 hingga 15 Mei 2016. Sebuah pagelaran kebudayaan yang dinamakan Little Tokyo Ennichisai Blok M. Festival yang memang rutin diadakan setiap tahunnya di kawasan yang sama sejak 2010.

Little Tokyo Ennichisai Blok M menyuguhkan berbagai macam kuliner, seni, dan kebudayaan Jepang tradisonal maupun modern. Dihadiri oleh ratusan ribu masyarakat yang tumpah ruah, diramaikan oleh stan-stan makanan maupun minuman, pernak pernik Jepang. Tidak ketinggalan berbagai  pertunjukkan tradisional seperti Mikoshi dan penampilan Eisa, serta pertunjukkan modern seperti band dan Costum player turut mewarnai acara ini. 

(Aldiansyah Nurrahman)

Cinta Tak Kenal A, B, dan C

Written By Maulana Robby on Senin, 23 Mei 2016 | 12.50.00


Pekerjaan peneliti itu cari-cari masalah, tetapi juga sesekali harus berani menyadari bahwa sebenarnya tidak ada masalah dengan yang ditelitinya. Itu adalah kalimat keyakinan yang dipegang Sarwono, seorang pria yang berprofesi sebagai Dosen Antropologi yang tidak jarang melakukan penelitian.

Sejak lulus SMA, Sarwono memutuskan melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Jakarta dari kota asalnya, Solo. Di Ibu Kota, ia menghidupi kebutuhannya sendiri, tidak ingin membuat repot keluarganya di kampung halaman. Penghasilan dapat dia raih dari upahnya sebagai penulis artikel dan puisi yang ia setor ke media-media cetak.

Kehidupan dosen muda ini tidak hanya bertahan untuk terus hidup dengan asupan jasmani tetapi juga soal rohani, yaitu asmara. Ia menjalin cinta dengan seorang gadis yang sama-sama berprofesi sebagai pengajar di tingkat perguruan tinggi, Pinkan namanya. Pinkan merupakan  adik dari teman semasa SMA-nya dulu, Toar Palenkahu. Perempuan yang memang sudah ditaksirnya sejak ia berseram putih abu-abu.

Menjalin rajutan kasih dengan Putri Palenkahu bukan tanpa halangan. Apalagi terdapat perbedaan suku dan agama dalam diri mereka. Sarwono pria yang berasal dari Solo, merupakan pria muslim taat. Sedangkan Pinkan, gadis perawakan blasteran, Ibu Jawa dan Bapak Menado,  seorang kristiani teguh. Hal ini menjadi warna sendiri dalam percintaan kedua dosen ini.      

Perbedaan itu dikhawatirkan mereka berdua menjadi tembok tebal yang tak bisa dirobohkan. Kecemasan muncul ketika meminta persetujuan orang tua mereka. Namun, pada kenyataanya ke dua orang tua mereka tak mempermaslahkan hal itu, malah menyerahkan semua ke diri mereka masing-masing.

Masalah justru datang dari kerabat Pinkan, mereka kerap kali menyudutkan Pinkan dengan berbagai pertanyaan tentang hubungannya dengan Sarwono, Barry salah satu kerabatnya pernah bertanya, apa Pinkan rela berkerudung? Tidak hanya itu, mereka mengharapkan Pinkan dipinang laki-laki yang mengajar di perguruan tinggi di Menado, laki-laki yang pernah kuliah di Jepang. Tetapi dengan guncangan dan harapan saudaranya itu, Pinkan tetap teguh tak tergoyahkan, tetap Sarwono sang Matindas. Matindas yang menururt legenda Menado adalah sosok pria pujaan kaum hawa. Ya, cinta tak mengenal a, b, dan c.

Tantangan hubungan tak hanya sampai di situ. Pinkan yang ditugaskan Kaprodinya ke Jepang untuk melanjutkan studi sekaligus mengajar di sana membuat hubungan ini semakin rumit. Bagaimana tidak, di Jepang sana ada si sontoloyo, Katsuo. Katsuo pria nihontulen yang dulu kuliah di Ibu Pertiwi, sekarang menjadi dosen di Jepang. Pria yang membuat Sarwono cemas, karena ketika di Indonesia ia sengat dekat dengan Pinkan.

Selama di tinggal sementara oleh Pinkan ke negeri Matahari Terbit, Sarwono mengalami konflik batin hebat. Kata-kata Pinkan seolah-olah selalu terdengar di telinganya.  Ia berusaha meyakinkan dirinya kalau Pinkan tetap setia padanya. Berusaha percaya si Katsuo tak macam-macam dengan gadis Menadonya.

Pikiran macam-macamnya itu memperburuk kesehatannya yang memang sudah mengidap penyakit paru-paru basah, dirawatah Sarwono di rumah sakit. Pinkan yang mendengar hal itu tanpa pikir panjang langsung kembali ke Indonesia menuju rumah sakit yang merawat Sarwono. Ketika sampai Pinkan tak dibolehkan masuk ke ruang perawatan. Ia hanya menunggu dan membaca puisi dari Sarwono yang dititipkan Sarwono ke ibunya.

Cerita ini mengisahkan dua orang muda-mudi cerdas, pintar, juga berprestasi. Cerita yang memberikan gambaran bahwa prestasi dan keahlian mentereng juga tidak mudah dalam merajut asmara. Si pria Sarwono yang pandai menulis artikel dan puisi, yang karyanya dapat menghasilkan uang, dosen muda Antropogi Universitas Indonesia (UI) yang kerap kali melakukan penelitian. Sedangkan Pinkan, perempuan muda yang sedari ia menjadi mahasiswa berprestasi karena sering dipilih menjadi mahasiswi kehormatan yang diberi mandat tertentu. Gadis yang sekarang berprofesi jua di UI sebagai dosen sasta Jepang yang saat ini mendapat mandat sementara ke Jepang dari kampus untuk melanjutkan studi dan mengajar di sana.

Sayangnya di novel ini terkadang dibeberapa kalimatnya tidak menerapkan faedah tanda baca. Jika diperhatikan, hal ini sengaja dilakukan Sapardi Djoko Damono dalam tulisannya. Kalimat yang sangat panjang tanpa tanda baca. Hal ini akan menjadi asik untuk sesorang yang biasa membaca novel khususnya yang nyentrik seperti ini. Tetapi bagi yang belum terbiasa akan sedikit membingungkan membaca kalimat-kalimat tertentu.

Perlu diketahui, buku Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono sebelum menjadi novel mempunyai perjalanan yang panjang. Awalnya dari puisi, menjadi lagu, kemudian komik, dan nanti film, kini beralih menjadi novel.

Judul               : Hujan Bulan Juni
Penulis            : Sapardi Djoko Damomo
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit     : Juni 2015
ISBN               : 978-602-03-1843-1
Tebal               : 135 Halaman

(Aldiansyah Nurrahman)

Hari Bumi, Diet Kantong Plastik hingga Sapu Danau

Written By Maulana Robby on Jumat, 22 April 2016 | 10.38.00


Untuk memperingati Hari Bumi beragam aktivitas lingkungan dilakukan agar meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Salah satu kegiatannya yakni kampanye diet kantong sampah.

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Arkadia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam penggunaan kantong plastik. “Kita harap masyarakat menggunakan kantong plastik secukupnya,” kata Ketua Pelaksana Muhammad Abdul Baits, Ciputat, Jumat (22/4/2016).

KPA Arkadia juga mengajak mahasiswa untuk berpartisipasi dalam kampanye diet kantong plastik di sekitar kampus. “Pada kegiatan ini setiap orang boleh menukar minimal tiga plastik dengan satu goodie bag dari kami,” ujar Muhammad.

Dalam seminar Kartini For Earth, Aktivis Perempuan Kohati Ciputat Ana, mengatakan perempuan harus memiliki kesadaran yang setara untuk juga berkampanye tentang lingkungan sehat. Perempuan juga harus memiliki semangat bergerak di bidang apapun.

Plastik, lanjut Ana, membutuhkan waktu 1000 tahun untuk melebur dengan tanah. Untuk itu ia mengajak masyarakat untuk lebih hemat dalam penggunaan plastik. “Mulai hari ini, mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, mari sama-sama kurangi penggunaan plastik,” ajaknya.

Keesokan harinya, KPA Arkadia dan 60 Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) dari berbagai kampus melakukan kegiatan Sapu Danau di Situ Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan.

“Banyaknya masyarakat yang membuang sampah sembarangan terutama sampah plastik di danau menjadi alasan pentingnya edukasi tentang penggunaan plastik secukupnya kepada masyarakat,” ungkap Muhammad.

Anggota Mapala Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI Depok Ratna, mengatakan hal ini merupakan langkah yang baik untuk menjaga kebersihan di sekitar danau dan juga sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi sesama mapala.

“Seru banget, orang-orangnya welcome jadi gue seneng ada disini, terus juga banyak yang bisa diambil dari acara ini, contohnya seperti jangan buang sampah sembarangan dan kalau ada sampah diambil, jangan di biarin saja,” ujar Ratna. (Romaida/Alboja).

Relokasi Pasar Ikan

Written By Maulana Robby on Jumat, 15 April 2016 | 11.37.00

Alat Berat

Mengawasi Pembongkaran

Pembongkaran

Mengais Sisa Bangunan

Reruntuhan
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menertibkan 569 bangunan di Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin 11 April 2016. Nantinya kawasan tersebut akan dijadikan wisata bahari.

Sebagai penggantinya, Pemerintah telah menyiapkan 115 unit rumah susun (rusun). Sebanyak 75 unit di Rusun Marunda dan 40 unit lainnya di Rusun Rawa Bebek.

Kawasan Pasar Ikan merupakan satu dari empat bagian yang akan direvitalisasi menjadi wisata maritim internasional oleh Pemda DKI Jakarta. Tiga kawasan lainnya yakni Kampung Akuarium, Kawasan Museum Bahari dan Kampung Luar Batang.



Atika Fauziyyah
*Mahasiswi Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta



Narasi Pembebasan Mata-mata Perang dingin

Written By Maulana Robby on Minggu, 07 Februari 2016 | 13.21.00


Tugas seorang advokat atau pengacara adalah memberi pendampingan hukum kepada kliennya. Namun bagaimana jika klien itu adalah seorang mata-mata? Hal tersebut dialami James Britt Donovan yang diperankan Tom Hanks dalam film Bridge of Spies. James merupakan seorang pengacara asal Amerika serikat. Ia menjadi pengacara Rudolf Abel, mata-mata Uni Soviet yang ditangkap agen Federal Bureau of Investigation (FBI).

Kegiatan spionase antara Amerika Serikat dan Uni Soviet gencar terjadi saat puncak perang dingin. Meski tidak terlibat perang terbuka di antara kedua militer, Amerika Serikat dan Uni Soviet takut akan potensi ancaman nuklir masing-masing. Untuk itu, keduanya saling memata-matai dan saling tangkap agen rahasia.

James awalnya ragu menerima tugas mendampingi proses hukum orang yang paling dibenci warga Amerika saat itu. Keluarga James pun menolak. Namun,  dengan segala pertimbangan James akhirnya mau menjadi pengacara Rudolf Abel. Atas keputusannya, James harus menanggung sanksi sosial yang cukup berat, yakni dibenci warga Amerika. Keluarganya juga menanggung hal itu dengan mendapat teror penembakan oleh orang tak dikenal.

Kisah James tidak berhenti sebagai pengacara kontroversial. Central Intelligence Agency (CIA) meminta James menjadi negosiator untuk menukar Rudolf Abel dengan Francis Gary Powers, pilot mata-mata Amerika yang pesawatnya ditembak jatuh Uni Soviet. Pertukaran tersebut mengharuskan James pergi ke Berlin, Jerman. Selain piawai menjadi pengacara, James juga berhasil menjadi negosiator andal. Alhasil, tak hanya mampu menukar Powers, James juga berhasil membebaskan Frederic Pryor, mahasiswa Amerika yang ditahan Jerman Timur.

Dalam film ini, Tom Hanks mampu memerankan sosok pengacara yang bijak, tegas, dan berani. Hal itu dapat dilihat saat James menolak membuka rahasia pembicaraan dengan kliennya kepada seorang agen CIA. James benar-benar menerapkan asas profesionalitas dengan menjaga hak istimewa klien dan pengacara. Tentu saja, semua itu berkat arahan sang sutradara kenamaan, yakni Steven Spielberg.

Perlu diketahui film berdurasi lebih dari dua jam ini diambil dari kisah nyata. Latar film ini memberi kita gambaran kecil mengenai kondisi maupun kejadian-kejadian pada saat perang dingin. Steven Spielberg juga merangkai alur cerita begitu menguras emosi penonton. Misalnya saja saat adegan pesawat Amerika yang ditembak jatuh atau saat pembangunan tembok berlin yang memisahkan warga Jerman Barat dan Timur.

Kemudian, secara tidak langsung film ini memberi citra bahwa Amerika sebagai negara adidaya yang menghargai hukum dan kemanusiaan. Meski Rudolf Abel seorang mata-mata, ia tetap diperlakukan baik selama proses peradilan. Sementara berbeda dengan penggambaran Francis Gary Powers yang ditahan Soviet. Powers diperlakukan kurang begitu menyenangkan oleh pihak komunis Soviet. Walau demikian, setidaknya film ini memberi kita pelajaran tentang profesionalitas kerja dan kecintaan terhadap negara. (KR)


Sutradara : Steven Spielberg

Produser : Kristie Macosko Krieger, Marc Platt, Steven Spielberg

Produksi : Amblin Entertainment, DreamWorks Pictures, Fox 2000 Pictures, Reliance Entertainment

Pemain Film : Tom Hanks, Mark Rylance, Amy Ryan, Alan Alda

Rilis  : 16 Oktober 2015 (USA)


Baca juga:
Long March 50 mil Untuk Mendapatkan Hak Memilih
Harga Sebuah Kebenaran
Kisah Budak Belian Merebut Kemerdekaan

    Bingkai Cerita Drupadi

    Written By Maulana Robby on Selasa, 26 Januari 2016 | 08.39.00



    Terkadang luka masa lalu memang tidak bisa sepenuhnya terhapuskan. Ada yang menjadi endapan kisah yang sulit untuk kembali diceritakan. Bisa jadi karena terkait dengan kekasih atau keluarga dekat. Namun kali ini sumber utama dari kekejian malah dilakukan oleh negara sendiri.

    Ada luka karena kehilangan, ada juga luka yang tumbuh karena harus menanggung karma. Melewati kehidupan berbeda di masa yang berbeda, namun hakikat jiwanya ialah satu. Sesuatu yang dipercayai bernama inkarnasi.

    Can. Begitu kerap ia disapa. Tokoh pria ini memiliki ciri khas di masing – masing cerpen dalam Drupadi. Hampir di setiap cerpen tersebut mengandung makna tersirat tentang kepedihan yang tertoreh karena tragedi tahun 1965. Kemudian di bagian kedua, Drupadi menyajikan kumpulan kisah inkarnasi yang benar-benar dialami oleh para tokoh.

    Yang menarik adalah ketika Can harus mewawancarai keluarga dari korban tragedi tahun 1965. Meskipun memilik basic seorang wartawan, mencungkil kisah tentang masa lalu yang kelam bukanlah perkara mudah. Apalagi ini terkait dengan suatu keambiguan dalam realitas yang kerap tertanam dalam benak para keluarga korban.

    Drupadi bukanlah buku pertama Putu Fajar Arcana. Sudah banyak buku tunggal yang dia lahirkan. Sebut saja kumpulan cerpen Bunga Jepun (2002), Samsara (2005), novel Gandamayu (2012) yang bahkan sempat dipentaskan oleh Teater Garasi di tahun yang sama. Sedangkan karya-karyanya yang lain tersebar di berbagai antologi karya. Saat ini ia menduduki posisi sebagai Editor Harian Kompas Minggu.

    Drupadi berhasil disuguhkan dengan sentuhan kepedihan mendalam dan penyesalan di masa lalu dengan elegan.  Coba saja tengok cerpen Kado yang Terlambat. Di situ Can sangat paham bagaimana menciptakan sebuah alur yang kerap menjadi misteri bagi pembaca. Kemudian dengan anggunnya cerpen ini ditutup oleh fakta yang mengejutkan. Begitupun dengan cerpen Drupadi di bagian kedua.

    Bisa dibilang, kelemahan buku ini hanyalah terletak pada inti cerita yang hampir sepenuhnya sama, yaitu tentang tragedi kemanusiaan, namun dikemas dalam balutan kisah dan tokoh yang berbeda. Tapi tidak berarti hal tersebut mengurangi nilai yang terkandung dalam setiap cerita. Rangkaian kisah yang tertuang akan membuat setiap yang membacanya semakin menyadari arti hidup dan kebersamaan.

    Judul             : Drupadi
    Penulis           : Putu Fajar Arcana
    Penerbit         : Penerbit Buku Kompas
    Cetakan         : ke-1
    Tahun Cetak   : 2015
    Total Halaman: 152 hlm
    ISBN              : 978-979-709-984-8



    Laras Sekar Seruni (Mahasiswa Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
     
    Copyright © 2011. Catatan Jurnalistik - All Rights Reserved

    Distributed By Free Blogger Templates | Tum hi ho lyrics | How to get rid of hiccups

    Proudly powered by Blogger